Sabtu, 26 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Juli 2014 | 02:38 WIB
Cerpen Pilihan Kompas
Dodolitdodolitdodolibret Cerpen Terbaik
Penulis: Pepih Nugraha | Senin, 27 Juni 2011 | 22:04 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

JAKARTA, KOMPAS.com - "Dodolitdodolitdodolibret" karya Seno Gumira Ajidarma terpilih sebagai cerita pendek (cerpen) terbaik Kompas 2010 yang diumumkan pada penganugerahan Penghargaan Cerpen Kompas 2011 di Bentara Budaya Jakarta, Senin (27/06/2011) malam. "Dodolitdodolitdodolibret" menyisihkan 17 cerpen lainnya yang dipilih dari 52 cerpen sepanjang tahun 2010.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, ke-18 cerpen itu kemudian dibukukan dengan judul yang sama dengan karya terpilih Seno, "Dodolidodolidodolibret". Cerpenis lain yang karyawanya terpilih antara lain Budi Darma, Ratna Indraswari Ibrahim (alm), Indra Tranggono, Agus Noor, dan Timbul Nadeak.

Pesan singkat "Dodolitdodolitdodolibret" yang menurut pengamat sastra Arif Bagus Prasetyo tidak lebih dari 40 alinea itu mengenai pluratis makna kebenaran beragama. Lewat tokoh Guru Kiplik, cerpen ini memberi pesan kuat bahwa seseorang jangan mudah mengkalim agamanya sebagai paling benar dan menganggap sesat agama lain, juga jangan menganggap pemahaman diri tentang agamanya sebagai yang paling benar di antara pemahaman-pemahaman orang lain.

"'Dodolitdodolitdodolibret' adalah cerita yang sederhana, tetapi kompleks. Di dalamnya terkandung potensi kekayaan makna yang berlapis-lapis, yang mengundang pembaca untuk menggali dan mengaktualkannya lewat kerja interpretasi," tulis Arif dalam epilog buku yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas ini. 

Lewat tokoh Guru Kiplik yang pandai mengajarkan orang lain "cara berdoa yang benar", sang guru kemudian menghadapi kenyataannya bahwa orang yang pernah diajarinya berdoa secara benar tetapi mereka merasa berdoa secara salah, justru karena cara berdoa yang salah itulah mereka bisa berjalan di atas air. Dalam paradigma dongeng, cara "berdoa yang salah" itulah yang justru benar. Cerpen yang singkat ini kemudian "diterjemahkan" dan dipentaskan oleh Teater Garasi. 

Dalam kesempatan yang sama Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas St Sularto mengumumkan Penghargaan Kesetiaan Berkarya yang tahun ini jatuh kepada cerpenis Yanusa Nugroho. Penghargaan serupa sebelumnya diterima Kuntowijoyo, Danarto, Gus Tf Sakai, Budi Darma, dan Ratna Indraswari Ibrahim. Sedang Seno sendiri perrnah meraih penghargaan serupa (cerpen pilihan) sebelumnya di tahun 1993 dan tahun 2007.

Ketua Panitia penghargaan Cerpen Pilihan Kompas 2010, Putu Fajar Arcana mengungkapkan, setiap hari sedikitnya ada 10 cerpen diterima redaksi yang bila dirata-ratakan dalam setahun terkirim lebih dari 3.600-an cerpen. Padahal, hanya sekitar 50-an cerpen saja yang bisa dimuat Harian Kompas dalam setahun. 

Acara Penghargaan Cerpen Kompas 2011 ditutup oleh kolaborasi tiga seniman berbeda tetapi menjadi "satu jiwa", yakni gitaris Dewa Bujana, komponis dan dalang Sujiwo Tejo, dan sinden kontemporer yang sedang naik daun, Soimah Pancawati.    

Berikut 18 Cerpen Pilihan Kompas 2010, angka bukan menunjukkan peringkat:

1. Dodolitdodolitdodolibret (Seno Gumira Ajidarma), 2. Pengunyah Sirih (S Prasetyo Utomo), 3. Ada Cerita di Kedai Tuak Martohap (Timbul Nadeak), 4. Ada Yang Menangis Sepanjang Hari (Agus Noor), 5. Kue Gemblong Mak Saniah (Aba Mardjani), 6. Menjaga Perut (Adek Alwi), 7. Di Kaki Hariana Dua Puluh Tahun Kemudian (Martin Aleida), 8. Sepasang Mata Dinaya Yang Terpenjara (Ni Komang Ariani), 9. Klown dengan Lelaki Berkaki Satu (Ratna Indraswari Ibrahim), 10. Solilokui Bunga Kemboja (Cecilia Oday), 11. Sonya Rury (Indra Tranggono), 12. Tukang Obat Itu Mencuri Hikayatku (Herman RN), 13. Ordil Jadi Gancan (Gde Aryantha Soethama), 14. Rongga (Noviana Kusumawardhani), 15. Lebih Kuat dari Mati (Mardi Luhung), 16. Ikan Terbang Kufah (TriyantoTriwikromo), 17. Sirajatunda (Nukila Amal), 18. Pohon Jejawi (Budi Darma).

Editor :
Pepih Nugraha