Kamis, 2 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 2 Oktober 2014 | 13:22 WIB
Karya Enoch Harus Diteladani
Kamis, 23 Desember 2010 | 08:35 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Bandung, Kompas - Kiprah seni seniman tari, Enoch Atmadibrata (84), sangat penting diteladani pekerja seni Jawa Barat. Enoch adalah sosok kreatif yang mau terus belajar mengembangkan beragam pengetahuan baru.

”Selain aktif berkesenian, Enoch adalah pemikir. Tidak banyak seniman yang memiliki minat dan kemauan serupa dengannya,” kata Guru Besar Tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung Iyus Rusliana dalam diskusi ”Apresiasi Karya Enoch Atmadibrata di Grha Kompas Gramedia Bandung, Rabu (22/12).

Diskusi ini diselenggarakan menjelang pergelaran malam dana di STSI Bandung sebagai bentuk dedikasi bagi Enoch yang kini terbaring sakit.

Iyus mengatakan, Enoch sangat piawai menciptakan beragam jenis tarian. Beberapa tarian ciptaannya adalah tari cendrawasih, tari hujan munggaran, sendratari lutung kasarung, tari katumbiri, dan tari gatotkaca. Tidak sekadar menciptakan tari, ia juga berani memasukkan unsur tembang, gamelan degung, dan suling dalam tarian. Hasilnya adalah bentuk tarian yang khas dan berbeda dari yang pernah ada sebelumnya.

Iyus menambahkan, pelajaran penting lainnya adalah kemauan Enoch terus mempelajari hal baru. Hal itu dibuktikan lewat minatnya menciptakan karya sastra dan teater. Bahkan, ia juga sangat aktif mendokumentasikan buah pikirannya dalam bentuk tulisan.

”Tulisannya menjadi sumber referensi sejarah bagi banyak penari di Jabar,” katanya.

Iyus menambahkan, Enoch juga memiliki perhatian tinggi di sektor pendidikan. Ia tercatat sebagai perintis Konservatori Tari Indonesia, perintis Jurusan Tari di Sekolah Menengah Karawitan Negeri Bandung, dan pendiri Jurusan Tari Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Bahkan, ia sempat aktif mengajar di Akademi Seni Tari Indonesia Surakarta dan Akademi Seni Tari Yogyakarta.

”Oleh karena itu, sangat disayangkan bila karya dan teladan Enoch tidak diketahui penari muda Jawa Barat. Tidak banyak yang memiliki kemampuan dan bakat seperti Enoch,” katanya.

Pengamat budaya, Hawe Setiawan, mengatakan, mengangkat kembali kiprah Enoch akan menjadi sumbangan berharga bagi seniman muda Jabar. Tidak sekadar mengenang karya yang telah diciptakannya, tetapi juga mampu memberikan semangat guna mengembangkan seni tari.

”Harus dibangun apresiasi kolektif terhadap karya Enoch dan seniman besar Jabar lainnya. Kita masih lemah menciptakan suasana itu,” katanya.

Enoch kini terbaring sakit di kamar nomor 201, Ruang Tulip, Rumah Sakit Kebonjati, Bandung. Dokter mendiagnosis Enoch menderita gangguan prostat, jantung, dan diabetes. Sedianya, penerima Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Megawati Soekarnoputri ini akan menjalani operasi sepekan lalu. Namun, hal itu belum terlaksana terkait faktor usia dan kondisi kesehatan yang menurun.

Asep Nugraha (31), anak sulung Enoch, mengatakan, kondisi ayahnya belum membaik. Enoch masih terbaring tak berdaya di tempat tidur. (CHE)

Editor :