Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 01:43 WIB
Sajak-sajak Erry Amanda
| Jodhi Yudono | Sabtu, 4 September 2010 | 05:23 WIB
|
Share:

muminlerKardestir.net
ilustrasi

A D I N D A

merajuk hati selimut daun semanggi pagi hari hujan basah tak jadi aku berangkat hari ini lihatlah binar mataku di sana kau bisa hitung detak jantungku memburu begitu indah samsara tanpa bicara

dik, hari ini tak bermain katakata sebab bibirku telah lama tak bergincu kupukupu dan kumbang tak lagi berseteru beledru awan menyiapkan hujan petang nanti sebentar saja aku menanti agar kau tak iri hati

dik, rekahkan bibirmu lalu sungging di pelaminanmu sendiri pada tilam di mana engkau sarungkan rindu agar malammu tak lagi cemburu sebab aku tak sedang menghitung waktu

dik, jangan bicara asmara sebab di tanganku penuh aksara samasama kita baca tidakkah hanya itu yang kita punya

tangerang 03092010

JIKA KU TAHU INI RAMADHAN TERAKHIRKU

(terinspirasi oleh: Wahid Noegroho)

ika ku tahu ini ramadhan terakhirku

aku tidak akan merasa langit menjadi kelam bulan, bintang, biru langit berubah jadi kuburan kenang lantas aku letakkan sepotong hati dibalai-balai di atas nampan rupawan agar setiap petandang duka meradang oh tidak tuan aku tak hidup dalam bayang keindahan yang tak hendak dituntaskan sebab mulut dan jiwaku tak pernah berseteru lisan menguntai merjan cakapan menderu-deru muara qolbu

jika ku tahu ini ramadhan terakhirku

haruskah menggelar lautan sajadah samudra do’a penghantar berjuta lintasan cahaya silangan rasa dan perjalanan yang hendak dikuduskan langit bermandikan wewangian bunga-bunga dunia membagikan sedekah barokah sambil keliling negeri tanpa alas kaki menyeret sorban pakaian tanpa jahitan menapaki maqom-maqom berurai air mata sesal memotret diri di atas lembar stiker tawadu’ ijinkan aku menggeleng

jika ku tahu ini ramadhan terakhirku

aku tetap seperti saat aku tak tahu kapan matiku aku akan biasa-biasa saja melakukan apa yang seharusnya aku lakukan tidak akan memaksakan yang tak aku mampu sebab catatan tak akan hilang hanya karena pameran lukisan pura-pura seharian sambil propaganda kesholehan

tanpa aku harus tahu ujung akhir jalanku aku tetap memperindah jalan kesadaranku agar berserahku adalah ikhlasku tak berdebu nafsu

Tangerang 31Agustus2010

JIKA WAKTUKU TIBA

jika waktuku tiba hantar aku dengan suka cita atas kelahiran baru menjemput janji nir fana jika pun airmata menggenang ia adalah suka cita tanpa taburan bunga pada bayi di atas belanga tuntasan perjalanan demi perjalanan

jika waktuku tiba masih saja halaman rumah teras kamar adab dan keberadabanku lusuh berdebu sapulah yang ikut menempel di rahim silaturahim bersihkan noda bias dari kejalangan tingkah manusiaku semaikan sedikit tanaman yang mungkin tertinggalkan sebab itu bukan milikku kecuali milik mukiman

jika waktuku tiba bukankah amalan telah dituntaskan pada teguhan kesebentaran bincangan kebersamaan maka tuntaskan semua bilangan jangan dipertentangkan sebab potret di dinding adalahkenangan bukan hiasan

Tangerang 2 sept 2010

KABUT TERANG TANAH

kepada pemeluk teguh

malam meninggalkan jejak suarasuara surau, langgar, sudutsudut hening alam yang menyaring tepian rasa ikatan jiwa melarung segala pertikaian peradaban purbani manusiawi

gema terompah perjalanan membangun samudera airmata menggenang di seluruh tanah cengkar lembah mukiman tak sekadar kesementaraan lembah pergumulan

fajar melingkup ketetapan jarak antara pembeda kabutkabut dini hari membangkitkan sukacita berarak tanpa pilahan mikiman antara kesadaran atau penafian rahmatan atau gugusan pengingkaran anakanak jaman yang terseret di lobang tanah perdikan langkah bergegas menganyam harap jejakjejak moyang

rekah aurora pelangi nirkala masih tertangkap bening cahaya bagaskara di sana aku letakkan segala cuaca agar aku tak sangsi karena aku masih bisa bercinta memainkan bianglala seperti bocah kecil polos tanpa hiba berjalan di titian yang selalu terasa tak cukup bekal dan aku merasa telah tercukupkan