A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: file_get_contents(http://xml.kompas.com/data/banner_on_keyword/on_keyword.php) [function.file-get-contents]: failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found

Filename: controllers/read.php

Line Number: 346

Puisi M Enthieh Mudakir - KOMPAS.com
Jumat, 31 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 31 Oktober 2014 | 12:30 WIB
Puisi M Enthieh Mudakir
Penulis: | Jumat, 24 September 2010 | 01:41 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Ilustrasi

PENYAIR: GUMAM ITU BERNAMA PUISI

Begitulah puisi Terus mengalir Sepi sendiri makna Mabuk membiuskanku Menyetrika oral Membongkar jiwa Laut meluapkan cinta Angin rupa warna Tanduk-tanduk mengandung di kepala Jemari menarikan pena Menerangi pikiran Menyemaikan kelahiran.

Puisi-puisiku terus mengalir, menciptakan kesadaran hidupku. Rokhaniku mengembang dalam perbedaan signifikan di antara keumuman. Bagai menemukan dunia lain dari dunia universalitas yang ada ditemukan berdasar ijtihad penerawangan atas pilihan. Perrtanyaan pun ditemukan jawaban nalar kepada sang waktu, dan diolah oleh ruang ketekunan disiplin berfikir yang unik milik pribadi. Puisi itu sesuatu yang tidak pernah alpa mengarungi pelayaran jauh menempuh tuju di dalam cita mengembiskan cinta di antara pembelaan kepada yang tergerus.Lima ribu kata setiap hari berseliweran bersebrang-sebrangan di atas ubun-ubun. Berarak-arakan kepejalan seperti denyut tak berhenti melakukan towaf.

Aku lirik berlayar..... berlayar....          Dinding-dinding kokoh di luar ruh dan rasa dahaga di dalam raga melumenyaksikan sukma meluber. Sedangkan kisah silam dan kisah realitas bercampur aduk meramu akan datang. Seiring menggali kesadaran realitas  nyata fiksi dan hingga menemukan ruang-ruang sublim    terutama di dalam dunia keriuhan. Kenyataan tidak terbantahkan di dalam ranah bawah sadarku terus bersenggama amat dahsyat. Tak bisa dielak kejumudan di dalam kejujuran lantas merangkum kemasgulan keyakinan yang berserak di diri yang berganda pada keelokan jiwa-jiwa.

Jauh sebelum menempati puncak atmosfer paling sublim. Dunia ini telah mengkontruksi sendiri terhadap pencitraan diri terang – benderang sekaligus mendapati ruang dahaga di alam raya secara alamiah. Rupa warna kesadaran dohir (kulit) ke atas puncak-puncak tak terduga. Menyantap keyakinan sangat sempurna di ruas-ruas wacana berkehidupan.   Puisi itu gumam kesadaran atas implementasi seseorang yang mendiami diri di dalam kesunyiannya. Penyair itu cermin dunia tanpa media. Puisi merupakan logam mulia di ranah dunia pemaknaan. Jelmaan kepedulian. Bila puisi itu fisik, ruhnya bernama realitas yang dipotret. Segala yang terproteksi panca indra oleh sang penyair pastilah realitas fakta di balik sejarah diri. Bagi apa pun karya tersebut tak terbantahkan lahir dari penglihatan. Yang pasti pikiran tidak bisa ditoleh ketika pena sudah memaksanya menari-nari. ***

Deskripsi kesedihan sudah bulat di hadapkan kepada pilihan kemuliaan tuhan. Bagi diri manusia mulanya akan mengarah kepada esensi ”tegak lurus”, pengejawantahan tak bertebing. Bisa saja sebagai lirik biagrafi itu sendiri di dalam pencapaian kulit yang tak terbantahkan tersebut. Pun tidak munafik kulit akan menggalang sesuai kodrat manusia laiknya, ingin untuk dikenal dan dikenang sepanjang zaman itu wajar. Ruh (ukhrowi)  juga tak dapat dipungkiri terhadap realitas idial pasti menginginkan pencitraan berkembang, kendati secuil sekalipun, sebagai nalar kesadaran sosiality umum manusia. Sebab kalau tidak demikian hidup tidak ada kenikmatan.

Tak dapat dipungkiri manusia selalu dibelah oleh dua unsur ingin, sebagaiman prosedur alam di panggung-panggung kehidupan, nalarnya hukum alam itulah semakin tampak terjelaskan bila proses sudah dimulai. Diksi ini terjadi setelah menjadi permaian kenikmatan alam dari realitas yang ada. Di kisi-kisi rahasia bumi maupun rahasia langit sekalipun, kebahagiaan dan derita selalu seiring diperuntukan manusia. Namun kita memilih yang mana kenyataan dan kemampuan harus seimbang, apalagi ketika jalan hidup harus terpenuhi sebagai lahir bagi tanggung jawab perut-perut di belakangnya.

Menggabungkan dua benua tidaklah mudah, tapi inilah realitas yang ada di Indonesia. Kenapa bidang-bidang keahlian tidak juga subur walau musim penghujan kerapkali datang di setiap musim.    *** Hidup bagai trompah meraup hikmah di jalan-jalan ketimpangan. Di dalam keseimbangan ”tegak lurus”, di luar nalar sana, aku lirik berhadap-hadapan dengan hedonisme, serta merta kapitalisme mengepung kenyataan kulit. Tantangan demi tantangan tidak mudah dilewati badan, apa yang seharusnya menyuburkan pada daya menciptakan mukjizatan sungguh luar biasa sengkarut hidup. Terpaksa dirembuk demi sesuap periuk. Lantaran hukum toleransi itulah manusia terbelah nuraninya, dan kenyataan cuma  di negeri gemah ripah loh jinawi. Kendati pun  setiap waktu linuwih datang silih berganti tanpa bisa dihentikan. Tetap saja hukum keseimbangan harus tetap berjalan sebagai bentuk riil tak terelakan.Tak percaya, tanyakan pada tiang-tiang kejujuran akan ”tegak lurusmu” yang  menyertakan kalbu. Puisi adalah rahasia paling tinggi di antara integritas manusia. Setidaknya itu menurut pengakuan diriku yang juga terbelah. ***   Inilah ketika seseorang berada dikeharibaannya melawan magma rupa dunia. Hanyalah kepada keimanan seseorang yang tangguh akan kesiapan mental, kalau pun lulus di ranah universitas kehidupan dengan sendirinya akan terbebas dari tekanan. Hidup di negeri ini bagi siapapun akan merasakannya, di lini bidang manapun, proses alam sadar sebagai dunia nyata, dan pergulatan alam bawah sadar sebagai dunia fiksi. Sesuai kodrat alam pula, melilit sahabat fikir. Galibnya, semacam persetubuhan makhluk di dalam proses untuk menjadi. Termasuk batu merupakan peleburan hasrat purba nan abstrak ke dalam pencapaian maha cipta itu sendiri. ***

Aku lirik menyerucuk. Puisi bumi Sambil menyambangi angin yang selalu menerpa, nyungsep di hamparan dunia antah brantah, tapi tak lupa dunia di luar sana ada hal-hal yang tidak manusiawi, sangat kejam dan bengis. Puisi ”tegak lurus” menawarkan gairah pikir dalam menerjemahkan sisi lain dari kenyataan yang ada. Bahwa pemikiran suatu hasrat dan cita-cita oleh setiap makhluk di alam perubahan. Di setiap jengkal lini atas nama kebenaran pasti penuh rumbai. Setiap manusia hidup menginginkan pencapaian kemerdekaan itu pasti. Ini soal nurani hingga semut pun akan melakukan hal sama. ***

Setiap orang yakin,ingin mencapai estetika sebagai laku. Sebagaimana hati yang dipatri menjadi simpul-simpul lahiriah aku lirik. Intuisi itu lah yang menghiasinya menyapa makhluk-makhluk lainnya. Merangkum sejarah negeri membutuhkan pemaknaan. Bungkam bukan penyelesaian aku lirik segera bertindak untuk melakukan sesuatu.

Selanjutnya oleh keyakinan yang didasari puncak kesedihan, membongkar otak kepedihan. Aku lirik menumbuhkan nalar-nalar keseimbangan menjawab gelombang lautan. Maka lahirlah gumam yang aku sebut  Gumam itu bernama puisi. Soal nanti disebut atau tidak bukan soal, yang terpenting aku lirik musti turut melahirkan karya – karya cerdas.

Suit angin tetap ku kumandangkan, walau satu ayat, walau pahit rasa getir , tetap disampaikan walau satu kata. Kehidupan pun menjelmakan rindu kepada sesama. Menyambangi lima ribu kata setiap hari untuk wujudkan sebagai goal setting. Ketika semua menjadi kodrat dan tanggung jawab atas hal yang ditulis, selanjutnya adalah pembuktikan kata itu sendiri.

Yang menyalakan di jiwa aku lirik bukan siapa-siapa. Benar adanya sesuai hakiki hidup yang diemban sebagai pilihan,. Sebab itu setiap bentuk  ijtihad makhluk ingin membangun martabat yang tinggi.

Selanjutnya biar goda datang bertubi, pilihan menyedihkan sebagai aku lirik tetap menyadi daya  sengat di tlatah persada. Sejurut itu pula, menyingkap pengertian kalbuku menuju ke gerbang pintu perjumbuhan horisontal terjaga. Demikian perjumbuhan vertikalku, seiring dengan jalannya roda syahwat ukhrowi sebagai penyeimbang. Selain aku lirik menelan lahap perjalanan berliku, syahwat duniawi sebagai pembungkus rasa kaldu di meja makan. Manusiaku sebagai aku lirik sedang membaca glagat tumpang tindih, baik yang tampak maupun yang belum terjadi akan menjadi lahan baru yang ditentukan oleh evolusi. Kulit tetap sebagai kulit, tetapi jilat lidah tak selalu tampak diraut. 

Puisiku berlayar menapaki rahasia/Berhala menyalib matiku/Di pintu perjumbuhanku/ tetap berjaga agar lena tak tergoda// Hidup apa kata angin/Yang menghirup tantangan/Merombak total kebiasaan//Di ruang-ruang/Menggedor-nggedor/Aku lirik//2,7 juta usia lanjut terlantarkan/17,8 persen umatku merana di bawah garis kemiskinan/Tak terbayangkan// 9,75 persen tingkat pengangguran/Merajalela/menjadi struktur bisu//

Aku berlayar...terus berlayar/tegak lurusku/Menjawab kepejalan/Penuh warna// Aktifitas diriku menjadi lebih elastis dan kritis/Bernas dan cerdas//Yang tak pantas segera kusingkirkan/Yang baik segera kusimpan/Seiring merekam jejakku diperadaban/

Kepada siapa kalau bukan kepada diriku sendiri, melawan adalah kewajiban sebagai anak republik untuk menyelematkan negeri yang terpanggang bagian-bagiannya. Wajah muram akibat peradaban tidak imbang. Bercabang tanduk-tanduk di kepala  menanduk para pluralis yang biadab terhadap kemiskinan anak negeri.   Aku lirik sebagaimana rayap yang membangun rumah/Dari atas puncak panas/ Kota-kota dikepung pengangguran/Di antara anak kampung/Tak berani menggagas atas hak/Terapung-apung//Perbankan bersembunyi kepada anak negeri/Kepada pedagang di pinggir jalan/Kebanyakan nasib sama dipanggang perubahan/Tak dihirau/Bermimpi pun/Tak diperkenankan/Kemana tangan ini dialamatkan.  

Aku berlayar.... berlayar aku.....berlayar Hidup telah bersemayam dalam lagu peradaban Risalah semesta terlampir demkian.

Aku lirik mengurai keyakinan. Sedekat tawakal dengan kesabaran. Sedekat ibu dengan kasih sayang. Si miskin terpanggang. Si rakus yang tak punya rasa. Manusia jera dengan kenyataan. Di telapak kaki ibu, aku lirik menemukan malu sambil mengubur yang palsu kepiluan itu. Walau tanah sawah, gunung, darat dan  laut telah dikuras habis. Flaura fauna dieksploitir sedemikian rupa hingga dieksploitasi secara radikal dalam ranah manageman yang salah kaprah. Perubahan itu bukti termaktub, rakyatku tetap kau miskinkan.

Negeri ini telah dirampok habis-habisan, dan di saat diri kita membiarkannya datang bencana bertubi-tubi. Imanku menetes-netes bagai gumpalan es. Aku lirik menyaksikan keonaran.   //Getir dirasa bangsaku/Anak  negeri/Di negeri sendiri menjadi kacung/Bagi bangsa lain//Bedebah/Menyaksikan big drama-big drama//Kelam bangsaku tidak perlu dongeng/Dengan peran pangeran/Penerang jalan//Kemiskinan telah menjadi pemandangan telanjang/Bila ini untuk kita/Oleh kita/Maka kita tidak boleh membiarkannya//.  

Aku berlayar. Pancaroba datang silih berganti. Tetapi aku lirik puas sebagai manusia yang selalu dimulyakan tuhan menjeneralisasikan 10.000 anak bangsa Indonesia sekualitas Einstein. 

Karna hidup pastilah berakhir Terkutuklah pergi Kelu ke puncak.

Takutku ke awan-awan Terbang mengasah gobang Penyair cuma risau.

Daging yang tidak berdarah Tapi puisi Riak.

Berlayar..... berlayar..... berlayar.

Teriring kata dalam bahasa ibu Melawan  Adalah kewajiban.   Warisan rindu Manusiaku Cabikan itu bernama puisi

Adalah Ladang-ladang subur  Berbagi rasa.

Ejakulasiku  Di batas bara Rindu dahaga.

Paling dalam Kata tidak dapat lahir Disalin dengan pakaian apapun.   Aku merasa Lupa tugas Sebagai tegak lurus.

Mengkufurkan alang-alang Kelewat lepas Teriris.

Aku menangis Dari derita Pemasok devisa.

Akhirul kata Cemasku Tak pernah menyerah.   (Yang jelas bangsaku belum terbebas dari belenggu)

Aku baca itu.

Tegal 2009

Baru-baru ini pria kelahiran 1963, meluncurkan antologi puisi diberinya judul, "Angin Perlawanan". Sebelumnya M Enthieh Mudakir, melahirkan antologi puisi, Malam Begini Bening (1990).

Editor :
Jodhi Yudono