UNGARAN, KOMPAS.com--Festival Mata Air (FMA) yang digelar di Kampung Seni Lerep, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, pada 1-3 Oktober 2010 dibuka dengan diskusi di ruang terbuka tentang lingkungan.
Festival tahunan yang diselenggarakan Komunitas Tanam untuk Kehidupan (TUK) Salatiga itu dibuka dengan diskusi yang diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia, kata Ketua Komunitas TUK, Titi Permata, Jumat.
Diskusi ini untuk menentukan arah festival ini ke depan. Ia mengatakan, acara tersebut difasilitasi oleh Jean Fuller, aktivis lingkungan dari Tipping Point Australia. Metodenya, masing-masing peserta disuruh menuliskan tema di selembar kertas, kemudian ditempelkan di sebuah papan. "Masing-masing tema tersebut akan dibahas di forum-forum berikutnya," katanya.
Menurut dia, metode "open space" dengan tema lingkungan baru pertama kali digunakan FMA. Pada festival kali ini temanya tidak ditentukan oleh panitia seperti penyelenggaraan FMA sebelumnya, tapi ditentukan oleh masing-masing peserta dalam acara "open space" tersebut.
"Pesertanya dari berbagai daerah, profesi, akademisi, pelajar, petani, seniman, dan sebagainya, dari masing-masing orang tersebut, kita lebih tahu persoalan lingkungan sebenarnya di masyarakat," katanya.
Ia menambahkan, FMA itu diselenggarakan sebagai bentuk penyampaian aspirasi tentang pembangunan lingkungan yang harus dilakukan secara komprehensif dan terpadu.
"Persoalan lingkungan tidak bisa dipahami secara sektoral saja. Seharusnya tidak dibatasi dalam wilayah dan administrasi tertentu. Keduanya tidak boleh menghalangi langkah nyata pembangunan dan kepedulian lingkungan," katanya.
Menurut dia, pada event festival ini akan dihimpun umpan balik dari para pemerhati dan kelompok peduli lingkungan untuk menentukan langkah lanjutan. Berbagai kegiatan seni dan pentas budaya juga akan digelar untuk menarik minat generasi muda untuk bergabung dalam acara tersebut.
Seorang fasilitator dari Tipping Point Australia, Jean Fuller mengatakan, dengan metode "open space" tersebut, peserta bisa memetakan mengenai persoalan lingkungan secara komprehensif. Metode tersebut bisa digunakan dengan santai tapi hasilnya serius.
"Metode tersebut bisa digunakan untuk tema-tema lain yang kompleks dan melibatkan banyak orang," katanya.
Sesuai jadwal, FMA Gathering tahun 2010 juga diisi dengan pentas seni, diskusi dan dialog serta berbagai workshop. Diantaranya workshop gerakan lingkungan Berbasis Komunitas, pembibitan dan pemeliharaan pohon, seni dekorasi, dan instalasi.
Pentas seni rencananya akan menampilkan pertunjukan wayang kampung sebelah (1/10) dan Dendang Kampungan (2/10). Selain itu juga pada malam penutupan (3/10), akan digelar Pelangi Art Performance dan Barongan Anak Seribu Pulau.
Di sela-sela berbagai acara tersebut, juga didakan pameran lukisan, patung, komik, instalasi yang semuanya bertema lingkungan.

