Sabtu, 1 November 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 1 November 2014 | 09:20 WIB
Ada Lagu Tradisional Meksiko di Solo
Penulis: | Senin, 19 Juli 2010 | 18:09 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

www.TPGImages

SOLO, KOMPAS.com--Wakil Delegasi Meksiko yang menampilkan lagu-lagu tradisional negara itu, dengan diiringi alat musik gitar ikut memeriahkan pergelaran kesenian "Solo International Performing Art (SIPA)" di Pamedan Pura Mangkunegaran, Sabtu malam.

Petikan alat musik gitar ala koboi sebagai ciri tradisional Meksiko tampak akrab dan menyatu dengan penonton yang memadati lokasi pertunjukan di Pamedan Pura Mangkunegaran malam itu.

Delegasi Meksiko yang menampilkan musisi Mulix Cabrera mengatakan, lagu-lagu yang dinyanyikan dalam pagelaran Pertunjukan Kesenian Internasional (SIPA) ini, tradisi daerah "Yucatan" dikenal dengan nama "Trova Yucateca".

Menurutnya, musik yang dibawakan ini, romantis dan dipengaruhi oleh musik akhir abad 19. Setelah menjadi tradisi di Yunatan, para seniman daerah itu, dibawa ke ibukota Meksiko dan mempengaruhi seluruh negeri itu.

Pagelaran SIPA, semakin menarik dengan penampilan "Borneo Tradisional Etnik Sanggar seleun letaig Dea" dari Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur yang mempersembahkan tarian "Gemersik Mahakam Menyap".

Tarian asal Kalimantan Timur tersebut menggambarkan alam kehidupan komunitas di  tepi Sungai Mahakam.

Senandung kehidupan masal lalu kembali berkelebat seakan membuai menawarkan keteduhan yang kini semakin terkoyak alir dan derasnya arus Mahakam.

Cerita tentang kerusakan alam tertuang dalam tarian yang diperagakan kelompok penari dari Borneo yang mengenakan pakaian adat suku pedalaman daerah tersebut yang berwarna warni melenggang lenggok mengikuti suara musik khas suku Dayak Kutai.

Bahkan, penonton bersemangat setelah penampilan sebuah tarian tradisional daerah Timor Leste yang mempersembahkan tari "Tebe Tebe Ho Dahur".

Tarian tersebut sebagai apresiasi terhadap budaya dan musik tardisional Timoe Leste, yang harus dilestarikan. Tarian yang diiringi suara tambur dan kendang kelihatan kompak dan indah dilihat.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono