Sabtu, 2 Agustus 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 2 Agustus 2014 | 11:28 WIB
Sastra Wangi Aroma Selangkangan
Penulis: | Kamis, 1 April 2010 | 01:48 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Ilustrasi

Oleh:
Agus Sulton

Kemunculan para penulis wanita untuk meramaikan dunia sastra memang bisa dibilang memberikan warna tersendiri bagi dunia kesastraan. Tapi disisi lain terjadi pergeseran orientasi dalam dunia sastra Indonesia dan banyak orang awam mengatakan, karya mereka adalah sesuatu yang tabu. Bisa dibilang mereka adalah generasi sastra dunia ketiga—menolak tabu dalam budaya patriarki yang membelenggu kaum hawa, membuka sebuah kejujuran, menolak kritik penelaah tertentu, dan menolak larangan-larangan yang ditetapkan untuk kaum perempuan. Walaupun sebelumnya Nh Dini, Dayu Oka Rusmini, Ratna Indraswari Ibrahim, dan lain-lain sudah menyuarakan gender atau semacam usaha perempuan untuk bicara sebagai suatu percikan dari gelombang ideologi dan paradigma feminisme.

Seperti juga yang disuarakan, pemimpin kritikus sastra feminis, seperti Helene Cixous, Julia Kristeva dan Luce Irigaray. Pemikir feminis ini menolak kategorisasi didasarkan pada oposisi biner yang pada akhirnya, karya-karya perempuan terpinggirkan (The Jakarta Post, A. Junaidi). Menurut klasifikasi kutub ini, jiwa yang berharga dan tubuh kurang begitu; putih dipisahkan dari hitam—sebagai laki-laki dan perempuan.

Dan, Ayu Utami, Saman (DKJ, 1998) adalah awal mula tonggak dominasi genre sastra baru di dunia ketiga, yaitu ”sastra wangi” tahun 2000-an. Namun kedatangan sastra wangi banyak yang memperdebatkan. Karena sastra wangi itu sendiri adalah hal baru, dimulai oleh Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan berderet nama yang berkedok feminisme—menyatakan hak asasi berbicara masalah diri sendiri, termasuk di dalamnya; Fira Basuki, Nukila Amal, Dewi Lestari, Rieke Dyah Pitaloka, Dinar Rahayu, dan sebagainya. Ibnu Wahyudi (Dosen UI) menulis dalam salah satu jurnal mengatakan sastra wangi adalah istilah sesaat bagi kepopuleran sastra generasi perempuan yang mengandalkan tubuh. Dari definisi tersebut nampak jelas, bahwa penulis perempuan tersebut tidak hanya mengandalkan karyanya, tapi kecantikan dan seksinya penulis (lihat Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu).

Suatu Hal yang tidak dapat dipungkiri adalah, dinamika kesastraan di Indonesia beberapa tahun belakangan ini diramaikan oleh para pengarang wanita. Dari situlah kehidupan sastra Indonesia semakin riuh—dengan munculnya beberapa penulis wanita—yang usianya relatif cukup muda, dan dengan kecenderungan berkarya yang kian beragam, bebas , dan berani. Sehingga banyak pemikir dan penikmat sastra, mereka disebut-sebut sebagai sastra wangi. Karena merujuk pada karya sastra yang diciptakan kaum perempuan (Lampung Post, Soroso). Tetapi hal yang lebih dasar lagi dari sastra wangi adalah seringnya diwarnai tema seks yang bahkan sedikit vulgar, namun ada semangat feminisme, dengan setting dengan latar belakang yang menggambarkan kehidupan mereka sehari-hari (terutama kelas ekonomi atas) dibarengi dengan tumbuhnya individualisme dan ego yang tinggi. Seperti yang pernah ditulis oleh Saut Situmorang dalam ”Politik Kanoniasi Sastra 3” sastra wangi banyak mengangkat seksualitas, dan itu dijadikan sebagai isu yang paling menghantui kepala-kepala jelita para perempuan muda urban Indonesia, para perempuan yang konon berpendidikan tinggi dan mandiri secara ekonomi.

Memang karya sastra adalah sebuah cerminan zaman yang penulis alami, suatu refleksi atas suatu pengalaman dan menulis dijadikan sebagai jalan perenungan. Tapi kedatangannya karya mereka di dunia sastra Indonesia tidak lepas hanya sebuah cerminan fiktif. Akan tetapi, dunia fiktif ini bisa jadi mengandung nilai-nilai yang menjadi alternatif dari nilai-nilai yang selama ini mendominasi di dunia nyata. Nilai-nilai yang disodorkan dalam karya sastra ini bisa jadi baik atau bahkan lebih buruk, tergantung dari masyarakat yang mengkonsumsi karya sastra yang dimaksud. Penulis hanya memainkan parodi, paradok, dan ironi, sehingga tidak bisa memaksa masyarakat untuk menganut nilai-nilai dan norma-norma sosial tertentu. Namun, apa yang ditulisnya bisa menyuguhkan sesuatu yang up to date dan sedikit banyak bisa memberikan pengaruh kepada masyarakat, walaupun dari segi emosional.

Jelas, itu semua hanyalah sebagai kekuatan karya sastra.  Walaupun seperti itu, mereka bisa dibilang fanatisme yang begitu berani dan menjadi suatu hal yang dahsyat untuk perkembangan sastra Indonesia mutakhir. Seperti ada nuansa baru yang intens dikalangan sastra muda Indonesia. Umar Kayam menyebutnya, para penulis-penulis muda banyak yang lebih berbakat bahkan kaum tua susah menandinginya, ada yang mengatakan kata-katanya bagaikan bercahaya seperti kristal (Ignas Kleden). Tapi disisi lain karya-karya dari sastra wangi; Ayu Utami, Dinar Rahayu, dan Djenar Maesa Ayu pernah dituding penetrasi kapitalisme ke dalam dunia sastra. Seks muncul sebagai tema, semata-mata karena tema itu laku di pasaran. Tudingan ini sebetulnya sungguh bukan tanpa alasan. Karena, para pengarang karya sastra kita memang tidak mungkin terlepas dari dimensi pasar dalam pembuatan karya sastra mereka. Selalu ada unsur kapitalisme dalam karya sastra, karena karya sastra harus dipasarkan. Itulah sebabnya, di setiap masa, selalu ada kecenderungan karya sastra ke arah model dan tema tertentu. Menuduh sebuah karya sastra sukses karena penetrasi kapitalisme adalah benar, sebab nyatanya semua karya sastra tidak kuasa melepaskan diri darinya (Surealisme, Sek, Kapitalisme: Karya sastra kaum muda, Saidiman). Kendati demikian, tentu publik pembaca karya sastra tidak seragam, bahkan semakin hari semakin beragam.

Terlepas dari kapitalisme dalam karya sastra, toh kalangan penulis perempuan telah memberikan wacana baru mengenai posisi perempuan di masyarakat. Perempuan selama ini dianggap tidak berhak untuk menyuarakan potensi seksual tubuh mereka, tetapi para penulis ini telah menawarkan satu pandangan baru, bahwa seks juga milik perempuan. Sampai-sampai Tufik Ismail menyebut karya mereka sebagai sastra selakangan, karena banyak mengungkap bagian ”jeroan” begitu vulgar—tanpa dinding pembatas. Seperti pada kutipan; ”Padahal saya sudah rindu. Tapi ayah malah menyangkal ! Katanya ia tidak pernah menyusui saya dengan penisnya.” (Manyusu Ayah, Djenar Maesa Ayu).

”Dan aku menamainya klenit karena serupa kontol yang kecil. Namun liang itu tidak diberinya sebuah nama. Melainkan, dengan ujung jarinya ia merogoh. Dan dengan penisnya ia menembus” (Saman, Ayu Utami)
Sedikit kutipan di atas jelas memberikan suatu fenomena sastra yang mengangkat tokoh perempuan dan kemudian ingin menunjukkan bahwa perempuan bisa memerkosa dan berinisiatif. Perempuan bisa saja berniat untuk melakukan hubungan seksual sebagai subjek, bukan sebagai objek. Hal semacam ini juga pernah ditulis oleh Motinggo Boesye, sastrawan tahun 70-an menulis kisah-kisah yang menceritakan hubungan seks yang menggairahkan, namun belum sampai berani mengarah sekitar selakangan.

Memang selama ini para novelis yang banyak mengeksplorasi seks ke dalam karya sastra beranggapan bahwa kultur di Indonesia, baik budaya daerah atau agama, selalu memposisikan perempuan sebagai objek (Eksplorasi seks dalam sastra, Irfan Hidayatullah).

Sebenarnya banyak novel yang berbau seksual, tapi tidak sevulgar novel-novel dari sastra wangi. Begitu eksplisitnya penggambaran tentang bagian selakangan, tanpa rasa malu. Sehingga bisa dipastikan karya-karya dari sastra wangi banyak yang menyengat aroma selakangan dan seks dijadikan permasalahan utama dalam penulisan. Kalau dimasukkan dalam jajaran segmen, jelas karya mereka sudah pasti masuk dalam segmen pembaca dewasa.
Bukan hanya seks dan kevulgaran dalam pendeskripsian. Ditengok dari sudut pandang lain penulis sastra wangi juga banyak mengangkat ajaran moral yang baik, kritikan terhadap pemerintah, dan pernyataan gender. Tetapi ajaran gender tidak begitu difokuskan dalam ajaran moralnya. Mungkin bisa dilihat konflik yang terjadi dalam novel Saman.

An sich

Walaupun seperti itu, Ayu Utami sudah mampu menunjukkan pesona kepada pembaca—dari sudut ceritanya yang menawan, juga terpuaskan dengan sajian bahasa, bentuk, dan ungkapan yang indah, seperti kristal yang belum pernah dicoba sebelumnya. Disamping itu, pembaca juga dapat menikmati kefulgaran dunia seksualitas yang bisa bikin gerrr (baik bagi laki-laki maupun perempuan), bahkan pengikut ajaran pembelaan sastra kepada kaum tertindas—juga bisa menjadikan karya Ayu Utami tersebut sebagai instrumen perjuangan.

BIODATA
Agus Sulton lahir di Jombang, 1986. Status sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Jombang. Penggiat di Lingkar Study Warung Sastra (LISWAS, komunitas tulis dan apresiasi sastra) Ngoro-Jombang.
Kumpulan puisi pribadinya ”Tetesan Tinta Air Mata” (ditulis dari tahun 2002-2005), ”Sketsa Tak Bermantra 1” (ditulis dari tahun 2004-2006), ”Berhias Mata Kaca” (ditulis dari tahun 2006-2008), dan “Kantin Pelatuk Naga” 2010. Karya lainnya berupa cerpen, esai, dan 1 novel pribadi ”Rembulan Bernyanyi”. Saat ini tinggal dan berkarya, di Desa Rejoagung, Kec Ngoro, Kab Jombang JATIM

Editor :
jodhi