Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 14:23 WIB
Fungsi Keraton Ditelan Zaman
Jodhi Yudono | jodhi | Selasa, 20 April 2010 | 02:49 WIB
|
Share:

KOMPAS.COM/M SUPRIHADI
Gapura Keraton Yogyakarta

YOGYAKARTA, KOMPAS.com--Fungsi simbolik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat beserta bangunannya, dan ruangan lain, mulai ditelan zaman, kata Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta Achmad Charis Zubair.

"Masyarakat nyaris tidak mengetahui lagi fungsi simbolik dari keraton termasuk bangunan di sekitarnya seperti Panggung Krapyak, Tugu Pal Putih, Taman Sari, tembok keliling keraton hingga Alun-alun. Bahkan ada beberapa di antaranya telah berubah fungsi," katanya dalam sarasehan Keraton Yogyakarta dan bangunan cagar budaya, antara purifikasi dan dinamisasi, di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, perubahan fungsi simbolik bangunan dan ruangan di sekitar keraton, selain keraton itu sendiri, telah mengubah dan mempengaruhi dinamika Kota Yogyakarta.

Kota ini, kata dia didirikan untuk dua kepentingan yang berbeda yaitu kepentingan tradisional Jawa dan kepentingan Kolonial Belanda.

"Sejak awal pertumbuhannya, Kota Yogyakarta bukan semata-mata kota keraton, tetapi juga daerah sebagai tempat tinggal kaum Kolonial Belanda. Mereka bertempat tinggal di antara keraton dan Benteng Vredeburg," katanya.

Hal senada diungkapkan Pengageng II Tepas Dwarapura Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat RM Tirun Marwito yang mengatakan sejumlah bangunan di kawasan keraton sudah mengalami pergeseran fungsi dari tujuan awal pendiriannya, di antaranya Tugu dan Alun-alun Selatan.

Menurut dia, Tugu Yogyakarta seharusnya berbentuk "golong-gilig" dengan puncaknya bulat, bukan runcing seperti sekarang.

"Makna ’golong-gilig’ adalah mengajarkan pentingnya persatuan dan kesatuan antara pemimpin dan yang dipimpin untuk membentuk negara yang kuat, dan adil dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Esa," katanya.

Sedangkan perubahan fungsi Alun-alun Selatan, kata dia menunjukkan adanya kemerosotan warisan budaya yang tidak tampak. "Seharusnya Alun-alun Selatan selalu dalam kondisi tenang, bukannya ramai seperti sekarang," katanya.

Ia menyebutkan Alun-alun Selatan merupakan simbol awal mula terbentuknya manusia, sehingga semestinya selalu dalam kondisi sepi.

Tirun yang juga kerabat keraton itu pun hanya dapat berharap pergeseran-pergeseran yang terjadi di kawasan keraton menjadi pelajaran untuk terus bersikap hati-hati.

Sumber :
ANT