Selasa, 2 September 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 2 September 2014 | 04:02 WIB
ISI Denpasar "Ngayah" di Pura Sibetan
Penulis: Jodhi Yudono | Selasa, 25 Januari 2011 | 04:48 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

baliaround.com
ilustrasi

DENPASAR, KOMPAS.com — Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar menggelar pertunjukan amal atau ngayah dengan menampilkan sejumlah tari untuk melengkapi kegiatan ritual yang digelar masyarakat Desa Adat Sibetan, Kabupaten Karangasem, daerah ujung timur Pulau Bali.

"Kegiatan ngayah saat masyarakat menggelar kegiatan ritual itu merupakan salah satu model pelaksanaan tri darma perguruan tinggi yang diterapkan lembaga pendidikan tinggi seni di Bali," kata Dekan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar I Ketut Garwa, SSn, MSn, di Denpasar, Senin.

Ia mengatakan, kegiatan yang melibatkan puluhan mahasiswa dan dosen itu juga dilakukan di delapan kabupaten dan satu kota di daerah ini saat masyarakat desa adat menggelar kegiatan ritual berskala besar.

"Pola ngayah yang diterapkan dalam pengabdian masyarakat selama ini menjadi inspirasi bagi Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DP2M) Ditjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional untuk menggagas komunitas ngayah sebagai bentuk pengabdian lembaga pendidikan tinggi kepada masyarakat," ujar Ketut Garwa.

Ngayah merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat, pendidikan, dan penelitian. Ngayah adalah upaya membantu secara ikhlas untuk kelancaran kegiatan ritual di pura yang digelar masyarakat desa adat di Bali, sekaligus melakukan penelitian.

Oleh karena itu, ISI Denpasar melaksanakan kegiatan ngayah secara berkesinambungan, yang mampu memberikan manfaat bagi kedua belah pihak, baik masyarakat maupun lembaga pendidikan tinggi seni, kata Ketut Garwa.

Sejumlah  warga masyarakat Sibetan, menurut Ketut Garsa, mengungkapkan kekagumannya akan pementasan mahasiswa dan dosen FSP ISI Denpasar.

Penampilan mahasiswa, termasuk mahasiswa asing yang sedang mengikuti proses belajar mengajar di ISI Denpasar ikut ambil bagian, mampu memukau perhatian masyarakat yang sedang melaksanakan kegiatan ritual.

Penampilan penabuh wanita Asti Pertiwi ISI Denpasar mampu menarik perhatian masyarakat pedesaan itu, kemudian pementasan tari selat segara, wiranjana, jauk manis, satya brasta, margapati, oleg tamulilingan, serta fragmentari "Ciwa Wesaya" yang seluruhnya berlangsung selama tiga jam.

Tari jauk manis, misalnya, mengisahkan kewibawaan dan karisma seorang raja raksasa mampu mengundang  gelak tawa masyarakat, lebih-lebih saat penari mengundang salah seorang anak ke atas panggung.

"Kami sangat berterima kasih kepada ISI Denpasar yang telah ngayah untuk menyukseskan kegiatan ritual di Pura Sibetan. Penampilan seni sangat berarti bagi masyarakat kami, sekaligus upaya melestarikan seni budaya," ujar Kepala Desa Sibetan, I Nengah Sumerta, SPd.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono