Jumat, 25 April 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 April 2014 | 10:28 WIB
Lindungi Goa Prasejarah di Konawe Utara
Penulis: Mohamad Final Daeng | Minggu, 3 April 2011 | 17:48 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

KENDARI, KOMPAS.com - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, meminta bantuan pemerintah pusat untuk melindungi goa-goa prasejarah di wilayahnya. Pemerintah Daerah khawatir, goa-goa itu akan rusak oleh pertambangan dan perkebunan yang makin marak di Konawe Utara.

"Ancaman terbesar adalah dari tambang-tambang nikel dan perkebunan sawit. Karena itu, kami mengajukan proposal kepada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk melakukan studi teknis terhadap goa-goa tersebut," ujar Kepala Disbudpar Konawe Utara, Djuhaimin Abu Kasim, di Kendari, Sabtu (2/4/2011).

Djuhaimin menambahkan, studi teknis merupakan langkah awal dalam mengidentifikasi goa-goa tersebut sebelum langkah berikutnya, yakni konservasi situs. Sebagai tahap awal, terdapat dua goa prase jarah yang menjadi target studi teknis, yakni Goa Tanggalasi di Kecamatan Wiwirano dan Goa Oheo, di Kecamatan Oheo.

Kedua goa itu diyakini sebagai situs tertua di antara tujuh situs goa prasejarah di Konawe Utara, ujar Djuhaimin . Selain itu, ia menambahkan keduanya juga mendesak diprioritaskan karena sudah terkepung perkebunan sawit. Bahkan, situs Tanggalasi juga sudah masuk dalam areal konsesi tambang nikel salah satu perusahaan.

Di goa-goa prasejarah yang diperkirakan berusia 10.000-40.000 tahun itu, terdapat berbagai peninggalan, seperti guci, keramik, gerabah, tengkorak manusia, serta lukisan-lukisan dinding. Banyak di antara benda-benda itu sudah rusak atau hilang karena penjarahan selama bertahun-tahun.

Djuhaimin mengatakan selama ini goa-goa itu praktis tanpa perlindungan karena keterbatasan anggaran pemerintah kabupaten. Selain itu, belum ada satupun dari goa-goa prasejarah di Konawe Utara yang memiliki status perlindungan cagar budaya. "Jika tidak segera dilindungi, kami khawatir situs-situs itu akan semakin rusak," ujarnya.

Secara terpisah, Staf Teknis Arkeologi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sultra La Ode Ali Ahmadi mengatakan, goa-goa prasejarah di Konawe Utara selama ini belum dieksplorasi mendalam secara ilmiah. Padahal, goa-goa itu banyak menyimpan peninggalan arkeologis yang bisa menjelaskan kehidupan manusia awal di Sultra, khususnya tentang leluhur Suku Culambacu dan Tolaki, dua suku asli yang berdiam di sekitar wilayah itu.

"Karena itu, peninggalan-peninggalan yang banyak menyimpan data arkeologis itu harus diselamatkan sebelum rusak oleh pertambangan dan perkebunan," ujarnya.

Editor :
Tri Wahono