Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 23:38 WIB
Taman Budaya Fasilitator Keragaman Seni
Yurnaldi | Tri Wahono | Minggu, 5 September 2010 | 18:01 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com - Kehidupan kesenian tradisional di Nusantara jika dilihat dari tatanan kehidupan bernegara, masih tetap merupakan warisan yang terabaikan. Padahal, kesenian tradisional yang di sejumlah daerah punah dan terancam punah, merupakan bagian penting sejarah dari suku-suku bangsa yang mendukungnya.

Perlu ada kebijakan kongrit dalam pengembangan kebudayaan, terutama dari pemerintah sendiri, agar berbagai kegiatan-kegiatan budaya dilaksanakan secara desentralisasi dan otonom di lingkungan wilayah tempat kesenian tradisional itu tumbuh dan berkembang. Dengan cara ini, secara langsung masyarakat pendukungnya akan kembali belajar bersama mengelola kehidupan budaya mereka.

Taman Budaya yang selama ini mempunyai tanggung jawab melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan seni budaya, harus bisa menjalin kerjasama yang baik dengan semua pihak. Dengan demikian potensi seni budaya daerah dapat diberikan apresiasi dan kesempatan untuk bisa tampil di Taman Budaya, sehingga dapat dilihat masyarakat.

Demikian pemikiran yang mengemuka dari budayawan asal Padang, Edy Utama dan Direktur jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film Kement erian Kebudayaan dan Pariwisata, Tjetjep Suparman, serta Direktur Kesenian Sulistyo Tirtokusumo, yang dihubungi terpisah Minggu (5/9/2010) di Padang dan Jakarta.

Edy Utama menjelaskan, sebagian besar masyarakat pendukung kesenian tradisional, mulai meninggalkan tradisi mereka, karena terjadi perubahan orientasi budaya, dan pada sisi yang lainnya, pemerintah kita at aupun lembaga-lembaga kesenian/budaya yang ditumbuhkan dalam sistem kenegaraan kita, ternyata tidak memiliki strategi yang tepat dan serius dalam mengelola kehidupan kesenian tradisional tersebut.  

"Jika ada perhatian, maka itu lebih banyak memandang kesenian tradisional itu dalam konteks kepentingan pragmatis, seperti untuk kepentingan pasar pariwisata, atau pun sesuatu yang bersifat entertaiment (hiburan)," tandasnya.  

 

Taman Budaya

Menurut Edy Utama, seharusnya pemerintah, lembaga-lembaga seni budaya serta masyarakat umumnya, seyogianya memberikan perhatian yang lebih banyak dan serius. Kesenian tradisional dalam suatu masyarakat, merupakan salah satu mata rantai dari sejarah kebudayaan masyarakat pendukungnya. Kalau mata randai ini terputus, bisa dipastikan maka sistem pewarisan nilai-nilai budaya dalam masyarakat tersebut akan mengalami hambatan yang serius.

Buktinya dapat kita lihat dalam masyarakat Minangkabau, ketika budaya tradisi, terutama kesenian tradisionalnya tidak lagi menjadi bagian yang komprehensif dari pengembangan kebudayaan Minangkabau, maka sistem pewarisan nilai-nilai keminangkabauan, j uga mengalami keterputusan. Itu pula sebabnya, kita melihat ada kebingungan dalam masyarakat Minangkabau, mencari cara bagaimana kebudayaan (adat) Minangkabau dapat diteruskan pada generasi berikutnya. 

"Namun daya hidup kesenian tradisional itu juga semakin lama semakin terbatas, sehingga perlu ada sebuah strategi kebudayaan dan political will yang kuat dari pemerintah atau lembaga-lembaga seni dan budaya yang ada," ungkap Edy Utama, yang mantan Ketua Dewan Kesenian Sumatera Barat.

Tjetjep mengatakan, Taman Budaya di seluruh Indonesia dewasa ini menghadapi permasalahan dan tantangan yang sangat serius, baik secara internal maupun eksternal. Upaya menjawab tantangan ini semakin dirasakan berat karena berb agai keterbatasan, baik secara kelembagaan, struktur, sumber daya manusia, maupun pendanaan.

"Keberadaan Taman Budaya setelah berlakunya otonomi daerah mengalami berbagai perubahan sesuai kondisi dan kebijakan daerahnya masing-masing. Ada sebagian yang berganti induk dan ada yang berubah momenklaturnya," katanya.

Menurut Tjetjep, Taman Budaya bertanggung jawab melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan seni budaya. Harus bisa menjalin kerjasama yang baik dengan semua pi hak. Dengan demikian potensi seni budaya daerah dapat terpelihara dan bermanfaat bagi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.

Sulistyo mengatakan, taman budaya harus bisa menjadi fasilitator bagi pengembangan keragaman seni budaya. Masyarakat diberi peluang seluas-luasnya untuk berlatih dan mementaskan hasil karya nya, sehingga nantinya memiliki daya saing di bidang seni budaya, SDM, dan manajemen pengelolaan.

"Saya berharap, fungsi Taman Budaya sebagai pusat pengelolaan dan pengembangan seni budaya, pusat dokumentasi, etalase dan pusat informasi seni-budaya di daerah tetap terjaga," tandasnya.