Rabu, 20 Agustus 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 20 Agustus 2014 | 10:58 WIB
Erwin Gutawa
Rekomendasi Musik Erwin Gutawa
Penulis: | Sabtu, 19 Februari 2011 | 21:48 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

KOMPAS/RADITYA HELABUMI
ERWIN GUTAWA

Oleh Dwi AS Setianingsih dan Mawar Kusuma

Lebih dari 30 tahun pemusik Erwin Gutawa terlibat dalam kerja kreatif di belantika musik Tanah Air. Torehan karyanya akan ia rentang dalam pergelaran musik ”A Masterpiece of Erwin Gutawa” di Jakarta Convention Center, 26 Februari mendatang. 

Erwin tengah intens berlatih bersama penyanyi dan musisi pendukung konser ”A Masterpiece of Erwin Gutawa”. Rabu (9/2/2011) lalu, misalnya, ia berlatih dengan para seniman bas, Yance Manusama, Indro Hardjodikoro, Barry Likumahuwa, dan Fajar Adi Nugroho.

Pada pergelaran nanti akan ada para bassist unjuk diri. Maklum, Erwin pada era 1980-1990-an adalah pemain bas band Karimata yang berawak Candra Darusman, Aminoto Kosin, Denny TR, dan Budi Haryono.

Kemudian, hari berikutnya, Kamis malam, ia berlatih dengan Iwan Fals yang menjadi tamu pergelaran. Erwin malam itu tetap dengan gaya khasnya, kaus lengan panjang warna hitam, blue jeans, dan sneaker. Jari jemarinya menari-nari di udara mengikuti lagu.

Dia tak segan mengulang-ulang bagian lagu yang dianggap kurang pas. Sesekali latihan disela dengan diskusi untuk mengurangi atau menambah bagian tertentu lagu. Di bagian vokal, ia tak segan meminta Iwan menambah dengan teriakan atau lengkingan suara khas hingga menemukan format paling sesuai.

Iwan dilibatkan dalam konser karena Erwin pernah menggarap ulang aransemen lagu ”Mata Dewa” tahun 1989 dan ”Izinkan Aku Mencintaimu”. Dalam konser, legenda keroncong Waljinah juga akan didatangkan dari Solo, Jawa Tengah. Erwin pernah melibatkan pelantun tembang ”Walang Kekek” ini dalam album Chrisye, Badai Pasti Berlalu (1999).

”Konser ini seperti perjalanan dari apa yang pernah saya bikin. Tetapi, saya juga ingin membuat sesuatu yang baru,” kata Erwin tentang konser yang digelar KG Production bersama Dyandra Promosindo itu.

Konser nanti, lanjutnya, juga menjadi gambaran ideal versi Erwin tentang musik dalam industri musik di Indonesia.

”Saya ingin ngasih tahu masyarakat, juga teman-teman di industri musik, inilah musik yang saya rekomendasi. Semoga penonton sepakat dengan rekomendasi saya nanti,” kata Erwin yang melibatkan 90 pieces orkestra itu.

Perjalanan tiga dekade

Erwin Gutawa aktif bermusik sejak usia belia. Saat duduk di bangku SMP, seputar pertengahan era 1970-an, ia sudah bermain musik pada acara Bina Musika asuhan Agus Rusli di TVRI. Rekan seangkatannya pada acara itu adalah Cendi Luntungan, yang kini dikenal sebagai drumer jazz, dan pencipta lagu Dodo Zakaria (almarhum).

Awal tahun 1980-an Erwin muncul lagi di TVRI, kali ini sebagai penata musik pada acara musik Telerama asuhan Isbandi.

Taruh kata Erwin mulai bermusik sejak medio 1970-an, maka ia telah 35 tahun menggeluti musik. Ia ikut menorehkan kreasinya pada musik pop negeri ini.

Ia pernah terlibat dalam kerja kreatif dengan beragam musisi, penyanyi, kelompok musik sebagai pemain musik, penata musik, penggubah lagu, produser, konduktor orkestra, dan peran-peran lain yang menunjang lahirnya karya kreatif.

Sekadar catatan, medio Desember 2010 hingga awal Januari 2011, Erwin menggarap musik untuk ”Musikal Laskar Pelangi”. Ini bukan musikal pertama yang digarapnya. Sebelumnya, tahun 2008, Erwin menjadi pengarah musik pada ”P Ramlee The Musical” di Kuala Lumpur, Malaysia.

Tahun 2005 ia melesat ke London, Inggris, sebagai konduktor London Symphony Orchestra di Royal Albert Hall. Saat itu Erwin tampil mengiringi penyanyi Siti Nurhaliza. Begitu lebar spektrum musikalitasnya.

Dia juga banyak terlibat proyek rekaman atau konser dengan sederet penyanyi. Sebutlah antara lain Ruth Sahanaya. Ingat Ruth dengan musik Erwin menang pada Midnight Sun Song Festival Ke-5 di Finlandia tahun 1992 lewat lagu ”Kaulah Segalanya”.

Menyebut beberapa saja, Erwin juga menggarap penyanyi Sheila Madjid, Krisdayanti, Rossa, Iwan Fals, dan Chrisye. Dengan Chrisye, Erwin terlibat pada beberapa album, termasuk Badai Pasti Berlalu dan Dekade.

Reinterpretasi

Ketika membuat album Badai Pasti Berlalu, Erwin sudah mempertimbangkan bahwa garapan musiknya akan mendapat reaksi ramai. Pasalnya, album Badai Pasti Berlalu produksi tahun 1977 atau versi ”orisinal” yang dilahirkan

Chrisye, Eros Djarot, dan Yockie Suryoprayogo itu oleh penikmatnya dianggap monumental untuk ”diacak-acak”.

”Semangat membuat kembali album Badai Pasti Berlalu waktu itu, saya justru pengen bikin beda. Saya melakukan reinterpretasi, bukannya ’mengacak-acak’,” kata Erwin.

Anggapan mengacak-acak juga pernah dialamatkan kepadanya ketika menggarap lagu-lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus dalam album Salute to Koes Plus/Bersaudara (2004). Padahal, setiap karya seniman, termasuk yang telah melegenda, sangat terbuka untuk dibaca ulang, direinterpretasi terus-menerus. Justru dengan cara demikian, karya mereka hidup dari zaman ke zaman.

Erwin dalam beberapa album mencoba meletakkan karya seniman pendahulunya ke dalam konteks musik hari ini, dan ternyata berhasil. Setidaknya, lagu Koes Plus ”Andaikan Kau Datang”, yang populer tahun 1971-1972, populer kembali lewat garapan Erwin,

Salute to Koes Plus/Bersaudara dengan suara Ruth Sahanaya. Begitu juga ”Kisah Kasih di Sekolah” milik Obbie Messakh yang kondang pada paruh kedua 1980-an kembali populer lewat suara Chrisye dalam album Dekade (2002).

Semangat reinterpretasi itu akan tampak dalam konser ”A Masterpiece of Erwin Gutawa”. Dia akan membaca kembali sosok Chrisye dengan ”kacamata” hari ini lewat penyanyi Afgan dan Vidi Aldiano. Juga karya Titiek Puspa lewat penyanyi Rossa.

”Dalam pergelaran ini, kami bercerita tentang siapa pun yang pernah hebat, lewat nyanyian,” katanya.

Kata masterpiece yang menempel pada tajuk pergelaran, dengan demikian tak saja untuk Erwin, tetapi juga bagi seniman yang karyanya pernah menghiasi Tanah Air. Erwin dalam konser nanti memosisikan diri sebagai tuan rumah.

”Saya menjadi tuan rumah. Panggung itu rumah saya,” katanya.

Dan, penonton akan menjadi tamu yang disuguhi musik masakan tuan rumah, Erwin Gutawa.

Erwin Gutawa

• Lahir: Jakarta, 16 Mei 1962

• Istri: Lufti Andriani

• Anak: - Aluna Sagita (17)- Aura Aria Gutawa (3)

• Pendidikan: Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia

• Album, sebagai penata musik: Badai Pasti Berlalu (1999), Dekade (2002), Salute to Koes Plus/Bersaudara (2004), Rockestra (2007)

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono