tentang aku yang bercerita hujan, 1
aku telah banyak mencium bau hujan
bau yang tetesnya melebihi aroma bangkai
airnya tiris menabuh degup jantung kau
sebenarnya bau apakah yang tak luruh
oleh deras hujan? bisikmu
sepanjang jalan itu kau hanya melamun
memandangi awanawan yang terus mengikuti
arah hatimu. sesekali kau menangkap isyarat
tak ada tempat yang tak luput dari basah hujan
hujan yang aromanya selalu kau permainkan
kau tantang dan kau taklukan. kau pandangi lagi
awanwan itu. kepalamu tengadah.
wajahmu basah. matamu bersimbah mimpimimpi
yang tak mungkin datang.
wahai dewi aruni, sekarang kau tahu
sebenarnya mata siapakah yang lebih basah
dari air hujan: kau yang sedang duduk di tepi ladang
seraya mengucap gumam doa masa depan
ataukah aku yang datang menyambut doadoamu
dalam setiap kekalahan.
2010
tentang aku yang bercerita hujan, 2
telah kupelajari bahasa rintik hujan
yang tak peduli pada basah daratan.
tahun demi tahun hanya memetik angin yang datang
menjadi badai dari setiap penjuru lautan.
kau tak mungkin lagi berdiam sunyi di redup lampu kota
sebab tubuhmu kehausan di sepanjang tepian tangsi.
lagu ricik sungai. hembusan daundaun. awan yang mendung.
langkahmu air mata. bibirmu mengucap ketakutan.
lalu kepada siapa lagi kita mesti bernaung, tuan!
gerimis selalu kubaca setiap kali aku pergi
meninggalkan dusun asing dan berlari ke tepian ciputri.
aku ingin mengenal ilalang. daun yang menarinari.
aku ingin mencintai setiap deras hujan yang mengguyur tubuhku
walau akhirnya aku menemuimu sebagai keciplak air
di pinggir kali. seperti kincir
yang menghapus duka sepanjang hari
tak mengenal waktu.
tuan, bolehkah kita hening dari bicara tentang mimpi?
2010
dongeng haryanah, 1
dengan tubuh basah
aku datang bertemu haryanah
saat hujan turun perlahan
saat gerimis menetes pelan pelan
awan sedikit kelabu
lalu aku menemukan sepasang matanya
yang kuyup seperti kelelahan
–dengan sedikit terpaksa
aku bertanya: apa obat luka dalam dada?
tanah lembah menjadi laut
laut menjadi gelombang
gelombang menjadi buih
buih menjadi pasir
aku menjadi sepi
tak kudapatkan jawaban darinya
kecuali tanda tanya
tak berhasil kubawa wajah tubuhnya
kecuali sedikit hatinya
ternyata ia luka
kepada haryanah kepada seseorang yang kupangil hana
yang misteri yang anggun yang menari yang melamun
datang, datanglah saat hujan dan senja turun
di malam gelombang angin
di rindu rindu ingin
s a l a m
2010
dongeng haryanah, 2
--empat tahun menunggu kabar
dari remang sudut kamar
aku mendengar suara cerita kau
empat tahun menunggu kabar
dan yang datang adalah burung camar
membawa sepucuk surat airmata
membawa kabar kabar luka
empat tahun kau menunggu kabar
dari jarak dan rasa sabar
dari seseorang yang kau tunggu
di negeri seberang di tanah rantau
tiba tiba dadamu berputar
saat desember mempertemukan kau
dengan perih dalam dada
dengan dusta tanpa sisa
lalu kau tertawa seraya berkata,
betapa bodohnya aku, kawan!
serentak saja kuku kukumu menjadi tajam
kedua tanganmu menjadi cakar
punggung tubuhmu bersayap gelap
seolah ingin terbang
kau melesat ke negeri seberang
menjitaki luka luka
menghantam segala kabar
lalu kau tertawa seraya berkata,
percuma saja aku menunggumu, sayang!
dari remang sudut kamar
ketika sore deras hujan
ketika aku menulis sajak
kau menjadi air menjadi topan
mengalir dan berhembus tanpa beban
dari remang sudut kamar
30 Maret 2010
rindu
dari namamu yang kusebut sebut
dari wajahmu yang kusapa sapa
adalah bertemuMu yang kurindu rindu
Maret 2010
Restu Ashari Putra. Lahir di Jakarta, 31 Desember 1985. Bergiat di Komunitas Rumput dan Majelis Sastra Bandung. Merampungkan studinya di Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Karyanya berupa puisi, cerpen dan artikel tersebar di beberapa media seperti Pikiran Rakyat, Seputar Indonesia, Radar Bandung, Tribun Jabar
Email : restu_freedom@yahoo.com
Blog : www.katarestu.wordpress.com


