Sabtu, 30 Agustus 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 30 Agustus 2014 | 09:27 WIB
Sedekah Laut Cilacap Digelar Sederhana
Penulis: Jodhi Yudono | Selasa, 28 Desember 2010 | 22:19 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Kompas/JB Kristanto

CILACAP, KOMPAS.com--Kegiatan tahunan "Gelar Budaya Sedekah Laut" yang diselenggarakan nelayan bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cilacap, Selasa, digelar secara sederhana.

Ketua Rukun Nelayan Pandanaran Kelurahan Cilacap, Kecamatan Cilacap Selatan, Misban, mengatakan nelayan Cilacap saat ini sedang menghadapi masa paceklik yang berkepanjangan sehingga kegiatan sedekah laut tersebut digelar secara sederhana.

"Biasanya pada bulan Agustus hingga Desember, nelayan sedang panen ikan tetapi hingga saat ini masih paceklik sehingga kami menggelar tradisi sedekah laut ini dengan dana seadanya yang didukung sponsor dan Disbudpar," katanya.

Menurut dia, dana yang terkumpul dari 2.225 anggota Rukun Nelayan Pandaran dan sponsor hanya mencapai Rp30 juta.

Dana tersebut, kata dia, digunakan untuk pembuatan "jolen" (tempat sesaji) beserta isinya senilai Rp2 juta dan sisanya untuk kegiatan lain maupun hiburan berupa pergelaran wayang kulit.

"Biasanya, dana yang terkumpul bisa lebih dari itu. Meskipun demikian, kami tetap menggelar tradisi ini untuk memohon rezeki kepada Tuhan Yang Maha Esa agar nelayan bisa terbebas dari masa paceklik yang berkepanjangan," katanya.

Secara terpisah, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Cilacap Badrudin mengatakan, "Gelar Budaya Sedekah Laut" merupakan agenda tahunan sebagai upaya untuk mempertahankan tradisi yang telah berkembang sejak ratusan tahun silam.

Kendati terkesan sederhana, kata dia, rangkaian "Gelar Budaya Sedekah Laut" kali ini tidak banyak perbedaan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Menurut dia, rangkaian kegiatan dimulai sejak Senin (27/12) siang berupa ziarah ke Pulau Majeti (tempat tumbuhnya bunga Wijayakusuma, red.) di selatan Pulau Nusakambangan yang dilanjutkan dengan "tirakatan" atau tasyakuran semalam suntuk yang dipusatkan di Pendopo Wijayakusuma Sakti Kabupaten Cilacap.

Selain di pendopo, acara "tirakatan" juga digelar di delapan rukun nelayan di eks Kota Administratif Cilacap. "Puncak acara digelar hari ini, berupa larung sesaji di Pulau Majeti. Prosesinya sama dengan tahun-tahun sebelumnya meskipun sedikit ada perbedaan," kata Badrudin.

Sebelum arak-arakan sesaji diberangkatkan, kata dia, barisan kesenian lengger terlebih dahulu berangkat sebagai "pewara" atau pemberi informasi bahwa prosesi sedekah laut segera dimulai.

Sementara itu di Pendopo Wijayakusuma Sakti dilakukan prosesi yang menggambarkan "seserahan" (penyerahan) sesaji berupa "jolen tunggul" (tempat sesaji) dari Adipati Cakrawerdaya III (Bupati Cilacap ke-3) kepada para nelayan.

Prosesi penyerahan sesaji kali ini berbeda dengan pelaksanaan sedekah laut tahun-tahun sebelumnya karena sosok Adipati Cakrawerdaya III diperankan oleh Pelaksana Tugas Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji yang merupakan pemimpin tertinggi di Kabupaten Cilacap.

Biasanya sosok Adipati Cakrawerdaya III diperankan oleh aktor atau pejabat yang ditunjuk oleh Bupati Cilacap pada malam "tirakaran".

Sosok Adipati Cakrawerdaya III selanjutnya memerintahkan nelayan untuk menggelar sedekah laut sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Mahaesa atas limpahan rahmat-Nya selama ini.

Selain itu, Adipati Cakrawerdaya III mewisuda Tumenggung Duta Pangersa sebagai pemimpin arak-arakan sesaji menuju Pantai Teluk Penyu.

Setelah prosesi tersebut, arak-arakan yang terdiri iring-iringan "jolen tunggul" yang mewakili pemerintahan dengan pengawalan puluhan prajurit, barisan pembawa umbul-umbul, dua kereta kuda, dan iring-iringan sembilan "jolen" yang mewakili delapan rukun nelayan se-eks Kota Administratif Cilacap dan masyarakat Kampunglaut diberangkatkan dari Pendopo Wijayakusuma Sakti menuju Pantai Teluk Penyu.

Sesampainya di Pantai Teluk Penyu, seluruh "jolen" tersebut segera diserahkan kepada juru larung yang dilanjutkan dengan doa kepada Tuhan YME sebagai wujud syukur dan permohonan keselamatan kepada-Nya.

Selanjutnya seluruh "jolen" berisi sesaji tersebut dibawa menggunakan perahu ke Pulau Majeti di selatan Pulau Nusakambangan untuk dilarung di sana dengan diiringi ratusan perahu nelayan.

Kegiatan "sedekah laut" merupakan tradisi tahunan yang sudah berlangsung sejak zaman pemerintahan Adipati Cakrawerdaya III pada tahun 1817.

Namun, tradisi tersebut sempat terhenti dan dihidupkan kembali semasa Bupati Poedjono Pranjoto pada tahun 1982 hingga sekarang.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono