PATAH Selalu kukenang Di atas secarik kalender usang Ketika gemertak jadi serak paling sunyi
ILUSI Deklarasi situs batu Mengandung retihan mesiu Pada selembar ritma paling tipis Rindu membiru
MENGENANGMU
Musim menua, di selembar fosil Seribu relief gugurkan tamsil Batu-batu pisau, segundah desau Dimana jejakmu mengikatku
RISAU Kutemui kau Saat pohon-pohon biru Memahat pisau di mata senja Tetaskan malam dengan bara hujan
FEBRUARI Mataku tersampir di jendela Tatap kecipak cahaya Setahun lalu, Kupernah buat pokok delima runcing dan usang Pagi ini, Dengan matahari retak di punggung Mungkinkah, perbaiki gagang pintu rumahmu yang kupatahkan
USIA Sepanjang musim, Kita tak mampu musiumkan rinai hujan Yang kertap resap di atap Seperti gegas senja genap Garis jalan bahkan bukan lurus tidak juga liku Hanya rotasi
DIARY GADIS PUCUK CEMARA
Lelakiku : Di bawah matahari sungsang Aku tulis sajak padang gersang Memohon aroma rindang Yang sedang merajuk bertandang
Patah : Hari ini, Pokok cemara retak Setelah beliung dedah dedak
Menjelang petang : Tusuk getar ilalang Seutas awan, sepotong hujan Di atas remuk pusara
SATU MALAM DI BULAN MARET
II Tuts-tuts malam Hikayat pemburu dendam Terlunta oleh musim Sehitam repih kisi di ceruk hati
LUKA Waktu memantul di jelaga Rindu bersenyawa Seperti kematian berulang-ulang Di dadaku kau tuangkan sunyi lalang Lalu sebagaimana pintamu Aku belajar menjadi luka
MATI Aku karang menanti ombak Membunuhku dengan sekali hentak Lalu retak.Bersenyawa Menjadi noktah di kedalaman laut

