Minggu, 20 April 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 20 April 2014 | 07:38 WIB
Budaya Pantun Rekatkan Perbedaan
Penulis: Jodhi Yudono | Jumat, 13 Agustus 2010 | 02:01 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Kompas/Yurnaldi
Anak-anak sekolah di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, dari tingkat SD sampai SMA, menggalakkan pantun pada berbagai kegiatan. Pantun telah menjadi salah satu cabang pendidikan tambahan.

JAKARTA, KOMPAS.com--Barang siapa tiada memegang agama, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama. Barang siapa mengenal yang empat, maka ia itulah orang ma’rifat. Barang siapa mengenal Allah, suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.

Itulah sebagian petikan dari pasal pertama Gurindam 12, hikayat berisi petuah yang dirangkai Raja Ali Haji yang sampai saat ini masih abadi di bumi Kepulauan Riau.

Pantun seakan tidak lepas dari kehidupan sehari-hari masyarakat di Kepulauan Riau. Meski beragam suku bangsa yang hidup disana namun patun melekat dalam setiap kegiatan mereka tidak terkecuali pada acara-acara formal.

Terlebih lagi di Pulau Penyengat tempat Raja Ali Haji dilahirkan dan juga rumah abadinya setelah berpulang, Gurindam 12 masih menjadi pegangan penduduk yang seluruhnya muslim dalam kehidupan sehari-hari.

Pantun tidak hanya populer di kalangan masyarakat Melayu, suku asli di Kepulauan Riau, tapi juga menjadi bagian dari suku-suku lain yang berbaur disana seperti Tionghoa, Jawa, Flores dan Batak.

Keragaman suku yang juga membawa perbedaan agama tidak menjadi penghalang dalam menciptakan kerukunan beragama. Hampir tidak pernah terjadi permasalahan yang dapat mencederai kerukunan antar pemeluk agama.

Menurut Plt Gubernur Propinsi Kepulauan Riau, HM Sani, budaya Melayu mempersatukan masyarakat Kepulauan Riau yang terdiri dari beragam etnis.

"Keanekaragaman etnis di Kepri menjadi suatu kekuatan dan budaya Melayu memayungi seluruh aktivitas kehidupan masyarakat," kata HM Sani.

HM Sani menjelaskan, implikasi dari itu, budaya Melayu dijumpai dalam seluruh aktivitas untuk semua etnis. Ia mencontohkan seperti etnis China memakai baju Melayu dan ada juga etnis lain yang menggunakan upacara perkawinan ala Melayu.

Budaya Melayu sudah merasuk kehidupan masyarakat sebab inti budaya melayu adalah kebersamaan, toleransi dalam kemajemukan. Budaya Melayu yang terbuka dengan ciri-ciri lebih suka menghindari konflik dalam interaksi sosial, lebih suka menyampaikan sesuatu secara tidak langsung misalnya menggunakan pantun.

Pada setiap acara hampir selalu dibuka dan ditutup dengan pantun. Ciri-ciri lain orang Melayu lebih suka menahan diri dalam banyak hal, memiliki sifat sentimental. Secara umum orang Melayu juga suka damai dan toleran.

Kearifan Lokal Perkuat Kerukunan

Untuk tetap memperkuat kerukunan beragama, Pemerintah melalui Kementerian Agama mendorong kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat salah satunya seperti pantun yang tetap hidup di Kepulauan Riau.

"Kita kaya dengan kearifan lokal dan ternyata kerukunan beragama selama ini terjaga dengan kearifan lokal itu," kata Kepala Bidang Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Prof. Dr. Atho Mudzhar saat audiensi dengan Gubernur, Dewan Penasehat Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan pengurus se Propinsi Kepulauan Riau di Tanjungpinang, Rabu (3/8) lalu.

Menurut Atho, kerarifan lokal saat ini masih berfungsi di masyarakat yang lebih homogen seperti di pedesaan. Namun ada tantangan baru ketika penduduk mejadi heterogen sehingga diperlukan kearifan tambahan yang merupakan kesepakatan bersama pemimpin agama.

Ia mencontohkan seperti di Bali, ada kesepakatan bersama dimana di suatu acara cukup dengan satu salam saja dan dianggap sudah menghormati seluruhnya yang dikenal dengan kearifan baru.

Pemerintah juga membuat kearifan baru berupa surat peraturan bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri nomor 9-8 tahun 2006 tentang kerukunan umat beragama.

"Kearifan lokal yang sudah ada berabad-abad itu sekarang kita perkuat dengan kearifan baru dalam bentuk kesepakatan bersama pemerintah maupun tokoh-tokoh agama," tambahnya.

Namun masih ada permasalahan utama yang dapat mengganggu kerukunan yaitu kurangnya komunikasi antara umat suatu agama dengan agama lainnya, seperti yang disebutkan Kepala Puslitbang Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama, Abdur Rahman Mas’ud.

"Masalah komunikasi antara satu umat agama dengan agama lainnya selama ini kurang intensif sehingga melahirkan persepsi yang salah," katanya.

Menurut Mas’ud permasalahan komunikasi antara umat beragama begitu juga komunikasi pemerintah dengan umat beragama yang kurang intensif menjadi masalah dalam kerukunan. Karena kurangnya komunikasi, terjadi ketidaktahuan tentang agama lain akhirnya melahirkan ketidakpercayaan.

Maka menjadi upaya bersama untuk mencari solusi agar permasalahan kerukunana agama bisa diselesaikan salah satunya dengan menghidupkan kearifan lokal.

Seperti yang dikatakan Pendeta Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Bethel Tanjungpinang Propinsi Kepulauan Riau, LB Tappe meskipun mereka pendatang namun harus mengikuti budaya setempat yang hobi berpantun.

Mereka memegang teguh pepatah, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Meski pendatang dengan agama yang berbeda mereka tetap bersatu dan hidup rukun tanpa melupakan pantun.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono