Rabu, 16 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Rabu, 16 Mei 2012 | 19:57 WIB
Solo International Contemporary Ethnic Music
Bengawan Solo "Mengalir" dari Pipa China
| yuli | Minggu, 11 Juli 2010 | 04:04 WIB
|
Share:

KOMPAS/NINOK LEKSONO
Acara mengenang Gesang diselenggarakan oleh Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (Hamkri) di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu (30/5) malam. Pada acara itu tampil sejumlah artis keroncong, seperti Sundari Soekotjo dan kalangan remaja yang mulai mencintai keroncong.

TERKAIT:

SOLO, KOMPAS.com - Lagu Bengawan Solo karangan Gesang seakan mengalir melalui alat musik berasal dari China yang disebut Pipa, pada penampilan penutup hari keempat Solo International Contemporary Ethnic Music 2010 di Stadion R Maladi, Kota Solo, Jawa Tengah, Sabtu (10/7/2010) malam.

Penampilan yang dibawakan oleh seniman musik Taiwan, Lou Chao Yun, sontak membuat sekitar 10.000 penonton memberikan aplaus karena lagu tersebut diciptakan oleh maestro berasal dari Kota Solo yang belum lama ini meninggal dunia.

"Lagu ini saya dedikasikan untuk warga Solo dan maestro Gesang," kata Lou Chao Yun sebelum memainkan alat musik semacam kecapi tradisional itu.

Alunan nada dari petikan dawai Pipa memberi suasana haru bagi masyarakat Solo yang menjadi mayoritas penonton pertunjukan tersebut. Suasana haru semakin terasa ketika disuguhkan tampilan berbagai foto almarhum Gesang saat Lou memainkan alat musiknya.

Usai memainkan lagu yang juga menjadi maskot Kota Solo itu, aplaus penonton terdengar lagi sebagai tanda apresiasi terhadap penampilan seniman yang telah pentas di beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, Portugal, Pakistan dan Nepal itu.

Selain suasana haru, suasana riang juga hadir melalui seniman lainnya seperti Yani Newar dan Tawa Tanah berasal dari Flores, Elizar Koto (Padang), Sonofa (Singapura), dan Albert Chimedza (Zimbabwe).

Sebagai penampil pertama, Yani Newar dan Kelompok Musik Tawa Tanah tampak sukses membuka acara dengan paduan musik khas Flores dan musik pop, dangdut, serta reggae yang menciptakan suasana riang.

Kelompok musik Sonofa yang ditunggu-tunggu kawula muda karena kiprahnya selama ini, muncul sebagai penampil kedua. Dengan memadukan musik elektro dan sejumlah musik tradisional khas Melayu, Sonofa berhasil membuat sebagian besar penonton yang berdiri bergoyang mengikuti musiknya.

Seakan tak mau kalah, penonton yang duduk di kursi juga ikut bertepuk tangan, tanda mereka menyatu dengan musik dari kelompok yang berhasil mendapatkan penghargaan kelompok musik paling inovatif dalam Singapore Band Challenge 2008.

Pada penampilan yang ketiga, Albert Chimedza yang berkolaborasi dengan kelompok gamelan pimpinan Peni Chandra terlihat memukau penonton dengan permaianan alat musik khas Zimbabwe, mbira, yang nada-nadanya diinovasi seperti nada gamelan.

Usai penampilan ketiga tersebut, Elizar Koto dan kelompok musiknya membuat penonton bergoyang mengikuti paduan musik tradisional khas Padang dengan musik modern.

Secara keseluruhan penampilan artis dan kelompok musik pada pertunjukan yang berakhir menjelang tengah malam tersebut telah membuat ribuan penonton tampak puas. Mereka terlihat bertepuk tangan usai pertunjukan tersebut.

SIEM 2010 di Stadion R Maladi atau juga disebut sebagai Stadion Sriwedari itu akan berakhir pada Minggu (11/7/2010) malam.

Sumber :
ANT