Cerber Handry TM
“And check again the ponderous mirror:
No image yet except the falling star”
demitris tsaloumas
Kabut Sedini Mungkin adalah cerita bersambung yang kami turunkan mulai hari ini. Ditulis oleh Handry TM, seorang penulis asal Semarang yang melahirkan banyak karya berupa cerita pendek, novel, skenario film, puisi, esai, dan tentu saja karya jurnalistik yang pernah ia tuangkan di Harian Suara Merdeka, tempatnya bekerja dari tahun 1984 hingga 2006.
Beberapa karyanya pernah pula dimuat di, Suara Pembaruan, Hai, Suara Karya dan Gadis. Novelete Kabut Bening dinobatkan sebagai Juara II Sayembara penulisan Novelete Majalah Gadis. Cerpennya berjudul Cinta yang Dilupakan tahun 2000 masuk dalam 10 cerpen terbaik nasional yang dibukukan oleh Kajian Bahasa dan Budaya Indonesia Deakin University, Melbourne, Australia bekerjasama dengan The Study Center of The Humanities, Universitas Negeri Padang. Tahun 2005-2006, meraih Jara I Nasional Sayembara Penulisan Skenario Depbudpar dan 10 Besar di kejuaraan yang sama. Kini ia menjabat sebagai General Manager gradasi Magazine dan Editor in Cief di tabloid PLANET BADMINTON.
Kini Handry mendirikan sebuah perusahaan Ezzpro Media yang bergerak di bidang konsultan media dan advertising di kota kelahirannya, Semarang.
Dunia kepenulisan Handry, barangkali tumbuh lebih cepat dari usianya. Saat anak-anak sebayanya masih ketawa-ketiwi di kampus, dia sudah harus sibuk dengan pekerjaannya sebagai wartawan. Di lain saat, dia juga harus berada di tengah-tengah kelompok diskusi yang sedang "mengadili" puisi-puisinya.
Lentur, itulah gaya menulis Handry. Sehingga ia dengan leluasa menembus beragam kalangan pembaca, mulai dari usia remaja hingga dewasa. Kini, selain terus menulis berbagai hal, dia juga dengan takzim mengikuti perkembangan musik jazz di dalam maupun luar negeri. Musik yang digelorakan oleh kaum budak di Amerika ini rupanya sedemikian menyedot perhatian Handry. Itulah soalnya, ia dengan intens menulis soal musik ini di blognya http://www.handrytminside.blogspot.com/. Dan pada beberapa cerpen, puisi, juga novel karyanya, musik jazz lamat-lamat terbayang di sana.
KABUT Sedini Mungkin, berkisah tentang perjalanan Fla sebagai jurnalis. Suatu kali dia ditugaskan meliput sebuah festival jazz di New York. Dalam perjalan dari Jakarta ke New York, ia berkenalan dengan Garind Nataniel. Ternyata, perkenalan itu merupakan awal dari porak-porandanya tugas Fla di kota megapolitan tersebut. Tak cuma itu, Fla pun menerima ancaman dari beberapa orang tak dikenal lantaran sikap lembutnya pada Garind.
Ketika cinta mulai bersemi di antara keduanya, mendadak Garind lenyap bak ditelan bumi. Apa yang terjadi atas diri laki-laki misterius itu? Bagaimana Fla mengatasi persoalan yang ia sendiri terjerumus begitu jauh? Benarkah sesosok mayat yang telah membusuk di selokan subway itu milik Garind? Sejumlah pertanyaan itu kelak akan terjawab jika Anda mengikuti cerita ini cukup seksama.
Selamat menikmati.
P r e l u d e
SEPERTI mimpi. Tiba - tiba disodori tugas perjalanan ke New York. Ini berarti perjalanan jurnalistik pertamanya ke luar negeri.
''Apa yang lo rasain ketika secara nggak sengaja dengar Nature Boy?'' tanya Pak Bonny, Komisaris Perusahaan penerbit Jazzy, seminggu lalu.
Fla mendongakkan wajah. Mungkin matanya mengerjap-ngerjap, atau bahkan kebingungan. Tahu persis sih nomor yang dimaksud orang teras di majalah tempat ia bekerja itu. Nature Boy adalah nomor jazz yang sangat lama. Nyaris menjadi lagu wajib tiap Kamis malam, di acara Jazz Nite radio FM milik Pak Bonny.
''Sebuah in-depth?'' Fla mencoba mengumpan.
Laki - laki menjelang empatpuluh tahun itu tertawa ngakak. Lantas membetulkan letak kacamata terbalnya yang miring.
''Sorry, gue keliru. Maksud gue bukan yang miliknya Natking Cole. Tapi versi remix - nya Mari Nakamoto, vokalis Jepang.''
''O, yang itu?”
“Iya, yang itu. Paham, kan?”
“Iya, iya. Itu sih lagu main-main, Pak. Kelewat rancak. Nggak bisa dinikmati. Instan, neh.''
''Gito-loh maksud gue. Sekarang lo mesti secepatnya mengurus paspor dan visa , juga perlengkapan secukupnya. Gue tugasin lo ngeliput Manhattan Jazz Festival. Waktu persiapannya cuma seminggu. Oke?''
Manhattan?? New York City??!
Sebuah festival jazz di New York???
Fla cuma ngakak dengan mulut terlongong. Ia pikir pasti Pak Bonny main-main. Maka, secara sambil lalu ia kunyah permen cokelat, kebiasaan yang susah ditinggalnya sejak SMA dulu. Ia gigit seruas demi seruas, dan Pak Bonny berlalu dari ruangan itu tanpa sepatah kata tambahan pun untuknya.
S a t u
BAGINYA, bisa jadi ini sebuah mimpi buruk. Mana mungkin secepat ini terjadi, reporter yang baru enam bulan terjun di lapangan sebuah majalah musik, mesti menembus liputan internasional seorang diri.
Enam bulan lalu ia mendaftar kerja di Jazz Magazine sebagai kontributor artikel. Bulan pertama tulisannya masih seputar review, analisa album baru jazz-jazz industri. Minggu ketiga, dengan alasan krisis SDM, Fla diberi tugas meliput berbagai konser musik. Berbekalkan sedikit hafalan tentang dictionary jazz, liputan musik Fla jadi penuh tenaga. Ia tidak menuliskan apa yan g nampak di depan mata, melainkan apa yang tengah terjadi di balik stage. Lebih jauh lagi, ia tarik ke belakang latar sejarah dengan komparasi fenomena tren musik sejenis.
Atas keisengan cerdas di dalam tulisannya, sejumlah redaktur benar-benar “jatuh hati”. Gara-garanya sih sepele. Misalnya saja begini, suatu kali ia menulis artikel tentang Casiopea, kelompok jazz legendaris era 90-an Jepang. Dalam artikel itu ia puji tampilan Issei Noro dan Yoshihiro Naruse, dua personel berkecepatan tinggi dalam memetik bass dan gitar. Tentang impresi itu, enteng saja Fla membubuhkan opini seperti ini: ''Sebuah kredo baru akhirnya muncul. Casiopea berhasil melejitkan apa yang belakangan orang menyebutnya sebagai Electro-Jazz. Sebuah fantasi yang bisa diraba. Kita perlu curiga lho, jangan-jangan Issei Noro dan Yoshihiro Naruse bukan manusia. Kecepatan main mereka seperti malaikat pencabut nyawa. Zero-Error! Tuh Casiopea'' Itulah alinea terakhir pada artikel Fla.
Tantangan ke New York memang riskan. Tapi apa boleh buat, ia harus menerjemahkan itu sebagai kesempatan. Maka harus benar-benar dipersiapkan. Fla lalu lalang di ruang Pimpinan Redaksi, melaporkan perintah Pak Bonny.
''Fla,'' tegur pimpinannya.
''Yap, Mas.''
''Banyak rekan yang lebih senior dari kamu mendambakan kesempatan seperti ini. Tapi nggak semua orang punya nasib sebaik kamu.''
“Iya, ya?.''
''Segalanya akan disiapin, kamu langsung urus di bagian administrasi. Selesai liputan di New York jangan tergesa - gesa pulang. Kamu cari rombongan musisi koita yang berangkat ke sana. Kalau perlu nguntit aja kemana mereka pergi. Banyak bahan deh yang bisa kamu tulis dari perjalanan itu. Manhattan jazz Festival tuh event hebring, lho.''
''Pasti akan muncul kesulitan.''
''Itu biasa untuk setiap permulaan.''
Fla mengangguk. Bersalaman dan keluar ruangan.
Ia memang harus berpapasan dengan banyak orang. Tentu saja sindiran kawan-kawan pun bercelometan. Kalau dirasa, akan bikin panas pikiran. Banyak orang mengincar nasib baik semacam itu, seperti kata Pemred-nya, tapi belum tentu mudah memndapatkannya.
Fla tersenyum. Perasaannya getir sekali saat menerima rincian biaya perjalanan dari bagian administrasi. Seakan tengah meraup bertimbun-timbun kesempatan yang sedang diantri banyak kawan di deret hingga paling belakang.
Siang hari berikuitnya harus ke Kantor Imigrasi untuk urusan paspor. Selebihnya, Fla sendiri bingung. Apa yang akan dikerjakannya sehubungan dengan tugas tersebut. Atas saran Lukas, Executive Editor, ia harus mencari informasi dari rombongan musisi dan wartawan media lain yang akan berangkat ke festival itu. Kemana harus menghubungi, ini tugas Fla untuk mencari.
''Jadi berangkat, nih?'' Sindir Tami, bagian administrasi ketika melintas di ruang redaksi.
''Iya, dong!''


