Sajak Katarsis
Karya : D. Dudu AR
Badai memang tak pernah bertamu mengucap salam atau megetuk pintu dengan angkuh, duduk seronok sambil komat-kamit semburkan naluri penghadang yang radang
Begitu juga selibut, mengendap di setiap labirin rongga yang himpit sebagai satu-satunya selasar sadar yang tersisa sepetak galengan* sawah si tuan remah
Serasa waktu tinggal sejumput rindu, yang mungkin tersentuh atau justeru melepuh di didih taman yang gersang kedamaian
Serupa serimpung redup disetiap lekuk kembara melengkung jejakjejak pengembara memilin sebotol nafas di lenjang paling tinggi mengikat kuat sampai berkecipak dari buih telaga ke ombak laut utara.
Tasikmalaya, 15 Juni 2010
Tidurlah!
Jangan salahkan namaku melayang-layang berupa kelangkang, ketika matamu susah mengatup di setiap malam. Jika itu membuatmu tidak tenang, basuhlah mukamu dengan mata air kenang, seperti saat menyusur taman harapan yang membuatmu masih terngiang tentang serambi langit di setiap senja, meskipun siluet itu merupa desir mimpi di engkau sekarang. Tidurlah! 2010
Aku Takut
Aku tidak meracau ketika engkau menyaksikan matahari merona di parasku. Aku tidak gila ketika engkau mengintip lejar tubuhku ke sambit bulan. Aku hanya menculik perhatianmu sedari malam. Sebab, setiap firasat melayat ke perangai yang tak biasa mengendap di gemulaimu, menjalar ke detakdetak buncah hingga merajam degup malam sunah. Aku takut engkau lenyap, bersama bayu yang menghempaskan desah cumbu di lenjang leherku. 2010
Serambi Sajak Karya : D. Dudu AR
Dan, hening menghidangkan parasmu di pinggan lamunan Sambil memangu tiadamu di selasar iga, kupangku dagu Selama engkau bersolek di cermin mata. Lalu, kau berdendang Bersama ketukan jari di pinggir irisan, terlanjur rindu memecah Gelisah, agar engkau keluar, mendekap gigil yang gemulaian
Semakin lejar riak gelombang awan, bergumulgumul mengulum Luruh berkepanjangan. Biarkan kubelah batas diseling sungai Menjadi laut kedamaian yang sempat rimbun di ranting kegetiran Selalu saja blangsak, ketika sajak kujadikan tampan temaram
Tasikmalaya, 11 Juni 2010
Di Kantin Rosella -buat AE dan AH
#1
Secawan sajak kita tenggak hingga lejarkan jiwa ke langit jingga kemudian kita kupas berbagai metodologi dan strategi, tentang revolusi yang belum lama meretas.
Dari sebatas tegur sapa yang serupa bulir mimpi semasa melancong di serambi fatamorgana keringat kita mewujud sesuap nasi ataupun kontribusi karena takdir memantik segala selibut yang mengendap di relung pengembara dewantara, memuara di kota laut utara, lalu merenda benang sutera yang masih berserakan di pinggan rencana.
--dan sebatang puisi kita bakar hingga mengelun bergumulgumul lalu membentuk gelembung keselarasan terawang yang rumpang di awan tujuan.
Buih lamunan sempat sedakkan cerita karena jalan berbeda untuk mengggapai bulan merupa gelak binar tidak serasi di sempurna malam ah, tak usah sunyi, yang penting menabur mawar atau melati disetiap lajur ruang yang masih mengawang.
#2
Di meja persegi empat berjejer botol sisa keringat mengembun di beling gelora meneteskan harapan untuk dijadikan telaga.
Kita lukis lengkunglengkung pikiran ke langit kejora agar muara masingmasing tidak terlalu asing ketika saat di lain waktu, tetap membawa sampan yang kita kayuh selama menghilir ke lautan biru, menuju ke muara, kemudian bertemu dan bercanda ke samudera Ki Hajar Dewantara.
#3
Sebagai janji pintal intuisi diantara ruang yang banjir muntahan angan tanpa batas, menjadi lawatan paling memabukkan selama pengembaraan. Bagaimana tidak, setiap liuk kegamangan yang terkadang meremahkan ketegaran menggelitik sukma yang panas dingin seperti pergantian musim
Serupa itu, mengingatkan perhelatan perundingan linggar jati mendaulatkan negeri ini, atas kerja keras leluhur kita yang tulus bela negara demi cucu cicitnya sebagai penerus bangsa
kita menjadi damai karena mereka kita mennjadi merdeka karena mereka
lalu, apakah perbuatan kita setimpal dengan jiwanya?
Tak ada waktu lagi untuk hidup nikmat sebelum Tuhan menyatakan kiamat karena sejumput kerelaan serimpung ribuan generasi akan menjunjung segala keterpurukan, yang kini sedang melanda negeri.
# 4
Bersamaan abu dan bara bergumul di asbak meja perundingan kesepahaman tentang pergulatan kembara yang diakhiri kidung magrib seorang mahasiswa kita kibarkan menjadi panji kebangkitan kembali sefalsafah pencetus sumpah pemuda. Karena, jelmaan pejuang yang wafat selama penjajahan ”mati satu tumbuh seribu” adalah kita.
Cirebon, 18 Juni 2010
Biodata : D. Dudu AR, lahir di Tasikmalaya 07 Juni 1983. Lulusan S1 PGSD UPI Kampus Tasikmalaya, 2008. Semasa kuliah bergiat di Teater Cagur UPI Kampus Tasikmalaya, Teacher Music Community UPI Kampus Tasikmalaya, OI Sugali, dan Vagi Management. Kegiatan sekarang, mengajar di SDN. Perumnas 1 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya. Menulis Cerpen, Sajak/Puisi, Resensi, dan Essai. Selain itu, sebagai Pimpinan Pondok Media Tasikmalaya (Citizen Journalism Forum). Sajak dan puisinya dimuat di Harian Umum Kabar Cirebon, Radar Tasikmalaya dan HU. Kabar Priangan, majalah expresi (Denpasar Bali) dan beberapa website nasional.

