Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 11:10 WIB
Puisi-puisi Fitri Wahyuni
| Jodhi Yudono | Jumat, 10 September 2010 | 23:48 WIB
|
Share:

b0cah.org
ilustrasi

PATAH Selalu kukenang Di atas secarik kalender usang Ketika gemertak jadi serak paling sunyi

ILUSI Deklarasi situs batu Mengandung retihan mesiu Pada selembar ritma paling tipis Rindu membiru

MENGENANGMU

Musim menua, di selembar fosil Seribu relief gugurkan tamsil Batu-batu pisau, segundah desau Dimana jejakmu mengikatku

RISAU Kutemui kau Saat pohon-pohon biru Memahat pisau di mata senja Tetaskan malam dengan bara hujan

FEBRUARI Mataku tersampir di jendela Tatap kecipak cahaya Setahun lalu, Kupernah buat pokok delima runcing dan usang Pagi ini, Dengan matahari retak di punggung Mungkinkah, perbaiki gagang pintu rumahmu yang kupatahkan

USIA Sepanjang musim, Kita tak mampu musiumkan rinai hujan Yang kertap resap di atap Seperti gegas senja genap Garis jalan bahkan bukan lurus tidak juga liku Hanya rotasi

DIARY GADIS PUCUK CEMARA

Dendam: Pada cemara berdaun biru Sewindu lalu Tergantung seribu rindu Jejak almanak risau Di sembelih waktu

Lelakiku : Di bawah matahari sungsang Aku tulis sajak padang gersang Memohon aroma rindang Yang sedang merajuk bertandang

Patah : Hari ini, Pokok cemara retak Setelah beliung dedah dedak

Menjelang petang : Tusuk getar ilalang Seutas awan, sepotong hujan Di atas remuk pusara

SATU MALAM DI BULAN MARET

I Malam mengabu Jengkali bilur-bilur debu Seperti pasi bulan di rasi labirin Tetas puing-puing tamsil

II Tuts-tuts malam Hikayat pemburu dendam Terlunta oleh musim Sehitam repih kisi di ceruk hati

LUKA Waktu memantul di jelaga Rindu bersenyawa Seperti kematian berulang-ulang Di dadaku kau tuangkan sunyi lalang Lalu sebagaimana pintamu Aku belajar menjadi luka

MATI Aku karang menanti ombak Membunuhku dengan sekali hentak Lalu retak.Bersenyawa Menjadi noktah di kedalaman laut