Kamis, 31 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 31 Juli 2014 | 18:27 WIB
Puisi Tubuh yang Runtuh Rachman Sabur
Penulis: Afrizal Akbar | Kamis, 25 Maret 2010 | 23:17 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

SURABAYA, KOMPAS.com- Tubuh itu tanah. Tubuh itu air. Tubuh itu tanah air. Kita semua yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah.

Analogi tersebut mengungkapkan kegelisahan Sutradara Teater Payung Hitam Rachman Sabur yang pernah merasakan stroke kurang lebih setahun lalu. Saat itu, pria yang akrab disapa Babe ini benar-benar merasa seperti mau mati ketika tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan dan juga tidak bisa berbicara akibat penyakit yang biasanya susah disembuhkan ini.

"Saya tidak menyerah begitu saja. Walau untuk berteriak saja sulit, di saat seperti itulah saya belajar melihat keadaan pada tubuh saya dan kemudian perlahan bangkit dari tubuhnya sendiri," ujarnya saat ditemui di Surabaya, Kamis (25/3/2010).

Melalui pertunjukan teater yang digambarkannya dalam lakon "Puisi Tubuh Yang Runtuh", pria kelahiran Bandung, 12 September 1957 ini mampu melawan penyakitnya. Bahkan, Kamis malam ini ia bisa menampilkan pertunjukannya tersebut di Gedung Cak Durasim Surabaya Taman Budaya Jawa Timur.

Karya ini adalah sebuah reportoar tentang pribadinya dalam berjuang melawan stroke. "Banyak yang menderita stroke dan bnayak pula di antaranya yang telah runtuh. Stroke itu seperti pembunuhan karakter. Tapi saya akan terus melawan dan hingga hari ini saya terus melawan meski itu tidak mudah," ujar Babe.

Dalam pertunjukan berdurasi hampir satu jam itu, ia memertunjukkan teater tubuh dengan menampilkan empat tokoh sebagai bagian dari tubuh yang runtuh. Keempatnya selalu mencoba bangkit walau terkadang muncul penyakit yang digambarkan dengan wujud manusia jangkung yang kerap mengganggu empat bagian tubuh tersebut.

Pertunjukkan tanpa dialog ini juga diperkuat dengan tampilan artistik layar multimedia yang menampilkan beragam Topeng Cirebon dengan banyak karakter. Adapun yang ditampilkan adalah wujud Topeng Panji dan Kelana. Topeng ini sebagai analogi karakter yang dianggapnya mirip dengan tingkah polah manusia yang susah sekali menguasai diri jika dihadapkan dengan emosi dan nafsu.

Sebelumnya, pada akhir 2009 "Puisi Tubuh yang Runtuh" ini pernah ditampilkan saat Mimbar teater Indonesia di Taman Budaya Surakarta. Rencananya, tahun ini juga akan ditampilkan di Eropa, yakni di Serbia dan Bosnia.

Editor :
msh