Rabu, 19 Juni 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 19 Juni 2013 | 19:12 WIB
The Paijo Family -21
Berlayar Mengarungi Malam
Penulis: | Selasa, 28 Juni 2011 | 13:05 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

flickr.com
Ilustrasi

Cerita bersambung Jodhi Yudono

Pay membatin. Siapakah mereka yang mukim di gang pengap ini? Dari mana mereka berasal. Apa cita-cita mereka ketika masih kecil, sehingga mereka nyangkut di tempat serupa ini?

Sekeluarnya dari kantor Robert, Pay benar-benar dihinggapi kegalauan.  Di benaknya kini berpusing-pusing berbagai peristiwa dan tawaran-tawaran hidup. Ada di sana wajah Winda dengan mata yang penuh pesona; ada Robert yang kaya, yang mengasihi adiknya secara berlebihan dan punya potensi untuk menjadi mahluk yang berbahaya; ada masa depannya yang gemilang sebagai pengelola Kafe Amarta; dan sudah asti ada bayang-bayang Onah serta Ijah yang telah menemani kehidupannya selama ini.

Itulah sebabnya, sengaja dia tak langsung pulang. Dia ingin menemui seseorang yang kepadanya Pay bisa bercerita tentang apa saja, termasuk tentang persoalan yang sedang dihadapinya.

Mira, ya.. perempuan muda yang baru lulus kuliah dari sebuah perguruan tinggi ternama itu belakangan memang menjadi karib Pay dalam bercerita. Itulah sebabnya, saat telah berada di Taman Ismail Marzuki (TIM) Pay langsung menghubungi Mira melalui telepon selulernya.

Soal Mira, kepada istrinya, Pay juga pernah berterus terang bahwa perempuan muda itu hanya teman semata. Teman berbagi cerita, juga teman berbagi cita-cita. Barangkali, pada kemudaan usia Mira, Pay menemukan spirit untuk menciptakan karya seni. Barangkali juga, dari Mira, Pay dapat lebih mengerti tentang sisi lain kehidupan kota Jakarta yang selama ini belum dikenalinya, seperti yang hendak dia jumpai siang ini di sebuah sudut kota Jakarta.

"Bisa ke TIM sekarang?" ujar Pay tanpa basa-basi melalui HP.
"Bisa, tapi kasih aku waktu satu setengah jam untuk sampai di situ. Sekarang aku di daerah Grogol, sebentar lagi mau ke Kampung  Duri, ada dampinganku yang butuh obat," jawab suara dari seberang.
"Kalau begitu, biar aku aja yang nyusul kamu ke situ. Kita bareng-bareng ke Kampung Duri. Klik." Tanpa menunggu jawaban dari Mira, Pay langsung bergegas mencari ojek buat menyusul Mira.

Dari TIM ke Grogol hanya butuh waktu 20 menit dengan ojek. Selanjutnya Pay langsung bergabung dengan kawan-kawan aktivis peduli korban narkoba dan penderita HIV. Mereka adalah Andika, Wulan, dan tentu saja Mira.

Sambil menembus jalanan kota Jakarta yang macet dengan berkendara mobil milik Mira, Pay terus bertanya kepada Andika, kapan saatnya jalan lurus, kapan saatnya berbelok, jika menemui perempatan jalan.

Tapi siang itu, Andika benar-benar menjadi seorang navigator yang payah. Karenanya, Pay harus menerima kekesalan pengendara lain di belakang yang jalannya kena serobot Pay lantaran Andika secara mendadak menyuruhnya agar berbelok kiri.

Mendadak Pay ingat perkataan seorang teman bernama  Simon Widodo, seorang fotografer di sebuah tabloid. Katanya, nyali seorang pendatang seperti Pay baru teruji jika sudah berkendara di jalanan kota Jakarta yang sumpek dan semrawut.

Ya, ya...pendapat itu bisa jadi ngawur. Tapi boleh jadi benar. Ngawur karena tanpa riset mendalam. Benar, karena pengalaan telah mengajarkan, mereka yang sigap dan gesit, termasuk di jalanan kota ini, adalah mereka yang biasanya survive. Atau paling tidak, bisa lebih cepat sampai ke tujuan.

Diiin! Diiin! Treeeet...!

* * *

Lepas dari jalan lebar yang mampu menampung empat mobil, selanjutnya mereka masuk ke sebuah jalan sempit yang mengharuskan pengendara mobil berhati-hati jika berpapasan dengan mobil lain agar tak saling berserempetan.

Memasuki jalan sempit yang diapit oleh selokan dengan airnya yang aneka warna oleh limbah kimia, Pay mulai merasakan gambaran hitam dari kota Jakarta.

Di sini, di jalan menuju Kampung Duri, wajah Jakarta benar-benar kusam. Selain air got yang berwarna-warni dengan aroma yang tak sedap, rumah-rumah di Kampung Duri pun berhimpitan tanpa ventilasi yang sempurna.

Udara di tengah musim kemarau tahun ini pun kian menekan perasaan dengan sengatannya yang terrasa membakar kulit.

Setelah memarkir mobil, Wulan kemudian gantian jadi komandan. Ia memimpin rombongan memasuki gang senggol menuju rumah Jono, salah seorang dampingan Wulan yang telah terjangkit virus HIV Aids.

Mereka terus berendeng memasuki gang tanpa sinar matahari. Sebuah gang dengan rumah-rumah yang saling berhimpitan yang menghalangi sinar surya mengelus lembut kulit penghuni gang tersebut.

Pay membatin. Siapakah mereka yang mukim di gang pengap ini? Dari mana mereka berasal. Apa cita-cita mereka ketika masih kecil, sehingga mereka nyangkut di tempat serupa ini?

Pertanyaan-pertanyaan Pay itu mendadak buyar oleh jerit tangis anak kecil yang menyeruak dari sebuah rumah. Lalu berturut-turut, pemandangan asing pun bermunculan.

Setelah melewati dua tikungan, mereka berjalan lurus, sebelum akhirnya sampai di jalan buntu, tempat Jono (bukan nama sebenarnya) dan ibunya yang telah tua, bermukim.

Ketika mereka berjumpa dengan Jono di ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai kamar tidur, serombongan anak muda dengan mulut-mulut yang kacau bunyinya, mendadak muncul entah dari mana.

Tapi rupanya mereka yang dari mulutnya tercium bau alkohol itu segera mafhum, karena bersama mereka yang baru datang ada Wulan dan Andika yang rupanya telah mereka kenal.

Wulan, si mantan pencandu putaw yang pernah melewati hidup nan amburadul tiga tahun lalu, di mata Pay siang itu berubah menjadi seorang peri yang baik hati. Secara sabar ia meminta kepada Jono untuk menghabiskan obat yang diberikan dokter untuk setidaknya memperpanjang umurnya.

Diberikannya kepada Jono, zortrim (toxo, untuk mencegah penyebaran virus di otak dan mencegah jamur di paru karena Jono punya pneumonia) dan vitamin B yang berguna untuk menambah nafsu makan.

"Ini vitamin B, diminum tiga kali sehari. Ini zortrim, diminum dua kali sehari," kata Wulan lembut kepada Jono. Ibunda Jono yang juga sedang sakit, cuma memandang haru ke arah Wulan.

Setelah Wulan merayu Jono untuk meminum habis obat-obatan itu, perempuan tua itu pun turut bicara, "Kamu beruntung, masih ada Mbak ini yang perhatian sama kamu. Dengerin itu, dihabisin obatnya biar cepet sembuh."

Di luar dugaan, Jono menyahuti perkataan bundanya. "Ah, kalau saya sih tinggal mesenin kain kafan saja."

Pay yang sebelumnya sudah tahu dari Wulan tentang penyakit yang diderita Jono, tak kaget dengan pernyataan Jono. Sementara ibundanya, ia pun menanggapi biasa-biasa saja. Oleh kepahitan hidup yang menelikungnya barangkali, telah membuat perempuan tua itu kebal terhadap kengerian sebuah kematian.

Jono memang positif terkena Aids. Pada pemeriksaan terakhir, CD4 Jono memang amat rendah, yakni di bawah 50. CD 4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. CD 4 pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4 semakin lama akan semakin menurun.

Seharusnya Jono sudah menggunakan pengobatan ARV (Anti Retro Viral), obat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Namun karena mahalnya obat tesebut, maka Jono yang tak sanggup membeli obat itu pun menjadi putus asa.

Padahal, menurut Wulan, Jono amat membutuhkan CD4 itu. "Jika tidak mengkonsumsi obat tersebut, akan makin memperburuk kondisi Jono. Akan muncul inveksi oportunistik dan membuat kondisi parunya semakin jelek," ujar Wulan setelah pamit dari rumah Jono.

Dalam perjalanan pulang Wulan sempat cerita, betapa Jono sempat sedih ketika tahu CD4 di tubuhnya rendah. "Dia kira akan segera mati. Padahal, apabila dia mampu beli obat itu, obat tersebut akan membantu kekebalan tubuhnya dan memperpanjang hidupnya," ucap Wulan.

Ah, entah kepahitan hidup macam apa lagi yang bakal singgah di hati ibunda Jono. Bayangkanlah, kini Jono sakit parah. Sementara adik Jono--karena kasus narkoba--kini sedang mendekam di penjara. Akankah Ibu Jono yang kena stroke itu merana sendiri, sabab setelah suaminya tiada, ajal tak lama lagi juga bakal menjemput Jono.

* * *

Setelah mengantar Wulan dan Andika kembali ke kantornya, di Grogol, Pay baru punya kesempatan berdua dengan Mira.

"Ke mana kita Mir?"
"Loh, kok nanya saya. Terserah Mas. Besok saya gak ada kegiatan."
"Kita berlayar mengarungi malam hingga pagi?"
"Siapa takut. Sudah bilang ke Mba Ijah dan Onah kalau mas pergi sama saya?"

Pay menepikan mobil. Da menuruti permintaan Mira untuk menelpon orang rumah.
"Aku sama Mira, mungkin sampai pagi. Nih bicara sendiri sama yang bersangkutan," diserahkan hape ke Mira.
"Ya, Mbak. Beres... akan saya jaga Mas Pay. Ok, mbak. Wa'alaikum salam."

Sebuah sepeda motor mendadak memotong jalan mobil yang dikendarai Pay dan Mira. Derit rem yang diinjak secara mendadak, menjadi komando bagi kendaraan lain di belakang Pay untuk juga berhenti secara tiba-tiba.

Ciiiiiiitttttttttttttt......

Editor :
Jodhi Yudono