Rabu, 16 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Rabu, 16 Mei 2012 | 20:05 WIB
Romo Yatno
Lahirnya Kembali Kemanusiaan
| Jodhi Yudono | Rabu, 5 Januari 2011 | 07:31 WIB
|
Share:

KOMPAS/IRENE SARWINDANINGRUM
YOSEPH SUYATNO HADIATMODJO PR

Oleh Irene Sarwindaningrum

Bergulat dengan kebersahajaan sejak masa kecilnya, Yoseph Suyatno Hadiatmodjo Pr memahami betul bahwa manusia tak bisa hidup tanpa kemanusiaan orang lain, apa pun latar belakang agama dan budayanya. Baginya, erupsi Gunung Merapi tahun 2010 merupakan kelahiran kembali kemanusiaan universal itu.

Pagi itu, 24 Desember 2010, Gereja Somohitan di Desa Girikerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, tengah bersiap menyambut misa Natal. Sejumlah penduduk sibuk di halaman gereja dan paroki di seberangnya. Untuk persiapan Natal ini, mereka meninggalkan pekerjaan membenahi rumah dan kebun salak yang hancur akibat erupsi Merapi.

Di dalam paroki, Yoseph Suyatno, salah seorang pendiri Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB), tak henti-hentinya menerima tamu. Tiga tamu pria pagi itu adalah relawan Kali Code di Kota Yogyakarta yang jaraknya belasan kilometer dari gereja di lereng Merapi itu. Mereka membahas distribusi bantuan serta keadaan Kali Code yang masih terancam banjir lahar dingin. Mereka juga membahas banjir lahar dingin di Kali Boyong semalam yang menghanyutkan pipa air yang baru saja dipasang.

Rohaniwan yang akrab disapa Romo Yatno itu terus berkoordinasi dengan pekerja kemanusiaan dari berbagai daerah. Dia juga mengoordinasi bantuan di Posko Somohitan sejak erupsi pertama, 26 Oktober 2010. Hingga sekarang, posko itu telah menyalurkan bantuan kepada lebih dari 60.000 pengungsi. Sasaran posko ini adalah para pengungsi yang minim sentuhan bantuan pemerintah.

Romo Yatno menuturkan, belakangan ini pipa saluran air penting artinya bagi penduduk sekitar lereng Merapi. Sampai kini, penduduk dusun-dusun teratas di Desa Girikerto masih sulit mendapatkan air. Pipa untuk mengalirkan air rusak dan sumber air hilang karena tertimbun material erupsi Merapi.

”Penduduk memang sudah boleh kembali dari pengungsian. Namun, di banyak dusun, keadaan masih kritis. Air belum mengalir, jalanan tertutup karena tertimbun materi erupsi. Mereka juga belum punya penghasilan karena sumber ekonomi belum pulih,” katanya.

Sejak kembali dari pengungsian beberapa pekan lalu, Romo Yatno menggalang bantuan untuk pemasangan pipa. Koordinator Kampanye Damai FPUB itu pun tak segan berutang belasan juta rupiah untuk memperoleh pipa yang dibutuhkan.

Selama erupsi, ia juga harus meninggalkan Paroki Somohitan tempatnya bertugas selama delapan tahun terakhir. Namun, dari pengungsiannya kegiatan kemanusiaan tidak berhenti.

Bersama pasukan hereg-hereg (disebut demikian karena mereka menggunakan jip yang berbunyi keras saat memberikan bantuan), misalnya, ia menembus dusun-dusun yang saat itu dalam ancaman erupsi untuk menyalurkan logistik kepada para penjaga desa. ”Para penjaga desa adalah penduduk yang bersedia bertaruh nyawa menjaga desa yang ditinggal warga mengungsi,” tuturnya.

Kemanusiaan

Kegiatan kemanusiaan merupakan salah satu program FPUB. Kegiatan ini tak memandang suku, agama, ras, atau golongan (SARA). Semua pihak dari berbagai agama dan aliran kepercayaan dibantu dan saling membantu. Di kawasan timur Sleman, Koordinator Utama FPUB yang juga pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummahat, Kotagede, Yogyakarta, KH Abdul Muhaimin, melakukan kegiatan kemanusiaan yang sama.

”Dalam bencana ini tidak ada yang namanya bencana Kristen, bencana Islam, atau bencana aliran kepercayaan. Semua orang menghadapi bencana yang sama,” tuturnya.

Romo Yatno dan KH Abdul Muhaimin adalah penggerak FPUB. Dideklarasikan 24 Maret 1997, forum tanpa struktur organisasi itu semula dimaksudkan untuk mencegah agar kerusuhan bernuansa SARA tidak memasuki Yogyakarta.

”Sekitar tahun 1996 kerusuhan terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Beberapa pemimpin sejumlah agama di Yogyakarta lalu sering berkumpul di Pondok Pesantren Kotagede dan tercetuslah forum ini,” katanya.

Misi utama FPUB adalah menyebarkan kedamaian lintas agama. Seiring waktu, forum ini banyak bergerak di bidang kemanusiaan dengan membawa misi perdamaian, mulai bencana tsunami di Aceh hingga gempa bumi di Yogyakarta pada 2006. Kini jaringan FPUB meluas di beberapa daerah, bahkan ke sejumlah negara. FPUB juga masuk dalam jejaring kerukunan lintas agama internasional.

Kegigihan Romo Yatno memperjuangkan perdamaian agama dan kemanusiaan membuahkan penghargaan internasional, yakni Ashoka Awards untuk kemanusiaan dan perdamaian yang diterimanya di Kanada tahun 2010.

Tokoh kunci

Sejak remaja Romo Yatno telah bergelut di bidang kemanusiaan dan sosial. Dua tokoh kunci yang membentuk jiwa kemanusiaannya adalah Suster Martinetta dan YB Mangunwijaya atau Romo Mangun. Ia ”mengikuti” Romo Mangun selama 13 tahun. Adapun Suster Martinetta adalah biarawati yang bergiat melayani gelandangan dan pengemis di Kota Semarang pada 1970-an.

Di bidang sosial kemasyarakatan, ia memegang pesan Romo Mangun. ”Omahmu ojo kok pageri beling ning pagerono piring. Benteng terkuat dari kehidupan bermasyarakat adalah tetangga di sekitar tempat kita tinggal. Meski jaringan kita di pelbagai pelosok dunia, kalau dengan tetangga terdekat kita tak akur, ya bagaimana,” tuturnya.

Lahir dalam keluarga sederhana, kesadaran bahwa manusia tak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain telah tumbuh pada Romo Yatno sejak kecil. Ini kembali dia saksikan dalam bencana Merapi yang memakan lebih dari 150 korban jiwa dan ribuan orang kehilangan nafkah. ”Orang boleh saja kaya dan berkuasa pada saat tenang. Tapi, saat bencana, semua itu tak ada gunanya karena setiap orang tetap butuh bantuan orang lain,” katanya.

Maka, Natal 2010 pun mempunyai makna berbeda. Baginya, Natal tahun ini sudah terjadi sejak erupsi pertama Merapi pada 26 Oktober lalu, yakni kelahiran kembali kemanusiaan di saat penghargaan terhadap perbedaan semakin luntur. Saat itu, orang dari berbagai agama bekerja bersama dan merengkuh indahnya kebersamaan.

Perayaan Natal 2010 di lereng Merapi sederhana. Sebagian besar umat Kristiani sibuk membenahi hidupnya setelah mengalami bencana selama sekitar sebulan. Namun, lahirnya kemanusiaan memang sulit ditemui di tengah meriahnya sebuah perayaan.

Sumber :
Kompas Cetak