Pagi, jam di dinding menunjuk angka setengah lima. Kehidupan di rumah Paijo mulai menggeliat. Secara berbarengan, Ijah dan Onah membuka pintu kamar. Di ruang tengah, mereka berpapasan.
Onah memandang ibunya dengan tatapan menyelidik. Maklumlah, pagi itu dia menjumpai emaknya berkeringat dengan rambut yang amburadul.
"Hihihi..." Onah senyum-senyum.
"Ngapain kamu ketawa?"
"Emak habis kejar-kejaran ya?"
"Hus!"
"Kayak cicak di tembok yang waktu itu..." (http://oase.kompas.com/read/2011/06/07/06532431/Perbincangan.di.Ranjang)
"Hmmmm... nakal kamu," ucap Ijah sambil menjewer Onah.
"Aw.. ampun Mak, hihihi..."
"Buruan mandi, terus shalat."
"Duh... yang habis berlayar dengan kapal Titanic..."
"Onah!" Ijah menghardik putrinya dengan pandang mata yang tajam.
"Iya iya... Leonardo DiCaprio belum bangun, Mak?" ledek Onah sambil berlari. "Awas kamu...!" Ijah mengejar putrinya, tapi Onah lebih sigap. Sebelum tertangkap, Onah telah menutup pintu kamar mandi. Brak!
Tak lama kemudian, dari dalam kamar mandi terdengar onah bernyanyi,
You're here, there's nothing I fear,
And I know that my heart will go on
We'll stay forever this way
You are safe in my heart
And my heart will go on and on
Ijah cuma bisa geleng-geleng kepala seraya tersenyum. Dia lalu ingat, betapa semalam suaminya "bernyanyi" terlalu keras, sehingga Onah mendengar. Alhasil, beginilah jadinya, ia dibecandain oleh putrinya tanpa ampun.
Ijah tak marah, apalagi tersinggung dengan ledekan Onah. Mafhumlah, hubungan Ibu dan anak itu memang sedemikian dekatnya. Apalagi kejadian semalam murni keteledoran dirinya dan Pay, yang tak kuasa menahan diri dengan "nyanyiannya".
"Buruan Onah, Emak mesti segera ke pasar," seru Ijah di depan pintu kamar mandi.
"Iya Kate Winslet, bentar...." Onah masih meledek dengan menyeru nama pemeran utama wanita film Titanic yang berpasangan dengan Leonardo DiCaprio itu.
* * *
Hari mulai terang tanah saat Onah siap berangkat sekolah. Ijah sudah mulai menata dagangannya di halaman rumah, sementara Pay masih nyenyak tidur.
"Berangkat dulu, Mak," Onah mencium tangan bundanya.
"Sana pamitan bapakmu di kamar," kata Ijah.
"Emang udah bangun?"
"Ya dibangunin aja, katanya jam delapan nanti mau ketemu orang di Blok M."
Onah tak tega membangunkan ayahnya yang nampak tertidur pulas. Dia pun balik kanan menuju keluar rumah. "Emak aja yang bangunin, Onah gak berani," seru Onah sambil bergegas.
***
Onah bersama puluhan pelajar lainnya mencegat kendaraan menuju sekolah. Canda dan tawa kawan-kawannya pagi itu langsung menghapus sisa duka kemarin sore saat Hendry diam-diam datang di hari ulang tahunnya.
Sedang asyik Onah berha-ha-hi-hi dengan kawan-kawannya, mendadak seorang lelaki bertubuh gempal mendekatinya.
"Maaf, ini Neng Onah?" tanya lelaki gempal.
"Ng... Maaf, Anda siapa?" Onah mundur satu tindak, nalurinya membisikkan agar dia berhati-hati.
"Saya hanya orang suruhan. Ini saya disuruh menyerahkan bungkusan ini kepada Neng Onah."
"Tapi saya tidak mengenal Anda."
"Tolonglah, kalau Neng tidak mau menerima bingkisan ini, saya akan mendapat masalah."
"Iya, tapi ini dari siapa?"
"Nanti Neng juga tahu sendiri, erimalah Neng. Saya mohon."
Karena iba melihat raut muka lelaki gempal di hadapannya, terpaksa Onah menerima bingkisan itu dan langsung memasukkannya ke dalam tas.
Saat Onah menerima bingkisan itu, seorang lelaki tengah baya di dalam mobil mewah menyaksikan sambil tersenyum. Sesaat kemudian, lelaki itu memerintahkan kepada sopirnya yang memarkir mobil sepuluh meter jaraknya dari tempat Onah menunggu angkutan, untuk segera jalan.
* * *
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, pikiran Onah dipenuhi tanda tanya. Bingkisan itu tak seberapa besar, hanya sekepal tangan ukurannya. Sempat dirinya meraba-raba bingkisan itu di dalam tas sambil menduga-duga isinya.
Begitu dirinya duduk di dalam kelas, Onah tak sabar untuk membuka bingkisan itu. Saat kertas pembungkus terbuka, matanya melihat tulisan tangan indah di atas kotak mungil bingkisan itu. Di sana tertulis, "Selamat ulang tahun, Nak."
Deg... siapa pula ini, batin Onah. Ayahnya kah yang mengirimkan lewat lelaki gempal tadi? Tapi buat apa? Toh kemarin bisa saja beliau langsung memberikan kepadanya. 'Ketimbang penasaran bertanya-tanya, lebih baik kubuka langsung saja,' kata hati Onah.
Pelan-pelan Onah membuka bingkisan itu. Dan... Sebuah cincin berlian! Onah yang kaget dengan benda yang ada di dalam bingkisan itu, buru-buru memasukkannya kembali ke tempatnya. Sepanjang pelajaran berlangsung, pikirannya tak tenang. Puluhan pertanyaan berkitar-kitar di kepalanya. Siapa pengirimnya, dengan tujuan apa si pengirim memberinya benda itu.
