Minggu, 21 September 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 21 September 2014 | 21:06 WIB
Merajut Dialog Antar Peradaban
Penulis: | Kamis, 27 Januari 2011 | 00:37 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

istimewa

Oleh: Muhammadun*

Judul buku      : Masa Depan Islam: Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan dengan Barat Penulis             : John L. Esposito Pengantar        : Karen Armstrong Penerbit           : Mizan Bandung Tebal               : 343 halaman Cetakan           : I, Desember 2010

Peradaban dunia awal abad ke-21 memang telah diguncangkan oleh tragedi 11 September 2001, tetapi tragedi itu bukanlah “akhir sejarah” dalam merajut dialog antar peradaban. Tragedi tersebut justru menjadi momentum bangsa dunia merumuskan strategi yang jitu dalam merajut dialog antar peradaban. Isu-isu seputar terorisme, radikalisme dan revivalisme justru dijadikan titik tolak dalam mencari landasan dasar terwujudnya sinergi lintas peradaban. Tantangan kemajemukan justru menjadi modal kuat mengikis benturan antara Barat dan non-Barat.

John L. Esposito lewat buku terbarunya bertajuk “Masa Depan Islam: Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan dengan Barat” melihat bahwa krisis apresiasi lintas peradaban justru menjadikan Islam semakin teguh menampilkan wajah ramahnya dalam menyemai peradaban baru dunia. Stigma terorisme yang sempat melekat pasca tragedi 11 September justru membuktikan Islam semakin solid meneguhkan diri sebagai kaum moderat. Umat Islam sendiri yang bermukim di Barat dan telah melakukan asimilasi dengan masyarakat Barat justru menjadi “juru bicara” yang membawa wajah moderatisme ajaran Islam.

Kelihatan sekali bahwa agenda benturan lintas peradaban merupakan agenda politik konspirasi yang dimainkan politisi transnasional dalam memecah gerak perdamaian yang dihembuskan kaum agamawan. John Esposito memahami dengan baik wajah gerakan umat Islam di Barat yang semakin cepat dalam merespon berbagai tantangan modernitas. Para pemikir semisal Tariq Ramadhan, Amina Wadud, Mustafa Ceric, Khalid Abou el-Fadl, dan sebagainya menjadi juru bicara yang fasih dalam menjabarkan ajaran Islam yang toleran, damai, dan suka persahabatan. 

Di samping mereka yang berada di Barat, umat Islam yang tersebar di Timur juga berkontribusi besar dalam merekatkan kembali dialog lintas peradaban. Pemikiran Sir Muhammad Iqbal, Fazrur Rahman, Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid dan sebagainya semakin membuat bunga Islam makin semerbak. Pemikiran dan gerak keilmuan yang mereka jalankan menjadi jembatan dialog yang sinergis, sehingga ide dan pemikiran mereka semakin dijadikan referensi berbagai kajian dan gerak perdamaian di masyarakat Barat. 

Tantangan masa depan Islam sebenarnya masih berada di bumi Timur Tengah sendiri yang masih banyak dicederai konflik politik etnis, suku, golongan, mazhab dan kepentingan. Umat Islam di Timur Tengah masih juga terjebak dalam kubangan feodalisme dan fanatisme mazhab yang terkurung dalam jubah politik sektarian. Negara juga masih dihuni kaum otoriter yang despotik. Masyarakat Timur Tengah layak dikritik dalam merajut solidaritas peradaban Islam masa depan. 

John L Esposito bersama Karen Armstrong telah ikut serta dalam menghapus streotip negatif dunia Islam kepada Barat, termasuk ihwal Timur Tengah sendiri. Tetapi mereka juga memberikan “catatan kaki” bahwa kalau Islam masih terus dibajak dengan kepentingan sesaat, masa konflik lintas peradaban sewaktu-waktu bisa terjadi lebih dahsyat lagi. Sudah saatnya, bagi Esposito, masyarakat Timur Tengah sadar diri dengan tantangan kemajemukan global dalam mencipta peradaban baru. Kemajemukan bukan untuk dipertentangkan, melainkan menjadi modal dasar meraih kerekatan dan kesolidan dalam melakukan gerak dialog lintas peradaban.

*Peneliti Center for Pesantren and Democracy Studies (Cepdes) Jakarta

Editor :
Jodhi Yudono