Sabtu, 25 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 25 Oktober 2014 | 15:43 WIB
obituari
Mengenang Jejak Maestro Pop Sunda
Penulis: Eko Hendrawan Sofyan | Kamis, 30 September 2010 | 12:11 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
IST Nano S

BANDUNG, KOMPAS.com — Masyarakat Sunda kembali kehilangan putra terbaiknya, menyusul berpulangnya maestro pop Sunda Nano S, yang wafat pada Rabu (29/9/2010) di Bandung.

If I am financially successful in the business world of pop music it doesnt mean that I am a hypocrite. I have to fill two pockets, one for my family and one for my art, my second wife.
-- Nano S

Kecintaannya terhadap budaya Sunda, terutama musik karawitan, telah  ia perlihatkan sejak masih muda. Lahir di Garut, Jawa Barat, 4 April 1944, Nano mulai menunjukkan minatnya yang besar kepada musik karawitan. Setelah lulus SMP, dia melanjutkan sekolah di Konservatori Karawitan (Kokar) di Bandung (1961) yang ketika itu dipimpin Daeng Sutigna.

Setelah tamat, ia mengajar di SMP 1 Bandung dan kemudian pindah ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI). Beberapa tahun kemudian, ia melanjutkan kuliah ke Akademi Seni Tari (ASTI) Bandung dan STSI Jurusan Karawitan Sunda sampai selesai.

Tahun 1964, Nano bergabung dengan kelompok Ganda Mekar pimpinan Mang Koko. Namun, beberapa tahun kemudian ia mendirikan kelompok sendiri yang diberi nama Gentra Madya (1972). Di awal berkarya menciptakan karawitan Sunda, pengaruh sang guru, Mang Koko, masih sangat kentara. Namun, lambat laun, ia mulai memperlihatkan cirinya sendiri.

Meski tak menghilangkan pengaruh Mang Koko yang kerap mengkritik berbagai ketidakberesan dalam masyarakat lewat karya-karyanya, Nano juga memberi ruang bagi orang untuk merefleksikannya terhadap diri sendiri. Karya-karyanya seakan-akan menertawakan diri sendiri, yang sering terjebak dalam situasi yang lucu.

Cara ini dibawakannya dalam pergelaran yang disebut Prakpilingkung (keprak, kacapi, suling, angklung). Hasilnya, pada Festival Komponis Muda Indonesia 1 yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (1979), komposisinya, "Sang Kuriang" mendapat perhatian sebagai komposisi yang sarat dengan kekuatan akar etnis karawitan Sunda yang penuh inovasi.

Ia pun pernah mendapat beasiswa fellowship dari The Japan Foundation selama setahun di Tokyo Gedai (Universitas Kesenian Tokyo) untuk mempelajari perbandingan tangga nada Sunda dan Jepang, terutama antara alam musik Kecapi dan Koto.

Selain itu, ia juga belajar meniup sakuhachi dan memetik shamisen, yang kemudian membuat kolaborasi alat-alat itu pada ciptaannya dan membuat beberapa lagu karawitan Sunda yang berbahasa Jepang, di antaranya "Katakana Hiragana Uta", "Ueno Koen", dan "D'enshano Uta" (1981-1982). Nano lalu pernah pula diundang oleh Departemen Musik Universitas Santa Cruz untuk mengajar dan membuat pergelaran dalam Spring Performance (1990).

Keprofesionalannya dalam kesenian Sunda semakin terbukti ketika ia diminta oleh Min on, impresario, sebuah kelompok kesenian besar di Jepang, untuk mengadakan pertunjukan kesenian Sunda di berbagai kota di seluruh Jepang selama 40 hari dengan 22 kali pertunjukan. Pertunjukan ini (1988) mendapat sambutan antusias karena keindahan yang ditampilkan dengan disiplin yang tinggi. Ia pun diminta menampilkan pertunjukan itu lagi di kota-kota lain.

Popularitasnya semakin menanjak setelah album-album rekaman kasetnya banyak diminati oleh masyarakat, di antaranya Kalangkang (Bayangan, 1989) dan Cinta Ketok Magic (1992) yang meledak di pasaran sehingga mendapat HDX Award tingkat nasional.

Meskipun lagu-lagu ciptaannya berjenis karawitan, dengan cepat ia memperoleh penggemar di seluruh Indonesia dan bukan hanya dari kalangan orang Sunda, apalagi setelah lagu-lagu itu dijadikan pop Sunda.

Selain itu, ia juga membuat lagu untuk Gending Karesmen bersama Wahyu Wibisana, Raf, dan lain-lain. Gending Karesmen ciptaannya antara lain Deugdeug Pati Jaya Perang, Raja Kecit, 1 Syawal di Alam Kubur, dan Perang.

Ia juga dikenal sebagai penulis sajak dan cerita pendek berbahasa Sunda. Karyanya pernah dimuat dalam majalah Mangle, Hanjuang, dan lainnya.

Cerita pendeknya dikumpulkan dengan judul Nu Baralik Manggung (Yang Pulang Sehabis Mengadakan Pertunjukan). Ia juga menyusun Buku Kawih untuk bahan pelajaran di sekolah menengah dengan judul Haleuang Tandang (1976).

Negara-negara yang pernah dikunjunginya untuk mengadakan pertunjukan antara lain Jepang, Hongkong, Filipina, Belanda, Australia, dan Amerika Serikat. Pada bulan Oktober 1999, di Jepang, ia memainkan lagu ciptaannya yang berjudul "Hiroshima", yang dibuat khusus untuk memenuhi permintaan Wali Kota Hiroshima yang mengenalnya sebagai pencipta lagu. Terakhir, Nano diangkat menjadi Kepala Taman Budaya Provinsi Jawa Barat sejak 1995 sampai pensiun (2000).

Sumber: http://www.tamanismailmarzuki.com

 

Editor :
Eko Hendrawan Sofyan