Senin, 28 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Juli 2014 | 13:14 WIB
Bahasa Sunda Sebagai Pengantar di Sekola
Penulis: Jodhi Yudono | Jumat, 23 April 2010 | 00:10 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

www.TPGImages
Ilustrasi

BANDUNG, KOMPAS.com--Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Moh Wahyudin Zarkasyi mengatakan, untuk menerapkan nilai-nilai kearifan lokal Sunda dalam manajemen pendidikan dapat dilakukan dengan cara penggunaan bahasa Sunda sebagai pengantar di sekolah.

"Agar murid mampu berkomunikasi, pembelajaran bahasa Sunda diarahkan pada kegiatan untuk membekali murid terampil berbahasa lisan dan tulisan. Murid lebih banyak dilatih menggunakan bahasa daripada pengetahuan tentang bahasa," kata Wahyudin dalam makalahnya yang disampaikan pada Seminar Nasional Mengangkat Nilai-Nilai Universal Kesundaan, di kampus Unpad, Bandung, Kamis.

Menurut Wahyudin pembelajaran bahasa dan sastra Sunda bertitik tolak dari pandangan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi bagi masyarakatnya, sehingga diwujudkan melalui kegiatan berbahasa lisan dan tulisan.

Oleh karena itu, kata dia, pembelajaran bahasa Sunda dipusatkan untuk meningkatkan kemampuan berfikir dan bernalar, serta memperluas wawasan budaya Sunda.

"Murid diharapkan tidak hanya mahir berbahasa Sunda, tapi juga memiliki kepekaan dalam berhubungan satu sama lain dan dapat menghargai perbedaan yang berlatar belakang budaya Sunda," kata Wahyudin.

Dia mengatakan, selain bahasa, pembelajaran sastra di sekolah harus diarahkan agar murid memperoleh pengalaman apresiasi dan ekspresi, bukan sekadar pengetahuan.

"Melalui sastra murid diajak untuk memahami, menikmati, dan menghayati sebuah karya. Pengetahuan tentang sastra hanyalah sebagai penunjang dalam mengapresiasinya," katanya.

Dengan demikian, kata dia, fungsi utama sastra sebagai penghalus budi, penumbuh apresiasi budaya, penyalur gagasan dan imajinasi kreatif, serta peningkatan kepekaan, rasa kemanusiaan, dan kepedulian sosial dapat tercapai dan tersalurkan," kata Wahyudin.

Menurut dia,  untuk sekolah dan daerah yang kesulitan dengan pengantar bahasa Sunda bisa menggunakan bahasa Indonesia, baik sebagian maupun sepenuhnya. "Tetapi selalu disertai usaha secara berangsur-angsur untuk bisa memahami petunjuk dalam bahasa Sunda," katanya.

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat telah membentuk Balai Pengembangan Bahasa Daerah dan Kesenian untuk mengawasi serta meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Sunda di sekolah.

Sumber :
ANT
Editor :
jodhi