A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: file_get_contents(http://xml.kompas.com/data/banner_on_keyword/on_keyword.php) [function.file-get-contents]: failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found

Filename: controllers/read.php

Line Number: 346

Pikiran yang Harus Merdeka - KOMPAS.com
Rabu, 30 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 30 Juli 2014 | 16:04 WIB
Pikiran yang Harus Merdeka
Penulis: | Senin, 27 Juni 2011 | 08:11 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

istimewa
ilustrasi: Rahwana dan Sita

Oleh : Viddy AD Daery  *) penulis novel “Pendekar Sendang Drajat Memburu Negarakertagama”.

Pertama-tama, sebelum saya menulis uraian lebih lanjut, saya ingin memohon maaf sebesar-besarnya dan setulus-tulusnya kepada segenap saudara ummat Hindu Bali pada umumnya,dan khususnya kepada Saudara Ketut Budiasa dan saudara-saudara komentator lain yang merasa tersinggung amat hebat dengan isi tulisan saya dalam judul “Antara Gajah Mada dan Rahwana” dalam situs online www.kompas.com.

Sesungguhnya,apabila siapapun membaca tulisan itu dengan cermat,akan terlihat bahwa saya sedang tidak menghina saudara ummat Hindu Bali,karena:

1. Tulisan saya jelas membicarakan isi buku novel “Rahuvana Tattwa”, karya Agus Sunyoto, terbitan LkiS Yogja 2006. Paragraf mengenai “Weda” dalam konteks pandangan kaum Drawida tersebut tersirat dan tersurat dalam novel “Rahuvana Tattwa” halaman 61-65 , jadi sama sekali bukan pandangan saya. Dengan kata lain, itu adalah “pandangan novel tersebut”. Dan memang tujuan utama saya bukan menulis mengenai benar atau salahnya”Weda”,karena memang bukan itu tujuan tulisan saya. Toh begitu,saya sudah “memperhalusnya” dengan tanda kutip ( “...” ) di sana-sini,untuk memberi aksen, bahwa hal itu mungkin mempunyai konteks khusus.

2. Konteks khusus tersebut, boleh jadi adalah sudut pandang “Drawida” menyebut “Weda yang ditambah-tambahi/atau telah dirusak”, jadi dengan demikian bukan dalam konteks pandangan “Arya”. Tentu dalam pandangan “Arya”, “Weda” tersebut justru “Weda yang telah disempurnakan”.

3. Perbedaan pandangan adalah suatu hal jamak dalam kehidupan, karena itu bahkan Al-Qur’an , Kitab Suci dalam agama Islam sudah mengantisipasinya dengan ayat “Lakum Diinukum Wa Liyadiin”,yang artinya “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Maknanya adalah semua orang bebas menentukan agama yang dianutnya,sesuai yang dipercayainya. Persoalan ada perselisihan mengenai keimanan seseorang atau saling serang mengenai agama, tentu bukan itu yang diajarkan oleh agama yang agung.

4. Sekalilagi, konteks “Weda” dalam novel Agus Sunyoto juga tidak berbicara mengenai Kitab Wedanya ummat Hindu Bali, melainkan “Weda di zaman peperangan antara kaum Drawida dengan kaum Arya”.

Mengenai faham “Aryanisme” dalam masyarakat Bali sekarang , juga perlu dikaji apakah satu konteks dengan “Arya” dalam Kitab “Ramayana”, karena:

1. Menurut George Coedes dalam bukunya “Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha” , Jakarta : KPG , 2010 , disebutkan bahwa proses “Indianisasi” yang dibawa oleh Pendeta Agastya bersama murid-muridnya dimulai pada abad 2-3 M dan mulai menunjukkan hasil pada abad 4-5 M. Nah, sebelum itu, Bali masih dihuni oleh “Masyarakat Nusantara Asli” yang mungkin sekarang bernama “Bali Aga”.

“Indianisasi” itu justru dilakukan ketika India sudah zaman Budha, karena itu yang masuk ke Asia Tenggara adalah “Indianisasi” dalam bentuk faham Hindu dan Budha, atau bahkan kalau melihat pada masyarakat zaman Majapahit, terjadi sinkretisme “Hindu-Budha”.

Tentu ada plus-minusnya. Salah satunya adalah kedahsyatan “kekhasan Nusantara” yang “mensinkretiskan” atau “melokalkan” semua yang berbau pengaruh luar, karena itu, menurut George Coedes hampir semua aspek Hindu-Budha di Nusantara berbeda ( besar-kecilnya relatif ) dengan yang “aslinya” yaitu yang ada di India.

Bahkan yang lebih dahsyat,menurut Myrtha Soeroto dalam bukunya “Album Arsitektur Candi” ( penerbit Yayasan Keluarga Batam 2009 ), antara Candi satu dengan Candi lainnya di Jawa berbeda dari segi arsitektur, dan masing-masing mempunyai kedahsyatan yang khas. Nah, sesama Candi di Jawa saja berbeda, apalagi dengan yang di India. Dahsyat bukan?

Sekali lagi, ini hanya untuk membuka pikiran, agar merdeka membaca tulisan. Jangan dulu merasa diri tersinggung, karena siapa tahu yang dibicarakan adalah bukan dirinya, meskipun seakan-akan ada “hal sama” yang dibicarakan.

2. Beberapa komentator ada yang geram dengan orang-orang “Timur Tengah”,padahal “Arya” sendiri adalah puak dari”Timur Tengah”. Menurut Agus Sunyoto, Rama adalah keturunan Raja Kasi, Kusayi,dari Dinasti Ikswaku yang leluhurnya berasal dari Jazirah Arabia. Di Jazirah Arabia memang ada Suku Qusayi. Jadi, sebenarnya, kalau pikiran kita merdeka, kita akan menimbang banyak hal sebelum marah-marah, karena siapa tahu, seperti firman Allah “....ilmu manusia itu hanya setetes air di lautan ilmu Tuhan”.

Sekarang, yang perlu diutamakan adalah mencari hal-hal yang positif dari berbagai perbedaan, bukan seperti yang sering diposting para komentator, yang lebih cenderung membesar-besarkan hal yang kecil atau yang masih menjadi perbedaan pendapat atau kontroversial, karena disebabkan oleh beragamnya Teori yang dikemukakan oleh para Sarjana.

Tetapi tentunya para Sarjana itu bukan para “Pengawur” seperti tuduhan para “Asbun” dalam rubrik komentar. Mereka telah meneliti puluhan tahun, membaca ribuan buku, melakukan perenungan,melakukan dialog dan wawancara dengan berbagai orang dari berbagai lapisan,melakukan ratusan perjalanan penuh bahaya dan penderitaan, terkadang tanpa dukungan pemerintah yang lebih sibuk korupsi dan menghancurkan bangsa dan negara, tetapi ketika mengemukakan teori baru, langsung dicaci-maki masyarakat yang pikirannya belum merdeka.

Padahal tujuannya mengemukakan “Teori” atau “Ajaran” itu, biasanya adalah demi menyelamatkan masyarakat dan bangsanya, namun ironisnya, masyarakat yang ingin dicerahkannya itu justru lebih sadis menghakimi para “Pencerah” itu, ketimbang ketika menghakimi koruptor yang jelas-jelas adalah penjahat besar pembunuh masa depan bangsa.

Tetapi itu bukan hal baru memang, hampir “semua Nabi” adalah para peneliti,para penemu,para “teoritikus”, para “revolusioner” yang ingin “mencerahkan” bangsanya. Tetapi hampir “semua Nabi” mendapat hujatan masyarakat, bahkan tak jarang yang sampai “dibunuh” oleh masyarakat—sebelum sempat mendapat pengikut yang banyak. Bacalah kisah “Nabi-nabi” , atau tontonlah film-film mengenai “Kehidupan Nabi-nabi”, pasti anda semua menemukan bahwa perjuangannya “mencerahkan masyarakatnya” lebih sering mendapat balasan “air tuba” ketimbang “air susu”.

Dalam banyak kasus, masyarakat justru lebih suka bersekutu dengan para penguasa yang jelas-jelas tiap hari menyiksa dan menindas masyarakat, ketimbang berpihak kepada “Para Pencerah” yang ingin menyelamatkan masyarakat . Itulah ironi kehidupan dunia.

Sekalilagi,sebelum menutup uraian ini,saya Viddy AD Daery memohon maaf kepada saudara-saudaraku Hindu Bali atau Hindu Indonesia, karena konteks yang dibicarakan dalam artikel saya “Antara Gajah Mada dan Rahwana” adalah “Arya” dan “Weda” di zaman peperangan antara Kaum Drawida yang menolak dijajah Kaum Arya,terutama yang dikisahkan dalam kisah epos “Ramayana”, itupun versi novel “Rahuvana Tattwa”. Karena memang “Ramayana” sendiri ada banyak versi. Jadi, bukan membicarakan “Arya” dan “Weda” zaman sekarang.

Wallahu a’lam bissawab , wa ilaihil marji’ wal ma’ab.

Editor :
Jodhi Yudono