Sabtu, 30 Agustus 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 30 Agustus 2014 | 11:26 WIB
Sajak-Sajak I Putu Gede Pradipta
Penulis: | Kamis, 14 Oktober 2010 | 02:27 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

AP PHOTO/SETH WENIG

Suluk Sukma

Jika sempat dan ada waktu Pergilah ke neraka Tengok suluk sukmaku Yang semalam datang bertamu Ditemani Tuhan yang termangu

Jangan lupa tanyakan Apakah sudah saatnya menjelma? Jadi landak, ular, kera atau bekantan Oiya, katakan aku tak mempermasalahkan Kelaminku kelak!

Nangka Utara, 28-09-2010

Bangsat*

untuk nopi suardani Bangsat, begitu katamu ketika menatap wajahku yang berkali-kali berpaling dan kehilangan binar bintang. Bangsat, katamu lagi aku belum selesai bicara, tambahmu tatap dan jangan berusaha menelan mataku, desakmu bila tidak, rajamku menelanmu Lagi-lagi bangsat, katamu seperti aku datang terlambat bercinta untuk yang kesekian kalinya dan lupa posisi yang kau suka. Tapi lagi-lagi bangsat, katamu seolah hanya itu ungkapan termulia dari luas samudera kata-katamu.

Tapi kali ini kukatakan bangsat: padamu apa tak ada makian lain, selain bangsat yang sudah letih dan lelah bahkan kehilangan tangga nada mayornya.

Oktober 2010 *)interpretasi dari cerpen “Sialan” karya Nopi Suardani

Di Tangan Sepi

Di tangan sepi mengurai tilas diri yang dilebati muram walau pagi menjelang dan tangis tak sanggup lagi menguras air mata

Di tangan sepi kujelajahi segaris pantai purbani landai dan terbengkalai di mana ombak melukis rintih sepi di kanvas sunyi

Di tangan sepi, angin berlari menjemput lukaku yang telah berbagi purnama denganmu di musim ganjil yang tak sepenuhnya berubah

Di tangan sepi akan selalulah abadi sekecap rasa cemas walau berkali menggusur, kita serpih abadi dari yang sementara maka sekuat-kuatnya melawan kian kencang jerat mencekik

September 2010

Ruang Putih

Aku renda batas sekat pikiran, semenjak melihatmu kuyup, hadir melangsam kilas waktu seiring getar hari yang gegas detik demi detik melewati sebaris ganjal gelak lampau di sini di dalam pucat hati dan bentang remang suram nadi

Kupikir ini, lekas membuat puncak iri para peri penghuni istana serat jantung purbani dan melontar sihir tongkat jemari memulai lagi pelangi di sisa riam mati memaksa getar kepak musim menyanyikan kelebat bayang matahari

Tapi ternyata jauh, jauh di dalam sini aku terlampau jauh menyendiri

4 Juni-Oktober 2010

Larut

Malam ini kau datang padaku saat udara masih basah dilanda gelisah. Aku tau apa yang menjadi maumu kali ini. Bisa kupastikan dari sorot matamu yang makin berkerut di kuras usia.

Apa telah kau siapkan sepenggal puisi buatku malam ini seperti jumpa kita pada malam-malam sebelumnya. Jawab ya, bila kau ingin jumpa ini tak percuma menyita waktu kita. Jawab ya, bila kau tak akan menemuiku selarut ini hanya untuk menterjemahkan pikiranmu yang selalu sekacau udara yang mengantarmu tepat waktu setiap malam menuju kediamanku ini.

Kau selalu saja menjawab dengan diam dan sedikit senyuman yang masih tersisa di wajahmu. Aku hafal jawaban itu, tak spesial dan tak berarti sesuatu apapun selain kau tak ingin aku bertanya lebih panjangkan?

Malam telah larut, begitu dingin dan beku. Mari kita teguk secangkir teh hitam sambil mengurai tubuh puisi yang kau bawakan, sebelum kita lagi-lagi membunuhnya usai jumpa. Kau pun terawa, terbahak. Gila bukan. Aku menyukai kegilaan kita yang satu ini.

Denpasar, 2010

Jauh

aku terlampau jauh mencarimu tenggelam di palung laut terdalam melayang di langit terbiru kutemukan kau meleleh di sudut mata mencairkan kenangan

2010

Saat Sepi

hari yang sepi malam yang sepi udara dingin menyelimuti kau datang mengkidungkan puisi aku mabuk dibawa serta masuk mimpi

2010

Rambut

apa dirimu, yang selalu ada di rambutku sebab rambutku terus menambah panjang entah siapa dijerat berikutnya lelaki atau perempuan mungkin juga tuhan

2010

Tunggu Aku

malam kosong derap angin melonglong, memecah dinding dengar kamu berdiri di seberang malam melipat lengan baju, memakai sepatu

tunggu aku! sebentar saja tuntaskan mimpi bertemu tuhan mengatakan: aku akan berpamit pulang

2010

Biodata:

I Putu Gede Pradipta lahir tanggal 18 Desember 1988. Beralamat di Jln. Nangka Utara No.286, Denpasar-Bali. Sempat menempuh pendidikan Biologi beberapa semester (tak selesai) di dua universitas berbeda yaitu UNDIKSHA Singaraja dan UNMAS Denpasar. Sekarang sedang dalam pembelajaran menulis fiksi.

Bisa dikumjungi di: Facebook: today prad Email: explosif_4_sma@yahoo.co.id

Editor :
Jodhi Yudono