Sabtu, 25 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 25 Oktober 2014 | 18:53 WIB
Rampak Kendang Sunda Bisa Dicampur Jawa
Penulis: Jodhi Yudono | Minggu, 20 Maret 2011 | 15:21 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

anjjabar.go.id
ilustrasi

CILACAP, KOMPAS.com--Sejumlah seniman dari Kecamatan Patimuan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, berhasil memadukan tari "Rampak Kendang" khas Sunda dengan kesenian Jawa-Banyumasan sehingga menghasilkan nuansa seni tersendiri.

Saat tampil pada Parade Seni Budaya Cilacap di Alun-alun Cilacap, Minggu, penampilan "Rampak Kendang" Patimuan ini mendapat sambutan meriah dari para penonton.

Hal ini disebabkan nuansa tarian yang dimainkan oleh siswa SD Negeri Patimuan 1 yang berkolaborasi dengan SMA Negeri 1 Patimuan dan Grup Seni "Ragil" Patimuan tersebut berbeda dengan kesenian Sunda maupun Jawa-Banyumasan yang banyak berkembang di Kabupaten Cilacap.

Dalam hal ini, iringan musik tari "Rampag Kendang" Patimuan memadukan permainan kendang khas Sunda dengan suling dan terompet khas Jawa khususnya Banyumas.

Demikian pula gerakan tari yang dibawakan oleh 20 penari ini pun memadukan gerakan tarian Sunda dan Jawa.

Terkait tari "Rampak Kendang" ini, Kepala SD Negeri Patimuan 1, Masghudin mengatakan, tarian ini merupakan bagian dari kegiatan ekstrakurikuler kesenian di sekolah yang juga dikembangkan oleh Grup Seni "Ragil" Patimuan.

"Munculnya `Rampak Kendang` khas Patimuan ini sebenarnya ide dari Camat Patimuan, Bapak Suharyanto, yang mendapat sambutan para seniman di Patimuan," katanya.

Lebih lanjut mengenai ide tersebut, Camat Patimuan Suharyanto mengatakan, hal ini berawal dari keberadaan Kecamatan Patimuan yang berbatasan dengan Kecamatan Kalipucang dan Padaherang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Dalam hal ini, kata dia, budaya Jawa dan Sunda berkembang pesat di Kecamatan Patimuan.

Kendati demikian, dia mengatakan, tarian "Rampak Kendang" yang berkembang di Kecamatan Patimuan selama ini masih kental dengan budaya Sunda.

Menurut dia, tarian "Rampak Kendang" Patimuan yang merupakan perpaduan seni Sunda dan Jawa ini dimainkan oleh generasi ketiga Grup Seni "Ragil", sedangkan pada generasi pertama tahun 1990 masih identik dengan kesenian Sunda.

"Oleh karena itu, tercetus ide agar ada kolaborasi budaya Sunda dan Jawa dalam tarian tersebut dan ternyata perpaduan ini justru menjadikan tari `Rampak Kendang` menjadi lebih atraktif. Kami pun berharap tarian ini dapat menjadi kekayaan budaya tersendiri bagi Kabupaten Cilacap, khususnya Kecamatan Patimuan," katanya.

Ia mengatakan, tarian "Rampak Kendang" ini menggambarkan kedinamisan masyarakat untuk selalu berkarya dalam kondisi apapun.

Sementara itu, penata musik "Rampak Kendang" Patimuan, Rieswanto mengatakan, iringan musik dalam tarian ini tetap mempertahankan kekhasan budaya Sunda dan Jawa.

"Alat musik kendang identik dengan Sunda, sedangkan suling dan terompet banyak dimainkan dalam kesenian Jawa. Namun setelah dipadukan menimbulkan warna tersendiri," katanya.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono