A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: file_get_contents(http://xml.kompas.com/data/banner_on_keyword/on_keyword.php) [function.file-get-contents]: failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found

Filename: controllers/read.php

Line Number: 346

Candi Tlatar Kemungkinan Dipindah - KOMPAS.com
Jumat, 25 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Juli 2014 | 05:30 WIB
Candi Tlatar Kemungkinan Dipindah
Penulis: Thomas Pudjo Widijanto | Minggu, 13 Februari 2011 | 18:55 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Candi Tlatar di Dusun Sengi, Desa Rogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, akan diselamatkan dari ancaman banjir lahar dingin dari Gunung Merapi, yang dimungkinkan masih akan terjadi di tahun-tahun mendatang. Satu-satunya penyelamatan adalah pemindahan, dan itu sudah dilakukan studi, bukan hanya dari kalangan arkeolog namun juga melibatkan berbagai ahli dari berbagai disiplin.

Drs Tri Hatmadji, Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah, di Kalasan, menjawab pertanyaan Kompas, Sabtu (12/2/2011), menyatakan, persiapan pemindahan itu telah dikaji oleh tim dari Fakultas Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada (UGM), Fakultas Geografi dan Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu budaya UGM, serta tim dari BP3 Jawa Tengah. Kesimpulannya diusulkan pemindahan sementara.

"Kalau memang lahar dingin dipastikan tidak akan mengancam keberadaan candi, bisa dikembalikan lagi ke tempatnya," ujarnya.

Ancaman lahar dingin pada Candi Tlatar ini, menurut Gutomo, Kepala Seksi Pelestari dan Pemanfaatan dari kantor BP3, terjadi setelah cekdam Tlatar jebol oleh bajir lahar dingin. Jebolnya dam Tringsing yang menyusul kemudian, juga berakibat makin parahnya penggerogosan areal candi. "Kalau ini terbiarkan lama-kelamaan lahan lingkungan candi akan terus tergerogos, dan candi dikhawatirkan bisa roboh," katanya.

Baik Tri Hatmaji maupun Gotomo menyatakan, meskipun sekeliling wilayah candi sudah di talut, namun pengalaman menunjukkan talut itu selalu jebol jika terjadi banjir lahar dingin di Kali Pabelan. "Bahkan kalau terjadi banjir lahar dingin sekali lagi dalam volume besar dimungkinkan candi akan terbawa hanyut oleh arus," kata Gutomo.

Pemindahan bangunan kuno terlebih candi, menurut Gutomo, bukan pekerjaan gampang, karena struktur candi harus dibuat seperti keadaan semula. Di samping itu, membutuhkan tenaga-tenaga ahli penyetel batu yang sudah terlatih. Pengalaman pemindahan candi pernah dilakukan pada Candi Selogriyo juga di Magelang karena ancaman longsor. Pemindahan candi ini juga membutuhkan waktu cukup lama.

Candi Tlatar, yang memiliki luas 8 x 8 meter, menurut Gutomo, memiliki catatan penting dalam sejarah dunia arkeologi. Candi Hindu yang dibuat seputar abad IX ini meskipun kecil diduga merupakan karya Raja Balitung, tokoh terkenal dalam khazanah sejarah Mataram Kuno.

Dugaan candi itu karya Balitung, dengan ditemukannya prasasti di situs itu. Isi prasasti menyebutkan bahwa tanah Tlatar mendapatkan anugerah Sima (wilayah bebas pajak). Prasasti ditandatangani oleh Raja Balitung. "Biasanya, pembebasan tanah menjadi tanah perdikan atau tanah bebas pajak, disertai dengan pembangunan tempat persembahyangan. Makanya diduga candi itu karya Raja Balitung," ungkapnya.

Di wilayah dataran tinggi Magelang, khususnya di wilayah seputaran Gunung Merapi yang relatif saling berdekatan dan relatif memiliki kesamaan bangunan satu sama lain. Selain Candi Tlatar, di seputaran itu juga ada Candi Asu, Candi Ngawen, Candi Lumbung, dan Candi Pawon. Apakah semua candi itu buatan Raja Balitung, hanya prasasti di Candi Tlatar yang menyebut nama Raja Balitung.

Editor :
Tri Wahono