Minggu, 24 Agustus 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 24 Agustus 2014 | 02:48 WIB
Puisi-puisi Susan Gui
Penulis: | Minggu, 26 Juni 2011 | 04:19 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

theblacktwig.wordpress.com
ilustrasi

#Cerita kata-kata

Kata oh kata berlarian seperti kuda binal. Menerjang malam, menembus pekat Kini sendiri kau tinggal aku dalam geliat rindu bertalu.

Keterasingan mengikis rusuk-rusuk, tergeletak telanjang tanpa daya. Rangkaian cerita menjadi liar ingin melaju pada untaian kata yang semakin lara.

Demi kata yang jadi banal,

#Rindu yang tak merayu

Sendu semilir angin menerjang sendi Pada keteduhan malam yang maha sunyi

Angin diam mengikat rasa, pada sepasang bola mata syahdu cinta melanda Padamu hanya padamu Hati lirih bergumam pasrah Rindu senyap gundah melanda, bergerilya lirih terasa

Aduh Gusti, Bukankah sudah kukatakan lewat angin yang menari liar Cintaku ini bentukan rangka-rangka rindu

Pada malam yang sendu hati tersedu Gesau angin menimbun kalbu yang sedang rindu

#Di hadapan pediangan,

Selembar belacu mengering usang, sudah ditunaikan tugasnya menghapus air mata, Digenapi sudah tugasnya menyapu tangisan yang menitik

Dihadapan pediangan, Ringkih tubuh ini, digerogoti masa yang tidak lagi belia. Inilah waktu, apa padamu semua sudah bergulir meninggalkan hilir-hilir hidup. Segala sesuatu bergerak, segala sesuatu berubah demi manfaatnya masing-masing, semua berjalan menemui nasibnya

Dihadapan pediangan, Puntung rokok dilebur jadi abu, biarlah. Suatu masa aku pun begitu, melebur menjadi abu. Mati dikuliti waktu; sendiri.

#Tulislah,

Tulislah sesuatu ditanganku, apa saja itu, Tulislah sesuatu,  Isyaratkan segala rasa dalam untaian keindahan yang mempesona  Gambarkan apapun yang kau rasa ketika aku jadi telanjang dan rebah diatas keindahan rasa Kegalauan ini ingin dilukis nyata, padamu, apapun ini rasanya; tulislah sesuatu ditanganku.

#Untuk Anakku,   “Nak, ingat kah kau ketika harus hidup dalam air ketuban dan tali pusar menjadi penghubung antara kita? Bukankah waktu itu adalah waktu yang sangat dalam untuk dibahasakan menjadi sebuah kalimat  yang lebih nyata. Melebur menjadi satu dan menjadi kesatuan.  Waktu itu kidung-kidung cinta mengalir, bersinergi antara ruang-ruang hampa yang kita rasa, tapi kita tidak menangis bukan ? sesunguhnya kita saling menggenapi, tanpa kita sadari “

#Kesah,

Aduh, lagi-lagi kau mengeluh. Kali ini  kau mengeluh matahari yang terlalu terik dan membakar kulit. Bahkan tulang pun turut lebur menjadi abu katamu. Kemarin kau mengeluh, angin terlalu riang menari ditengah-tengah hatimu yang galau.

Dan dua hari yang lalu kau mengeluh bulan yang enggan muncul dan membagi sinarnya ketika malam pekat. katamu, bulan pelit dan sangat tidak bisa dipercaya seperti matahari. Kewajiban si bulan bersinar dan berbagi cahaya ketika malam tiba namun malam itu bulan abstain, sering malah. Dan memang malam itu hitam pekat, tidak ada bulan, hanya bintang gemintang menyebar seperti titik-titik jarum berkedip-kedip.

Banyak yang kau bicarakan atau kau tanya-tanya. Merupakan kebiasaan, aku hanya menjadi pendengar dan tidak menjawab. Segaris senyum ditengah percakapan yang kadang memburu merupakan jawaban terbaik yang kumiliki.

Pernah kau berbicara perihal sejarah, kita punya sejarah dan kita dilahirkan lewat perjalanan panjang sejarah itu sendiri. Sepantasnya kita tidak melupakan sejarah, karena kita adalah bagian dari sejarah dan membuat sejarah dengan cara-cara yang baik. Tapi lewat perjalanan panjang pembicaraan kita, kau seakan ingin lari dari sejarahmu sendiri.

Kau tidak mengungkap sejarahmu. Seperti selubung kain belacu yang ingin kau nikmati sendiri; enggan untuk dibagi. Entah kenapa?

Apa itu aneh?

Belum lagi ketika kau mulai bertanya perihal masa depan. Apa salah? Tidak juga, tidak salah ketika kau bertanya “Apa kita sanggup untuk menjadi satu dan lebur bersama dalam sebuah rangkaian cerita saling mendamaikan ?” atau “apa memang hati kita itu bisa selalu di zona yang sama? ketika hilang apa mungkin kompas hati akan menemukan arah yang tepat dan mengembalikan kau ke sisiku?”

Tidak akan pernah salah ketika kita mulai menghitung, karena perjalanan tanpa hitungan adalah sebuah perjalanan yang tidak pernah kenal tujuan akhir. Liar terbang menuju bulan, melewati kumpulan bambu, bergelinjang diatas rumput hijau kalbu dan hanya terbang tanpa tujuan.

Tidak pernah salah, ketika waktu mulai dihitung dan logika diajak untuk bermain dengan pola-pola yang ada. Tidak pernah salah, masa depan bukan catatan bisu dan tidak ada posisi tawar menawar, tidak.

Akan ada selalu senja dimana kita bicara perihal masa depan, tapi tidak selalu. Terkadang hanya ingin duduk dan membagi kopi untuk sebuah pembicaraan ringan tentang hal remeh temeh. Atau sekedar menyatu pada hangatnya malam-malam sunyi.  Masa depan adalah apa yang kita catat masa kini, untuk dijalani besok, dan mendapatkan hasil dikemudian hari.

Masa depan bekerja diruang-ruang magis dan spiritual, Empunya hidup sudah merangkai semua cerita dengan baik, tidak ada cacat. Kita, orang yang menjadi bidak-bidak catur hanya mengikuti alunan magis dengan gerakan yang tepat.

Sekarang kau meneguk kopi mu, katamu terlalu manis, salah aduk pula, rasanya kacau.  Aku hanya senyum, seperti biasa.  Satu garis waktu yang kita bagi bersama memang tidak akan cukup menjelaskan maksud hatimu paling dalam.   SUSAN GUI__ 11 September 1984,Jakarta.

 

Editor :
Jodhi Yudono