Sabtu, 25 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 25 Oktober 2014 | 00:59 WIB
Tanah Datar Menyimpan Jejak Adityawarman
Penulis: Ingki Rinaldi | Sabtu, 16 April 2011 | 09:00 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

KOMPAS/INGKI RINALDI
Sejumlah peneliti, Jumat (15/4), melakukan pendokumentasian pada bekas-bekas peninggalan Kerajaan Adityawarman di Jorong Bukit Gombak, Nagari Baringin, Kecamatan Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Para peneliti dari Jerman, Australia, dan Indonesia itu menemukan peninggalan seperti perhiasan, keramik, sumur kuno, dan sisa-sisa struktur bangunan dalam ekskavasi itu.

TANAH DATAR, KOMPAS.com--Para peneliti dari Jerman, Australia, dan Indonesia yang tergabung dalam tim ekskavasi arkeologis untuk menemukan lokasi pusat Kerajaan Adityawarman berhasil mengumpulkan sejumlah temuan signifikan, terkait sisa-sisa kejayaan Adityawarman di Tanah Datar, Sumatera Barat.

Salah satu temuan yang cukup mengesankan dalam ekskavasi yang dibiayai Pemerintah Jerman itu, sebuah sumur dalam lanskap mirip tempat pemandian.

Ekskavasi di Jorong Bukit Gombak, Nagari Baringin, Kecamatan Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, yang berakhir pada Jumat (15/4) itu, menemukan sejumlah peninggalan seperti perhiasan, keramik, sumur kuno, dan sisa-sisa struktur bangunan.

Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan BP3 Batusangkar Budi Istiawan mengatakan, sosok Adityawarman yang bisa disejajarkan dengan Mahapatih Gadjah Mada dalam membangun Kerajaan Majapahit, diketahui menjadi raja di daratan Sumatera antara tahun 1347-1375. Hal itu didasarkan pada patung Amoghapasa tahun 1347 dan Prasasti Saroaso 1 di Tanah Datar tahun 1375.

Salah satu temuan yang cukup mengesankan dalam ekskavasi yang dibiayai Pemerintah Jerman itu, sebuah sumur dalam lanskap mirip tempat pemandian. Pada sumur yang masih digenangi air lewat aliran air dari sela-sela dinding bebatuan di atasnya itu, dimungkinkan pula terdapat kolam kuno untuk pemandian yang belum diekskavasi.

”Mungkin tahun depan akan kami ekskavasi lagi,” kata Ketua Tim Proyek Ekskavasi Arkeologi Tanah Datar 2011, Prof Dr Dominik Bonatz. Ia butuh sekitar dua pekan untuk menemukan keseluruhan struktur sumur dan bebatuan yang diduga sebagai lokasi pemandian itu.

Temuan lain yang juga memberi makna adalah dua buah mata kapak genggam dari batu dengan ujung diruncingkan. Ditemukan pula perhiasan manik-manik dari kaca beragam warna, serta tutup wadah berbahan perunggu.

Salah seorang peneliti, Dr Mai Lin Tjoa-Bonatz, ketika menunjukkan tutup wadah berbahan perunggu yang tampak menghitam itu terlihat sangat terkesan akan dekorasi yang menghiasinya.

”Ini sudah terlihat ada dekorasinya, mengagumkan,” kata Mai sembari menunjukkan artefak berukuran 5 cm itu.

Menurut Dominik, tutup wadah berbahan perunggu itu kemungkinan dipergunakan sebagai pasangan wadah penyimpan sirih atau semacamnya.

Kedatangan keramik asal China pada masa Dinasti Song dan Dinasti Ming juga tak luput menjadi temuan. menurut Dominik berasal dari masa Dinasti Song dan Dinasti Ming. ”Mungkin datang sekitar abad ke-14, bertepatan masa Kerajaan Adityawarman,” kata Dominik.

Tim yang terdiri dari perwakilan Freie Universitat Berlin, Puslitbang Arkenas, Balai Arkeologi Bandung, Balai Arkeologi Medan, dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar, itu juga menemukan sejumlah bekas lubang (postholes).

Patrick McCartney, arkeolog dari Australia mengaku amat terkesan dengan kegiatan ekskavasi ini. ”Melelahkan tetapi juga menyenangkan. Luar biasa, kami bisa melihat langsung Gunung Marapi,” kata Patrick McCartney, arkeolog dari Australia sembari menunjuk ke arah utara.

Ekskavasi itu terutama dilakukan pada dua wilayah perbukitan, yakni Bukit Kincir dan Bukit Damar di Jorong Bukit Gombak, pada ketinggian sekitar 450 meter di atas permukaan laut.

Ekskavasi dilakukan dengan sistem penggalian parit (trench) berjumlah 11 buah dengan ukuran 2 x 3 meter - 10 x 10 meter. Ekskavasi itu lebih memilih metode layer ketimbang spit atau lot. ”Agar bisa mencari dengan lebih detail,” kata Johannes Greger, peneliti lainnya.

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono