Jumat, 19 September 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 19 September 2014 | 00:40 WIB
Prostitusi
Di Patok Beusi, Wanita Menjajakan Diri
Penulis: | Rabu, 27 April 2011 | 18:11 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Perjalananku minggu lalu ke kawasan Pantura, menyisakan sedikit cerita yang  cukup menggelitik. Betapa tidak, malam itu pemandangan tak biasa betul-betul terlihat di depan mata, rasa ketidakpercayaanku selama ini tentang “wisata malam” di Pantura terjawab sudah. Masuk melalui jalur Cikampek, aroma kekejaman jalanan Pantura sudah mulai terasa, iring-iringan kendaraan besar yang penuh muatan memenuhi jalan yang berdebu, kecepatan kendaraan sedikit tertahan karena antrian yang cukup panjang.

Demikian Kompasianer Herdy Mulyana yang juga seorang guru, menuliskan perjalanannya di Kabupaten Subang, di sebuah lokasi bernama Patok Beusi. Catatan perjalanan yang ia tulis di Kompasiana itu lengkapnya sebagai berikut....

13038835821992075523

Ilustrasi/Admin (shutterstock)

Sampai di sini suasana masih terasa biasa, kulihat wajah-wajah pengendara dengan beragam ekspresi ada yang terlihat lelah dan pucat pasi, ada juga yang terlihat tak sabar dan memaki kemacetan yang selalu datang di jalanan ini.

Pemandangan mulai terasa beda saat memasuki kawasan Patok Beusi, di sini jalanan yang kami lalui terasa hingar bingar dengan aroma syahwat yang terasa memikat. Ratusan rumah disulap menjadi tempat “karaoke”. Kanan dan kiri jalan seolah tak ada ruang untuk rumah-rumah lainnya. Dengan sorotan lampu yang terang, hingar bingar musik dangdut melenakan para pengendara, di halaman yang menghadap langsung ke jalan, para wanita dengan dandanan seronok dan bergincu tebal, asyik melambaikan tangan dengan gerak tubuhnya yang liar.“Mari mampir mas, tempatnya asyik nih” celoteh salah satu dari mereka. Rayuan maut ini tak hanya sesekali terdengar, seorang rekanku dengan isengnya mencoba membalas rayuan mereka.“Ada apa dan bisa apa saja.” Candanya. “Mas mau apa di sini semua ada” jawab sang perempuan manja.

Begitulah, sungguh pemandangan yang amat memprihatinkan, di sepanjang Patok Beusi Kabupaten Subang, bisa jadi kehidupan malam seperti ini sudah menjadi hal biasa. Para perempuan muda dengan beragam latar belakang kehidupan dan motifnya secara sadar “melacurkan diri” dalam prostitusi rumahan yang berkedok tempat karaoke.  Beragam alasan mereka sampaikan ketika di tanya, mengapa harus menjajakan cinta di pinggir jalan pantura ?. Kesulitan ekonomi menjadi satu jawaban yang klasik untuk menjadi pembenaran atas prilaku mereka, tapi rasanya ada yang lebih mendasar selain jawaban itu, karena faktanya kehidupan malam di sana sudah menjadi bagian dari budaya dan keseharian penduduknya.

Temanku yang sehari-hari  bertugas sebagai seorang aparat di sana, mengatakan, prostitusi di Patok Beusi teramat sulit untuk diberantas karena di dukung oleh masyarakat sekitar. Mereka akan kompak melawan, apabila ada gangguan yang berasal dari luar. “Bagaimana mau di basmi, toh semua masyarakat telah menjadikan situasi ini sebagai mata pencaharian," jelas temanku.

Temanku lebih jauh menjelaskan, jangan tergoda dengan rayuan dan suasana yang ada di sana, karena sekali tergoda bisa habis semua milik kita. “Tarif di sana sangat gila, jangankan harga bokingnya, harga minumannya saja bisa membuat kita bangkrut” terangnya.

Perjalananku malam itu memang bukan untuk pelesiran menghabiskan malam bersama para wanita genit, aku dan seorang kawan hanya mau bertamu ke rumah seorang kawan di daerah Ciasem Subang. Setibanya di rumah temanku topik yang hangat kami bincangkan adalah wisata malam di Patok Beusi. Meski mengaku sebagian masyarakat di sana gerah dengan keadaan yang ada, tetapi nampaknya bukan perkara yang mudah untuk dihentikan, terlalu kompleks masalah yang mengiringinya tidak sekedar kemiskinan tetapi juga telah berhubungan dengan budaya masyarakat di sana. Jadi jangan pernah tanyakan lagi, mengapa para wanita di Patok Beusi, menjajakan diri !

Sumber :
Editor :
Pepih Nugraha