Sabtu, 26 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Juli 2014 | 02:38 WIB
Tlatah Bocah Bangkitkan Kehidupan Merapi
Penulis: | Sabtu, 21 Mei 2011 | 12:37 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

MAGELANG, KOMPAS.com--Hajat budaya bertajuk "Tlatah Bocah 2011" sebagai wujud upaya berbagai komunitas lereng Gunung Merapi di perbatasan antara Jawa Tengah dengan Daerah Istimewa Yogyakarta membangkitkan kehidupan mereka pascaerupsi melalui pergelaran kesenian oleh anak-anak setempat.

"Hal inilah yang dikedepankan dalam hajat budaya `Tlatah Bocah V` tahun ini, untuk bangkit dan membangun lingkungan kembali setelah erupsi Merapi akhir 2010," kata Ketua Panitia "Tlatah Bocah V", Setyoko, di Magelang, Sabtu.

Ia menjelaskan, upaya membangkitkan kembali kehidupan masyarakat Merapi pascaerupsi termasuk membangun sikap yang tepat menghadapi ancaman banjir lahar harus terus menerus ditempuh.

Jalan kesenian dan kebudayaan, katanya, salah satu langkah penting untuk mewujudkan upaya itu antara lain karena mereka memiliki beragam budaya sebagai kekuatan toleransi dan solidaritas kehidupan bersama masyarakat setempat.

Ia mengatakan, hajat budaya tersebut akan berlangsung sejak awal Juni hingga pertengahan Juli 2011 di berbagai tempat terutama kawasan lereng Gunung Merapi.

Sekitar 900 orang terutama kalangan anak berasal dari berbagai komunitas Merapi di Kabupaten Magelang, Boyolali, Klaten (Jateng), dan Sleman (DIY), katanya, akan terlibat pada kegiatan tersebut.

Ia mengatakan, berbagai agenda telah disiapkan antara lain "Merti Jiwo" di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, pentas kesenian tradisional seperti jatilan, grasak, cakar lele, pentas wayang bocah, reog bocah, topeng ireng, jalantur, antara lain di Jumoyo, Kabupaten Magelang, Cangkringan (Sleman), dan Deles (Klaten).

Selain itu, katanya, latihan berkebun dan beternak, menabuh gamelan, dan tarian tradisional, orasi budaya, diskusi budaya, penanaman pohon, dan padat karya.

Ia mengharapkan, kegiatan itu makin menguatkan jaringan antarkomunitas anak Merapi dan mereka dengan komunitas lain berasal dari luar kawasan itu.

Selain itu, katanya, melestarikan kesenian tradisional setempat, mendorong terwujud area ramah anak baik secara fisik maupun psikologis.

"Juga mendorong terpenuhinya hak anak meliputi hak hidup, hak tumbuh kembang, hak pendidikan, dan hak partisipasi," katanya.

Hajat budaya "Tlatah Bocah" digelar secara rutin setiap tahun sejak 2007 hingga saat ini.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono