JAKARTA, KOMPAS.com--Gunung Krakatau di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, meletus bulan Agustus tahun 1883.
Sekarang 127 tahun kemudian, jutaan orang hanya tahu letusan Krakatau adalah bencana paling dahsyat dalam sejarah bumi. Bunyi letusan dapat didengar sejauh Manila, Colombo, Papua Nugini, dan pedalaman Australia.
Letusan itu, yang telah mempengaruhi cuaca dunia selama berbulan-bulan, menewaskan lebih dari 36.000 jiwa manusia dan menghancurkan kawasan pantai daerah Lampung dan ujung barat Pulau Jawa.
Tidaklah berlebihan jika sejak itu minat ilmiah maupun seni (sastra dan film) terhadap Krakatau menjadi sangat menonjol. Lebih dari seribu tulisan dalam bentuk artikel dan buku (ilmiah dan sastra), tentangnya telah sejak abad ke-19 sampai awal abadke-21.
"Namun ada salah satu sumber klasik pribumi yang hampir-hampir dilukan oleh para penulis populer dan para peneliti kontemporer mengenai letusan Krakatau 1883, yaitu Syair Lampung Karam: Sebuah Dokumen Pribumi tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883. Peneliti dan dosen di Universiteit Leiden, Belanda, Suryadi, datang khusus ke Indonesia meluncurkan buku tersebut yang sudah ditulis dalam bahasa Indonesia, nanti (Kamis, 30/7) pukul 19.00 WIB, di Newseum Indonesia, jalan Veteran 1 Nomor 31, Jakarta Pusat," kata budayawan dan pengelola Newseum Indonesia, Taufik Rahzen, di Jakarta.
Buku yang diterbitkan Komunitas Penggiat Sastra Padang (KPSP) tersebut eksklusif, karena untuk pertama kalinya ada catatan pribumi, yang selain saksi mata juga korban letusan Gunung Krakatau 1883.
Suryadi menemukan catatan Muhamad Saleh berupa 375 bait syair itu secara terpisah di enam negara. Jadi, baru 127 tahun kemudian, kita orang Indonesia baru membacanya. Buku tersebut, kata Taufik Rahzen, juga memuat foto-foto eksklusif dan ilustrasi tentang Krakatau.
Selain peluncuran buku, juga diputar gratis film dokudrama berjudul "Krakatoa, the Last Day", produksi BBC. Kesempatan langka ini sayang kalau dilewatkan. Silakan datang nanti malam ke Newseum Indonesia, jalan Veteran 1 No 31, Jakarta Pusat.

