A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: file_get_contents(http://xml.kompas.com/data/banner_on_keyword/on_keyword.php) [function.file-get-contents]: failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found

Filename: controllers/read.php

Line Number: 346

Melarung Sesaji, Mengharap Berkah - KOMPAS.com
Rabu, 3 September 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 3 September 2014 | 04:13 WIB
Melarung Sesaji, Mengharap Berkah
Penulis: | Senin, 25 Juli 2011 | 17:40 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Kompas/JB Kristanto

Oleh Azis Senong

Di beberapa daerah pantai pesisir Pulau Jawa, banyak ditemukan tradisi masyarakat nelayan melarung sesaji di laut. Isi sesaji yang dilarung pun beragam. Ada yang melarung kepala kerbau, berbagai jenis panganan dan sebagainya.

Namun melihat makna dari tradisi ritual tersebut rata-rata memiliki kesamaan. Para nelayan melarung sesaji dengan tujuan agar dalam melaut untuk menangkap ikan, penguasa alam dapat memberikan rezeki berkelimpahan dan menjauhkan murka alam atau bahaya laut dari nelayan.

Warga nelayan di Pulau Makassar, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), memiliki tradisi melarung sesaji yang disebut "tuturangiana andala". Tradisi ini digelar warga Pulau Makassar, sekali setahun pada setiap kali musim paceklik ikan.

Warga Pulau Makassar kembali menggelar tradisi ritual ’tuturangiana andala’ atau melarung sesaji di tengah laut.

Gubernur Sultra, H Nur Alam dan Wali Kota Baubau Amirul Tamim serta puluhan turis asal Amerika Serikat ikut menyaksikan prosesi pelaksanaan tradisi ritual warga nelayan tersebut yang berlangsung beberapa hari lalu.

Tetuah adat Pulau Makassar, Abdul Hamid (55), memulai ritual tersebut dengan ’batata’ atau permohonan kepada penguasa alam ghaib sekitar wilayah pesisir agar dapat menerima persembahan masyarakat nelayan pulau itu.

Mendahului acara ritual ’batata’ tersebut, para tokoh adat menyiapkan sesaji berisi berbagai jenis hasil pangan khas daerah setempat seperti cucur, onde-onde, sanggara (dari pisang), waje (beras ketan), nasi, telu ayam serta daun sirih, pinag dan sebagainya dalam empat tempat rakit  bambu ukuran setengah meter persegi.

Usai ’batata’ tetuah adat dibantu beberapa tokoh adat melanjutkan ritual dengan menyembelih kambing yang telah disiapkan  tersebut, dibawa ke tengah laut dengan diiringi pukulan gong dan gendang.

Tiba di tengah laut, sesaji tersebut dilarung di empat titik atau tempat di tengah laut yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat.

"Tuturangiana andala ini merupakan tradisi peninggalan nenek moyang kami. Tradisi ini digelar sekali dalam setahun, biasanya pada setiap kali terjadi musim paceklik ikan," kata Abdul Hamid, seusai memimpin ritual tersebut.

Ungkapan pada pencipta

Keterangan serupa juga diungkapkan Masudin (45), tokoh adat Pulau Makassar lainnya. Menurutnya, ritual ’tuturangiana andala’ itu sebagai ungkapan permohonan masyarakat nelayan kepada penguasa alam laut agar melimpahkan rezeki dan menjauhkan marabahaya dari para nelayan setempat dalam berlayar menangkap ikan.

Isi sesaji berbagai jenis panangan khas daerah disertai daun sirih dan pinang, sebagai bentuk rasa syukur warga kepada penguasa laut yang telah memberikan kehidupan bagi keluarga para nelayan.

Leluhur masyarakat Pulau Makassar kata Masudin, memaknai musim paceklik ikan sebagai kemarahan penguasa alam laut kepada para nelayan yang hanya menangkap ikan di laut tanpa memberikan sesuatu kepada alam laut.

Demikian pula dengan bahaya gelombang laut disertai tiupan angin kecang yang sering menenggelamkan perahu para nelayan, sebagai bentuk murka penguasa laut kepada para nelayan yang menggantung hidup dari hasil laut.

"Sesajen itu dibuat dalam empat tempat dan dilarung di empat lokasi karena masyarakat Pulau Makassar meyakini penguasa alam berada di empat penjuru arah mata angin, barat, timur, utara dan selatan. Diharapkan, setelah sesajen itu dilarung, penguasa alam laut di empat penjuru mata angin segera melimpahkan rezeki dan menghilangkan bahaya gelombang laut," katanya.

Biasanya ujar Masudin, setelah warga nelayan menyelenggarakan ritual ’tuturangiana andala’ tersebut, hasil tangkapan ikan para nelayan mulai melimpah dan bahaya gelombang laut disertai tiupan angin kencang segera berkurang.

Makanya, masyarakat nelayan Pulau Makassar, hingga saat ini masih terus menyelenggarakan tradisi ritual ’tuturangiana andala’ peninggalan para leluhur itu.

Pulau Makassar, merupakan pulau kecil yang terletak di selat Buton, hanya berjarak sekitar lima mil laut dari Kota Baubau.

Diberi nama Pulau Makassar, karena pulau berpenduduk sekitar 7000 jiwa itu, dalam cacatan sejarah Buton, pernah menjadi tempat berlindungnya para tentara kerajaan Goa di Sulawesi Selatan saat berseteru dengan pihak Kesultanan Buton di Kota Baubau.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono