Jumat, 18 April 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 18 April 2014 | 14:28 WIB
Seni Lukis Bali Jadi Koleksi Dunia
Penulis: | Sabtu, 19 Juni 2010 | 01:00 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

google.com
ilustrasi

DENPASAR, KOMPAS.com--Karya seni lukis tradisional Bali yang awalnya hanya diperdagangkan di emperan toko atau kaki lima, kini tercatat berhasil menjadi koleksi sejumlah museum di Bali dan nasional, bahkan sampai ke beberapa negara di belahan dunia.

"Karya seni yang telah berhasil menerobos sejumlah museum di belahan dunia itu, secara tidak langsung mampu mengangkat dan mengharumkan nama Bali, baik di tingkat nasional maupun internasional," kata Anak Agung Gede Rai, perintis dan pengelola Museum Arma Ubud, di Ubud, Bali, Jumat.

Ia mengatakan, kini banyak pelukis bermunculan dengan mengusung "bendera" seni lukis tradisional Bali sebagai sebuah proses kreatif unggulan.

Proses kreatif seni di atas kanvas tersebut berdampak positif terhadap pengembangan seni budaya, membangun sosial ekonomi masyarakat serta martabat seniman di forum internasional.

Keunggulan seni lukis tradisional Bali yang dikaji dari sudut tata nilai, dapat meyakinkan peminat sekaligus dapat diapresiasikan secara baik oleh masyarakat luas.

Agung Gede Rai menambahkan, proses pembelajaran seni lukis Bali selama ini dilakukan melalui jalur formal dan informal. "Keduanya secara terpadu mampu membangun identitas tersendiri," katanya.

Dua seniman warga negara asing masing-masing Walter Spies dan Rodulf Bonnet, mempunyai pengaruh sangat besar terhadap perubahan karya-karya pelukis Bali.

Walter Spies, warga negara Jerman dan Rodulf Bonnet, warga negara Belanda, secara kebetulan menemukan inspirasi dalam merampungkan karya seni, hingga kemudian memunculkan kebebasan kreatif pada seniman setempat.

Perubahan karya-karya seniman Bali dari seni lukis klasik ke kebebasan kreatif maupun perluasan tema, terjadi sejak tahun 1929.

Kedua seniman asing yang hidup menyatu dengan masyarakat Bali, tercatat sempat bergabung dalam organisasi kelompok pelukis dan pematung Pita Maha Ubud.

Menurut dia, perkembangan seni lukis tradisional Bali hingga kini tetap eksis, dan diharapkan mampu sejajar di tengah-tengah perkembangan seni modern atau komtemporer yang cukup pesat.

Seni lukis tradisional Bali adalah sebuah komunitas besar yang di dalamnya menyimpan pertumbuhan dan perkembangan dengan fenomena tersendiri.

"Fenomena yang muncul dari perkembangan seni lukis tradisional Bali itulah yang penting untuk diketahui oleh masyarakat luas," ujar Agung Rai menambahkan.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono