Minggu, 21 September 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 21 September 2014 | 03:00 WIB
Permainan Tradisonal
Memutar Gasing di Segala Zaman
Penulis: Caroline Damanik | Minggu, 20 Maret 2011 | 16:11 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
KOMPAS.com/Caroline Damanik Anak-anak asyik belajar memainkan gasing di booth Komunitas Gasing Indonesia di Olimpiade Taman Bacaan 2011 di Bumi Perkemahan Ragunan, Minggu (20/3/2011).
Foto:

JAKARTA, KOMPAS.com — Siapa yang tak tahu gasing? Benda bulat bersumbu ini bisa disebut sebagai ikon bangkitnya permainan tradisional, tak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia. Endi Aras (47) merupakan salah satu pemerhati gasing yang kemudian mendirikan Komunitas Gasing Indonesia pada tahun 2005. Kepada Kompas.com, Endi menuturkan keputusan awalnya untuk melestarikan gasing.

Kisah berawal dari kehadirannya di Festival Gasing Indonesia di Ragunan pada tahun 2005. Saat itu, Endi mengaku sudah menguasai gasing. "Waktu itu saya tertarik atraksi gasing dari Papua. Eksotis sekali. Mereka pakai baju adat sana dan main gasing. Saya pikir, bahaya kalau enggak ada yang meneruskan," katanya ketika ditemui di gerai Komunitas Gasing Indonesia di Olimpiade Taman Bacaan 2011 di Bumi Perkemahan Ragunan, Minggu (20/3/2011).

Maka dari itu, mulailah Endi membentuk komunitas ini. Kala itu, dia hanya memiliki gasing bambu dari Yogya. Endi pun berkeliling hingga pelosok Nusantara untuk mencari berbagai macam bentuk dan warna gasing. Hasil kerja kerasnya dan sejumlah anggota komunitas tampak di atas meja pameran mereka. Menurut pengamatan Kompas.com, terdapat banyak gasing, seperti gasing Bangka Belitung, gasing Bali, gasing DKI Jakarta, gasing Jawa Barat, gasing telor Lombok, gasing modifikasi, dan gasing piring terbang Lombok.

Ada pula gasing Pontianak, gasing Berembang Tanjung Pinang, gasing Berembang P Serasan Kepulauan Riau, gasing Batok Kelapa Rembang, gasing bambu Yogya, gasing Ambon, gasing jantung Suku Dayak Kalimantan, Kekehan atau gasing dari Lamongan, gasing Nyamplung Lombok, gasing Batam, gasing Demak, Blentongan Demak, gasing Makassar, dan gasing jantung Lampung. Banyak, bukan?

Tujuan Endi dan rekan-rekannya hanya satu, yaitu terus memperkenalkan gasing sebagai permainan tradisional Indonesia ini kepada anak-anak dan orang tua di sepanjang zaman. Mereka ingin gasing dikenal sebagai ciri khas Indonesia karena keragaman bentuk, jenis, nama, dan bahannya. "Selain itu, permainan ini melatih nilai sportivitas, kejujuran, dan kerja sama dengan tim atau sosialisasi dengan orang lain. Kalau kita pelajari lebih dalam lagi, permainan gasing ini punya kaitan dengan fisika, presisi, dan keseimbangan. Jadi kalau seimbang, bisa bagus," ungkapnya.

Endi pun mengatakan, pemerintah juga terus berupaya untuk merevitalisasi posisi gasing sebagai identitas budaya Indonesia. Ketika ditanyakan gasing yang menurutnya paling istimewa, Endi tampak bingung. Semua disukainya karena memiliki keunikan yang berbeda-beda. Endi hanya ingat kesannya yang mendalam terhadap daerah Kepulauan Riau. Di Tanjung Pinang dan Kepulauan Natuna, gasing adalah permainan turun-temurun yang dimainkan anak-anak sehari-harinya. Permainan gasing masuk pula dalam kurikulum pelajaran Olahraga di sana. Bahkan, menurut Endi, saking inginnya melestarikan gasing, para pejabatnya lebih suka main gasing daripada main golf.

Aji Saestu (29), salah satu anggota komunitas, juga mengatakan jatuh cinta dengan wilayah Kepulauan Riau (Kepri). Ketika ikut festival di sana, dia terkesan bahwa anak-anak di sana ternyata sangat familiar dengan gasing. Ini hal yang jarang dijumpai di kawasan lain, terutama perkotaan. "Di Kepri, anak-anak masih kental (dekat) banget dengan gasing. Di sana biasanya kan pakai gasing kayu. Pas kita bawa gasing bambu, mereka tertarik banget," tambah pria asal Rembang yang paling menyukai gasing Bali ini.

Filosofi gasing

Endi mengatakan pula anak-anak tak hanya bersenang-senang dan belajar nilai-nilai sportivitas saat bermain gasing. Menurutnya, filosofi gasing sangat baik untuk dikenal oleh anak-anak. "Filosofi gasing, soal keseimbangan. Kenapa gasing bisa berputar lama kan karena dia seimbang. Nah, kalau kembali kepada kehidupan manusia, kalau manusia hidupnya seimbang jasmani dan rohani, lahir dan batin, hidup jadi lebih panjang dan baik," ungkapnya.

Begitu pula seharusnya dalam menyikapi serbuan permainan teknologi akibat perkembangan zaman, Endi tidak meminta orang tua langsung melarang anak-anaknya bermain Playstation (PS) atau permainan seru lainnya di komputer. Menurutnya, gempuran teknologi jangan dilawan. Namun, pola masa kecil anaklah yang harus diseimbangkan. "Anak saya umur 11 tahun main PS juga. Ini tak bisa dihindari. Tapi yang penting bagaimana tetap jaga keseimbangan. Saya suruh anak saya undang temannya datang ke rumah, main gasing bareng. Jadi, teknologi enggak usah dilawan, deh. Yang penting bagaimana menyeimbangkan," katanya.

Tak takut Beyblade

Endi yang tinggal di kawasan Sawangan ini pun menyadari bahwa teknologi bisa menghadirkan gasing-gasing baru, contohnya Beyblade yang kini terkenal di kalangan anak usia sekolah dasar. Namun, Endi mengaku tak yakin Beyblade mampu menggeser gasing yang asli. "Meski perhatian anak-anak sekarang ke sana, tapi ini enggak akan tersaingi karena Beyblade ini kan khusus, ya. Ada yang langsung pencet, muter. Cuma menariknya ada lampunya dan mudah dimainkan. Namun, nilai-nilai yang ditanamkan gasing tidak ada di Beyblade," katanya.

Menurut Endi, gasing Indonesia juga mencerminkan keunikan daerah masing-masing, misalnya gasing DKI Jakarta yang berwarna-warni atau gasing dari bambu yang berasal dari Yogyakarta. Ada pula gasing paling besar seperti pucuk gada yang berasal dari Bangka Belitung. "Keragaman gasing Indonesia lebih banyak dari negara lain meski cara memainkannya sama," katanya.

Endi juga menjadi saksi bahwa ada orang asing yang juga suka memainkan dan mengoleksi gasing asli Indonesia. Endi mengaku sering bertemu dengan seorang warga negara Jepang yang hobi mengumpulkan gasing asal Indonesia. Di Jepang, gasing juga menjadi salah satu permainan tradisional yang terus dimainkan hingga kini.

Editor :
A. Wisnubrata