Sabtu, 2 Agustus 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 2 Agustus 2014 | 11:28 WIB
Surat Nikah Bung Karno Dijual karena Kesal
Penulis: Jodhi Yudono | Selasa, 24 Agustus 2010 | 16:14 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Ipphos
Bung Karno didampingi Bung Hatta membacakan teks proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jalan Proklamasi) Jakarta. Gedung yang terlihat di belakang sudah dirobohkan, padahal jadi saksi sejarah.

TERKAIT:

BANDUNG, KOMPAS.com — Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyayangkan rencana cucu angkat almarhumah Ibu Inggit Ganarsih yang akan menjual surat nikah Soekarno-Inggit Ganarsih kepada pihak lain.

"Tentunya kami sangat menyayangkan sekali kalau itu (penjualan surat nikah Soekarno-Inggit Ganarsih) benar terjadi," kata Wakil Gubernur Provinsi Jabar Dede Yusuf di Bandung, Selasa (24/8/2010).

Ia mengatakan, Pemprov Jabar melalui Dinas Pariswisata dan Budaya selalu mengupayakan perlindungan terhadap benda atau tempat yang memiliki nilai sejarah.

"Tempat atau kediaman Bu Inggit Ganarsih bisa kita jadikan museum asalkan ada intervensi dari pemerintah, seperti rumah Bung Karno yang di Bengkulu," kata Wagub.

Sebelumnya, cucu angkat almarhumah Inggit Garnasih, Tito Zeni Asmarahadi (61), berniat menjual surat nikah dan surat cerai mantan Presiden Indonesia pertama, Soekarno dan Inggit Garnasih, kepada orang lain.

Tito menyatakan, kedua surat itu sangat berharga bagi keluarga dan bangsa Indonesia. Namun, kekecewaannya terhadap Provinsi Jawa Barat sudah sangat mendalam.

Ia menjelaskan, tahun 1983, surat nikah dan surat cerai Soekarno dan Inggit Garnasih ini sempat ditawar sebuah yayasan di Belanda seharga Rp 2 miliar.

Akan tetapi, tawaran tersebut ditolak olehnya yang sangat menghargai sosok Soekarno dan Inggit Garnasih.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono