Senin, 1 September 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 1 September 2014 | 20:38 WIB
Sejarah Kereta Api di Indonesia
Penulis: | Kamis, 21 Juli 2011 | 10:04 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Oleh Wuryanti Puspitasari

Kereta api merupakan salah satu moda transportasi yang sangat digemari oleh masyarakat di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dan mereka yang tinggal di Ibu Kota Jakarta.

Kereta api bukan hanya alternatif pilihan transportasi rakyat yang murah, tetapi juga bebas dari kemacetan jalan raya ibu kota yang semakin membuat sakit kepala.

Di masa kini, kereta api bukan hanya pilihan bagi mereka yang berekonomi menengah ke bawah, tetapi juga menjadi gaya hidup mereka yang "berduit" tetapi mencari kepraktisan serta kenyamanan untuk mencapai tempat tujuan.

Meski demikian, tidak banyak yang tahu jika sejarah perkeretaapian memiliki sejarah yang sangat panjang di Indonesia.

Dalam pengertiannya, kereta adalah serangkaian kendaraan yang berjalan di atas roda dan baik ditarik oleh sebuah lokomotif ataupun memiliki mesin pendorong sendiri yang berjalan di atas rel, yakitu sebuah jalur yang menuntun jalannya kereta.

Ide pembangunan jaringan kereta api dikemukakan oleh Kolonel Jhr Van Der Wijk pada 15 Agustus 1840 karena menurutnya, pembangunan jaringan kereta api di Eropa berhasil mengatasi masalah pengangkutan.

Selain itu, kereta api dinilai akan memberikan keuntungan di bidang pertahanan.

Maka, ia mengusulkan pembangunan jalur rel kereta api Jakarta-Surabaya lewat Surakarta-Yogyakarta-Bandung lengkap dengan simpangannya.

Usulan tersebut diterima oleh Pemerintah Belanda, tetapi jalur yang dipilih adalah Semarang-Surakarta-Yogyakarta.

Keputusan tersebut belum dapat segera direalisasikan dan terus menuai perdebatan mengenai pihak yang akan membangun dan jalur yang akan dilalui.

Setelah dilakukan berbagai upaya untuk mengatasi perdebatan, tahun 1862 Pemerintah Belanda menerbitkan konsesi kepada Nederlandsch-Indische Spoorweg-Mattschapij (NISM), pembuatan jalan kereta api dimulai dari Semarang.

Kereta pertama

Pada 17 Juni 1864, Gubernur Jenderal Hindia Belanda LAJ Baron Sloet Van Den Belle melakukan upacara pencangkulan pertama pembangunan jalan kereta api di Semarang.

Pembangunan diprakarsai oleh NISM yang dipimpin oleh JP de Bordes dan dalam tiga tahun sudah diselesaikan jalan sepanjang 26 kilometer dari Semarang sampai ke Desa Tangoeng atau yang sekarang dikenal dengan Desa Tanggung, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Ruas jalan ini dibuka untuk umum pada 10 Agustus 1867 dan berhasil diluncurkan kereta api pertama di Indonesia.

Dalam pembangunan jalur kereta api muncul banyak kesulitan baik finansial maupun bencana yang menimpa para pekerja sehingga Pemerintah Belanda terjun langsung mendirikan perusahaan Staat Spoorwagen (SS).

Jalur rel pertama yang dibangun SS adalah Surabaya-Pasuruan sepanjang 115 kilometer yang diresmikan pada 16 Mei 1878.

Setelah itu, semakin banyak bermunculan perusahaan kereta api swasta.

Panjang jalan kereta api tumbuh dengan pesat dari 110 kilometer pada tahun 1870 menjadi 3.338 kilometer pada tahun 1900.

Selain di Jawa, pembangunan rel kereta api juga dilakukan di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), Sulawesi (1922), dan lain sebagainya.

Pelestarian kereta

Kepala Pusat Pelestarian PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) Ella Ubaidi mengatakan, pada saat ini PT KAI  bersama dengan Direktorat Peninggalan Purbakala, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tengah melakukan kegiatan inventarisasi dan pendokumentasian perkeretaapian.

Kegiatan tersebut dilakukan selama tiga tahun sejak 2010 hingga 2012 mencakup bangunan perkeretaapian termasuk stasiun pendukungnya baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak digunakan.

"Sebagian bangunan tersebut masih memperlihatkan keasliannya, tetapi juga ada yang mengalami perubahan. Kegiatan ini merupakan langkah awal untuk memulai upaya pelestarian peninggalan purbakala khususnya yang terkait dengan perkeretaapian walaupun pelestarian terhadap beberapa bangunan telah dilaksanakan sebelumnya," katanya.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan Pariwisata Suroso mengatakan, kegiatan tersebut merupakan upaya pemerintah untuk melestarikan sejarah peradaban bangsa.

"Seiring berkembangnya peradaban, perkeretaapian memiliki peran penting bagi perkembangan peradaban terutama di wilayah sekitar jalur kereta api," katanya.

Menurut dia, umumnya wilayah tersebut berkembang menjadi daerah yang ramai bahkan menjadi kota.

Dengan adanya stasiun, akses ke suatu wilayah menjadi terbuka, perekonomian meningkat, serta mobilitas penduduk dan pemukiman terpacu.

"Perkembangan peradaban transportasi perkeretapian Indonesia yang sudah berkembang sejak lama merupakan bagian dari warisan budaya bangsa Indonesia yang harus dilestarikan," katanya.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono