Selasa, 30 September 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 30 September 2014 | 22:50 WIB
TAJUK RENCANA
Sabtu, 30 Oktober 2010 | 04:27 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Fenomena Mbah Maridjan

Mbah Maridjan almarhum sosok fenomenal. Keteguhan sikap dan tanggung jawab atas keyakinan hati nurani secara modern mungkin dianggap naif.

Cara kepergiannya menginspirasi banyak hal. Orang membuat penafsiran dan penilaian, menarik bahan belajar, di antaranya perlu bertemunya kearifan lokal dan pengamatan analisis-rasional, tradisionalitas dan modernitas. Kepergian dan cara kepergian Mbah Maridjan menyampaikan pesan tentang relativitas kehidupan, mirip-mirip kepergian Mbah Surip, bahwa kehidupan tidak monotafsir, selalu multifaset, nisbi, dan tidak serba mutlak.

Alam dan lingkungan, taruh Merapi, bukanlah sosok yang ”menakutkan dan menggentarkan” (Rudolf Otto), tetapi disikapi sangat manusiawi, dipersonifikasi dengan nama-nama magis. Merapi menjadi bagian utuh dari keseharian, pun berkah yang disyukuri.

Kerusakan serta korban manusia dan hewan akibat ulah Merapi, Kerajaan Mataram Kuno pun hancur di abad X Masehi karena letusan Merapi, dianggap integral dengan siklus kehidupan. Begitu juga gempa-tsunami Mentawai, menegaskan bahwa kearifan lokal yang bisa saja irasional merupakan representasi kebersatuan psikis dan kultural manusia dengan alam dan tidak selalu perlawanan ”kejutan budaya” atas masifikasi modernitas.

Fenomena Mbah Maridjan membawa pesan agar kita tidak memutlakkan analisis-rasional, tetapi melengkapkan kearifan lokal dalam analisis-rasional dalam mitigasi, seismologi, vulkanologi. Janganlah musibah beruntun cepat- cepat dikaitkan dengan praksis pemerintahan. Refleksi yang diwarnai kepentingan politis justru kontraproduktif.

Melihat fenomena alam dengan sosok aktual Mbah Maridjan sebaiknya membuat kita semakin arif. Fenomena itu, juga gempa-tsunami Mentawai, kita tempatkan sebagai bahan belajar memahami kehidupan. Bahwa kita hidup di atas bara api, tinggal di perbatasan tiga lempengan Eropa-Asia, Asia-Pasifik, dan Australia-Asia yang setiap saat berderak-derak.

Mengenal Tanah Air tidak cukup tahu data fisik, tetapi juga memahami kearifan-kearifan lokal seperti sosok Mbah Maridjan dalam kasus Merapi. Kearifan itu membawa pesan bertemunya sikap ”titen” dengan analisis-rasional modern yang serba terukur.

Pesan yang dibawa adalah menemukan saat yang tepat dan tegas, misalnya pemindahan atau relokasi permukiman, disampaikan secara arif, bukannya justru menambah dalamnya luka, apalagi mengelompokkan kearifan lokal sebagai fenomena ketertinggalan.

Kita yakinkan Indonesia bisa maju karena bersatu. Mengenal Tanah Air, merajut kekayaan alam dan kultur peradabannya untuk membangun kekuatan bersama. Terantuk-antuknya kaki oleh perilaku kurang terpuji elite legislatif, eksekutif, dan yudikatif menjadi nisbi jika kita hadapkan pada kekayaan faktor-faktor cara melihat dan menyikapinya dengan serba alternatif, jernih, dan utuh.

***

Tantangan ASEAN ke Depan

Apa yang diharapkan dari KTT Ke-17 ASEAN yang diselenggarakan di Hanoi, Vietnam? Ke mana organisasi regional ini akan melangkah?

Barangkali masih banyak pertanyaan lain yang bisa diajukan berkaitan dengan pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi Ke-17 ASEAN di Hanoi, Vietnam, yang dimulai Kamis lalu.

Pertanyaan-pertanyaan di atas kiranya sejalan dengan pidato pembukaan tuan rumah, Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung. Dalam pidatonya, Nguyen Tan Dung mengatakan, KTT akan berfokus pada pembahasan proses pembangunan masyarakat ASEAN dan mendefinisikan prioritas di masa depan.

Selain itu, Nguyen Tan Dung juga mengatakan, ASEAN seharusnya berusaha membangun ASEAN+3 atau ASEAN plus China, Jepang, dan Korea Selatan. Ketiga negara ini merupakan kekuatan ekonomi Asia, yang tentu juga merupakan kekuatan politik. Dengan demikian, pengaruh negara-negara terhadap kawasan sangat kuat dan terasa. Karena itu, ketegangan hubungan antara China dan Jepang belakangan ini, baik langsung maupun tidak langsung, akan berpengaruh pada kawasan Asia Tenggara dan Timur. Itulah sebabnya, ketegangan hubungan kedua negara akan dibahas dalam KTT.

Selama KTT, akan berlangsung juga KTT tahunan ASEAN+1, KTT Ke-2 ASEAN-Rusia, ASEAN-Australia, ASEAN-Selandia Baru, KTT Ke-3 ASEAN-PBB, A S E A N + 3, dan KTT Ke-5 Asia Timur. Banyak agenda yang akan dilangsungkan selama KTT. Kita berharap semua pertemuan itu berdampak positif, baik bagi ASEAN sebagai organisasi maupun bagi anggota masing-masing.

Kita mengakui bahwa ASEAN berhasil meminimalkan konflik antar-anggota dan membantu meningkatkan kerja sama ekonomi. Akan tetapi, aturan kerja sama yang longgar, katakanlah yang tecermin dalam ”ASEAN Way”, membuat ASEAN kesulitan membangun komunitas yang benar-benar terintegrasi. Misalnya, masih tecermin adanya ketidakpercayaan antar-anggota, dengan adanya konflik perbatasan Thailand-Kamboja. Padahal, ASEAN sudah melangkah jauh, sebut saja dengan disepakatinya ASEAN Charter, ASEAN Free Trade Area (AFTA), dan ASEAN Intergovernmental Commission.

Kiranya capaian-capaian itu akan ”berkurang” n i l a i ny a kalau ASEAN tidak benar-benar mampu menjadi organisasi yang kokoh, yang antar-anggota benar-benar ada saling kepercayaan, yang mampu menyelesaikan masalah pelanggaran HAM seperti di Myanmar.

Dengan kata lain, kita melihat bahwa masih banyak persoalan di dalam ASEAN, juga hubungan antarnegara yang mendesak untuk segera diselesaikan sebelum melangkah jauh karena ini adalah bagian dari proses pembangunan masyarakat ASEAN yang sejati.

Editor :