BANDA ACEH, KOMPAS.com--Sebuah novel berjudul "Rabet, Runtuhnya Jerman Timur" karya Martin Jankowski terjemahan bahasa Indonesia diluncurkan di Banda Aceh, Selasa.
Novel karya Martin penulis asal ibu kota Jerman, Berlin itu, mengisahkan kejadian sejarah pada 1989 dengan sudut pandang dari seorang masyarakat bawah bernama Benjamin Grasmann dalam mengakhiri perang dingin saat itu.
Lewat Benjamin yang bekerja sebagai musisi dalam novel itu, Martin menuangkan kehidupan di balik tembok kediktatoran penguasa hingga runtuhnya Jerman Timur yang diprakarsai oleh para kaum bawah yang ingin kebebasan dan anti sosialis.
"Kehidupan yang saya alami saat itu, menjadi sebuah inspirasi untuk menceritakan kembali runtuhnya tembok Berlin yang mempengaruhi politik di dunia termasuk Indonesia dengan tokoh utama masyarakat bawah bukan kaum intelektual," katanya.
Ia menyebutnya, kejadian yang luar biasa itu merupakan peristiwa yang terjadi tanpa ada ceceran darah saat rezim kediktatoran itu berakhir.
"Itu merupakan fakta sejarah yang saya kupas menjadi sebuah fiksi agar mendapat sebuah inspirasi bagi masyarakat lainnya di dunia khususnya di Aceh," katanya.
Novel yang sudah diterjemahkan dalam 12 bahasa itu, sebelumnya sempat mendapat protes saat diluncurkan di negaranya pada 1999, namun saat perayanaan mengenang runtuhnya Jerman Timur karyanya mendapat penghargaan.
Dalam novelnya itu, ia melibatkan kisah asmara antara Benjamin dengan seorang gadis bernama Gesa yang hubungan cintanya berlangsung tidak harmonis, meski kediktatoran berakhir.
Buku yang diluncurkan di toko buku Dokarim, Komonitas Tikar Pandan tersebut mendapat respon dari puluhan masyarakat Aceh yang hadir pada acara peluncuran yang turut dihadiri Rektor Sekolah Dokarim Fozan Santa.
Direktur Tikar Pandan Azhari mengatakan Marthin merupakan seorang musisi asal Jerman yang telah akrab dengan Indonesia dan Aceh khususnnya, sehingga ia memilih peluncuran buku yang diterbitkan Waktoe itu di provinsi berpenduduk sekitar 4,6 juta jiwa itu.
Ia berharap kehadiran buku tersebut dapat memberikan inspirasi bagi masyarakat Aceh terhadap berbagai kejadian sejarah yang patut untuk diceritakan dalam berbagai sudut pandang.


