A D I N D A
dik, hari ini tak bermain katakata sebab bibirku telah lama tak bergincu kupukupu dan kumbang tak lagi berseteru beledru awan menyiapkan hujan petang nanti sebentar saja aku menanti agar kau tak iri hati
dik, rekahkan bibirmu lalu sungging di pelaminanmu sendiri pada tilam di mana engkau sarungkan rindu agar malammu tak lagi cemburu sebab aku tak sedang menghitung waktu
dik, jangan bicara asmara sebab di tanganku penuh aksara samasama kita baca tidakkah hanya itu yang kita punya
tangerang 03092010
JIKA KU TAHU INI RAMADHAN TERAKHIRKU
ika ku tahu ini ramadhan terakhirku
aku tidak akan merasa langit menjadi kelam bulan, bintang, biru langit berubah jadi kuburan kenang lantas aku letakkan sepotong hati dibalai-balai di atas nampan rupawan agar setiap petandang duka meradang oh tidak tuan aku tak hidup dalam bayang keindahan yang tak hendak dituntaskan sebab mulut dan jiwaku tak pernah berseteru lisan menguntai merjan cakapan menderu-deru muara qolbu
jika ku tahu ini ramadhan terakhirku
haruskah menggelar lautan sajadah samudra do’a penghantar berjuta lintasan cahaya silangan rasa dan perjalanan yang hendak dikuduskan langit bermandikan wewangian bunga-bunga dunia membagikan sedekah barokah sambil keliling negeri tanpa alas kaki menyeret sorban pakaian tanpa jahitan menapaki maqom-maqom berurai air mata sesal memotret diri di atas lembar stiker tawadu’ ijinkan aku menggeleng
jika ku tahu ini ramadhan terakhirku
aku tetap seperti saat aku tak tahu kapan matiku aku akan biasa-biasa saja melakukan apa yang seharusnya aku lakukan tidak akan memaksakan yang tak aku mampu sebab catatan tak akan hilang hanya karena pameran lukisan pura-pura seharian sambil propaganda kesholehan
tanpa aku harus tahu ujung akhir jalanku aku tetap memperindah jalan kesadaranku agar berserahku adalah ikhlasku tak berdebu nafsu
Tangerang 31Agustus2010
JIKA WAKTUKU TIBA
jika waktuku tiba hantar aku dengan suka cita atas kelahiran baru menjemput janji nir fana jika pun airmata menggenang ia adalah suka cita tanpa taburan bunga pada bayi di atas belanga tuntasan perjalanan demi perjalanan
jika waktuku tiba masih saja halaman rumah teras kamar adab dan keberadabanku lusuh berdebu sapulah yang ikut menempel di rahim silaturahim bersihkan noda bias dari kejalangan tingkah manusiaku semaikan sedikit tanaman yang mungkin tertinggalkan sebab itu bukan milikku kecuali milik mukiman
jika waktuku tiba bukankah amalan telah dituntaskan pada teguhan kesebentaran bincangan kebersamaan maka tuntaskan semua bilangan jangan dipertentangkan sebab potret di dinding adalahkenangan bukan hiasan
Tangerang 2 sept 2010
KABUT TERANG TANAH
kepada pemeluk teguh
malam meninggalkan jejak suarasuara surau, langgar, sudutsudut hening alam yang menyaring tepian rasa ikatan jiwa melarung segala pertikaian peradaban purbani manusiawi
gema terompah perjalanan membangun samudera airmata menggenang di seluruh tanah cengkar lembah mukiman tak sekadar kesementaraan lembah pergumulan
fajar melingkup ketetapan jarak antara pembeda kabutkabut dini hari membangkitkan sukacita berarak tanpa pilahan mikiman antara kesadaran atau penafian rahmatan atau gugusan pengingkaran anakanak jaman yang terseret di lobang tanah perdikan langkah bergegas menganyam harap jejakjejak moyang
rekah aurora pelangi nirkala masih tertangkap bening cahaya bagaskara di sana aku letakkan segala cuaca agar aku tak sangsi karena aku masih bisa bercinta memainkan bianglala seperti bocah kecil polos tanpa hiba berjalan di titian yang selalu terasa tak cukup bekal dan aku merasa telah tercukupkan

