Kamis, 17 April 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 17 April 2014 | 16:34 WIB
Arkeolog Teliti Situs Liyangan
Penulis: Jodhi Yudono | Selasa, 21 September 2010 | 04:02 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

google.com
Situs Liyangan

TEMANGGUNG, KOMPAS.com--Belasan arkeolog dan ahli kegunungapian dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta meneliti situs Liyangan di Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

"Tim tersebut akan bekerja intensif mulai Selasa (21/9) hingga Jumat (1/10)," kata Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Temanggung Didik Nurcahyo di Temanggung, Senin.

Ia mengatakan, penelitian itu untuk mengetahui bentuk dan pola talud di bawah rumah panggung dan di bagian selatan situs Liyangan serta mengetahui penanggalan bangunan rumah di situs tersebut.

"Kebenaran bangunan rumah panggung yang ditemukan itu apakah sezaman dengan Candi Liyangan sangat diperlukan," katanya.

Berdasar penelitian awal Balai Arkeologi Yogyakarta di situs tersebut terdapat temuan spektakuler yaitu struktur rumah panggung dari kayu yang hangus terbakar dan masih tampak berdiri tegak. Satu unit rumah itu di atas talud dari batu putih setinggi 2,5 meter.

Selain itu, juga ditemukan satu unit rumah lagi yang baru tampak bagian atapnya. Kemungkinan dua unit rumah itu adalah bangunan rumah zaman Mataram Kuno.

Lokasi bangunan rumah dekat dengan temuan candi Hindu yang berada di sebelah baratnya berjarak sekitar 50 meter. Profil klasik Jawa Tengah pada kaki candi yang berupa pelipit setengah lingkaran dan pelipit sisi genta diperkirakan berasal dari abad IX Masehi.

Didik mengatakan, rumah panggung itu hangus terbakar menjadi arang kemungkinan disebabkan letusan Gunung Sindoro sewaktu aktif berupa awan panas.

Ia menuturkan, pada Prasasti Rukam dibuat tahun 907 Masehi yang ditemukan tahun 1975 di Desa Peterongan, Kecamatan Parakan menceritakan ada sebuah desa yang rusak akibat letusan gunung berapi.

"Desa Rukam belum dapat diidentifikasi demikian dengan gunung yang meletus tersebut, bisa saja jawabannya di situs Liyangan itu," katanya.

Bagian Situs Liyangan ditemukan pertama pada 2008, antara lain berupa struktur bangunan talud, yoni, fragmen gerabah, fragmen keramik, arca kera, arca dewa surya, dan stuktur bangunan candi. Temuan terakhir pada Juli 2010 berupa bangunan pagar dari batu dengan tinggi 1,75 meter dan tebal sekitar satu meter.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono