Sajak-sajak Qalbu
(O)
awan di alam raya wujudnya ada tak teraba
yang hidup di alam fana wujud ada juga teraba
yang tak ada wujud tak teraba kerna senyawa dalam ruh IA
(1)
kalau aku menyebut Tuhan begitu banyak saingan yang dipertuhankan yang mempertuhankan juga menuhankan diri
ada bisik: maka teruslah mencoba lafaz seia sekata, hanya: llailahailallah…
(*)
ketika angin lewat
hanya angin lewat, anakku hanya angin lewat tiap hari di antara kita tak ada dinding tak ada pohon tak ada bangunan hanya angin lewat - membuat nafas sesak ia bawa berita tanah bergerak, bercelah, berguguran melahap segala
“Kabar ayah, Mak? “Bukan!” angin menjawab “Kabar kakak?” “Bukan!!” “Kabar keluarga kita?” “Bukan, bukan!!!” “Kabar…?” segala kabar, anakku ya segala kabar terus terdengar berputar-putar mengiang-ngiang menyebar ke penjuru semesta
tak perlu kau tutup telinga, anakku lebih baik secarik kain itu untuk penutup aurat
ya, segala tabir bakal terbuka kesombongan, kepalsuan, kebohongan, janji-janji penyakit hati lidah tak bertulang : manipulasi dikatakan nakal korupsi disebut keteledoran administrasi kalah dibilang penghitungan salah aib dipelihara urat malu terbiasa pura-pura
biarkan lewat, biarkan itu cuma kabar dibawa angin pakailah kainmu agar tak merasuk ke pori-pori kulit, dinding aorta, agar tak ke sanubari bertemu nurani agar
ketika angin lewat, anakku sabarlah mari kumpulkan kekuatan dalam doa : bangkit
Maret 2005
debu di sajadahku
(alunan monggang bunyi satu-satu....ning nong ning..) menjelajah jejak masa kecil : yudonegaran, plengkung, bioskop Ratih batubata berlumut di rengkahan tembok julur-julur akar menggantung-gantung harapan wringin kurung – sejoli - tak sampai, rerumputan kering yogya berpasir matahari menyengat di ujung kenangan kubah menjulang kutujukan langkah memintas alun-alun ke satu arah
sejuk, kaki mencelup air wadag dan wajah di bening kolam bergerak-gerak pilar-pilar yang pernah kusentuh warnanya kusam berbaur warna-warni pakaian jamaah pelosok negeri
(terlena di beranda masjidMu, mestikah ijin menjenguk mihrab, dan masihkah sujud Kau terima sedangkan debu di sajadah tak mampu kuseka)
sementara di pelataran marbot tua tertatih-tatih setia menyapu bayang-bayangnya sendiri begitu banyak yang belum terjamah meski tiap hari ada dakwah
(alunan monggang satu-satu.....ning nong
ning..)
gema itu lindap ditingkah pesta sekaten ketipak kuda menggeret andong jamaah menyulap lampu-lampu musik menilap doa-doa jadi remah di tembolok ingkung, jadi rebutan jadi kerikil berhamburan semangatku terbang mencari-cari
(alunan monggang satu-satu : ning nong ning..)
gung..
dalam qalbu dalam sujud aku bukan apa bukan siapa aku tak ada lebur menyatu cuma :debu
Yogya, 2004
DARI BALIK KAMERA
dalam gelap ada tembang ngelangut melayang mengiris dendam menggeliat sebar isyarat, perempuan tua menari lambat
di antara bunyi kenong sempilan gamelan lokananta, bunyi angklung da mi na ti la…dari balik pebukitan bunyi rebana gemeretak lafazkan salawat nabi dan kentringan ukulele pengamen jalanan
di remang jembatan ada suara menyanyi, kadang keras kadang serak, tiga potongan lagu diulang-ulang seperti kaset rusak
: kagumku melihatnya sinar nan perwira… selamat tinggal kekasih gelapku… imagine all the people...
sinar merkuri nyalanya redup membentuk siluet tubuh-tubuh berjalan gontai acungan tinjunya lunglai tatapan mata kosong, kepala menggeleng, jari-jemari coba menangkap bayangannya sendiri
perempuan tua terus menari, bunyi-bunyian terus berbunyi nyanyian terus menyanyi, bergantian bersahutan seperti simponi
(: ya Tuhan, mereka hadir dalam mimpi kita)
Pamulang, akhir Ramadhan 2003.

