Frans Sartono dan Budi Suwarna
KOMPAS.com - Pesinden atau vokalis perempuan pada karawitan Jawa dan Sunda terus bermunculan. Mereka menekuni seni tradisi di tengah dinamika perubahan zaman sebuah negeri yang kaum mudanya lebih mengenal suara Lady Gaga dan Beyonce ini.
Ladrang ”Panjang Ilang” mengalun lembut dari kelompok karawitan Jawa Prastowo Laras di Balai Soedjatmoko, Solo, Jawa Tengah, 8 Maret lalu. Saat itu ada pesan pendek masuk ke telepon seorang pesinden. Isinya, ”WS RPG DRG BU?” Itu bahasa Jawa gaya SMS yang versi panjangnya berbunyi ”wis rampung durung Bu” atau ”Sudah selesai belum Bu?”.
Pesinden itu bernama Nanik Dwi Widyaningrum (22) yang saat menyinden mengenakan celana jins. SMS itu datang dari sang suami yang setia menunggunya di rumah. Maka di sela alunan suara merdunya, Nanik menjawab, ”Drg Mas.”
Itulah sepotong sketsa kehidupan seorang pesinden hari ini. Nanik yang adalah mahasiswi Jurusan Karawitan, Institut Seni Indonesia (ISI), Solo, malam itu merupakan salah satu dari tiga pesinden yang tampil bersama kelompok karawitan Prastowo Laras dari Kebak Kramat, Kabupaten Sukoharjo. Mereka tampil pada acara ”Selasa Legen” di Balai Soedjatmoko, Jalan Slamet Riyadi, Solo.
Kita tengok secuil sketsa keseharian pesinden lain, yaitu Peni Candrarini (27). Pesinden yang merampungkan program S-2 di ISI, Solo, itu juga seorang komposer dan pengajar di Jurusan Karawitan, ISI. Ketika ditemui Kompas suatu siang pada pertengahan Maret, Peni baru kembali dari kampus ISI, Kenthingan, Solo. Dia naik sepeda motor bebek otomatik dengan tas terselempang di pundaknya. Tas itu berisi laptop dan Blackberry.
Menyusut
Peni dan Nanik adalah pesinden muda zaman ini yang hidup di tengah dinamika perubahan budaya masyarakatnya. Mereka tumbuh ketika karawitan nyaris tersingkir dari kehidupan kota dan tergulung oleh produksi industri musik pop lokal ataupun global. Namun, di antara riuhnya suara penyanyi seperti Lady Gaga atau Beyonce, pesinden muda itu terus merdu menyinden meneruskan jejak pesinden legendaris, seperti Nyi Prenjak, Nyi Tjondro Lukita, atau Nyi Ngatirah.
Tetap berakar pada seni tradisi, Peni melakukan pengembaraan kreatif ke berbagai wilayah musik. Ia masuk komunitas musik kontemporer Sono Seni pimpinan Wayan Sadra. Ia mendukung pentas musikal ”I La Galigo” yang musiknya digarap Rahayu Supanggah. Bersama Dwiki Dharmawan, Peni mendukung konser Krakatau. Dan sebagai komposer, Peni mengikuti Asia Pacific Performance Exchange (APPEX) 2010 di Bali yang dihadiri komposer dari sejumlah negara.
Jumlah pesinden muda memang relatif tidak banyak. Setidaknya itu yang terlihat dari jumlah mahasiswa yang mengambil jurusan karawitan di ISI, Solo. Dari 60 mahasiswa angkatan tahun 2009, terdapat 25 perempuan. Mereka memang masih perlu diuji oleh waktu. Pasalnya, dari pengalaman selama ini, jumlah mahasiswi cenderung menyusut. Pada angkatan tahun 2006, misalnya, dari 35 mahasiswa Jurusan Karawitan ISI Solo, terdapat 10 perempuan.
”Sekarang tinggal enam mahasiswi. Itu pun yang minat menjadi sinden cuma tiga orang. Yang lain memilih komposisi,” kata Nanik, mahasiswa ISI angkatan 2006 yang berasal dari keluarga seniman asal Sambung Macan, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Lebih parah lagi adalah angkatan Peni, tahun 2001. Dari total 50 mahasiswa Jurusan Karawitan, terdapat 12 perempuan. Pada semester II jumlah mahasiswi tinggal lima orang. ”Pada semester III tinggal saya sendiri,” kata Peni yang berasal dari Desa Ngentrong, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Lalu ke mana kawan-kawan Peni? ”Ada yang pilih jadi sales, kerja di mal, atau kawin,” katanya. Menjadi pesinden, katanya, memang memerlukan kesetiaan pada seni.
Dikira tua
Pesinden di ranah karawitan Sunda tak jauh berbeda. Di tengah dinamika perubahan nilai-nilai, termasuk cara pandang masyarakat terhadap seni tradisi, pesinden muda masih setia berpijak di akar budaya dan tak tergoda dengan iming-iming yang mungkin bisa diraup dari dunia di luar sinden.
Nia Yunia (28) yang kuliah di Universitas Padjadjaran, Fakultas Sastra, Jurusan Dokumentasi Budaya, sinden dari kelompok karawitan Lokantara Budaya, itu misalnya, sering tampil siaran langsung di acara kliningan di Programa IV RRI Bandung.
”Saya siaran di sini untuk mengembangkan diri. Kalau bayaran mah kecil,” kata Nia yang ditemui seusai menyinden di RRI Bandung, Senin (15/3) malam lalu.
Nia merasakan bahwa kepuasan menyinden bukan pada perolehan materi. Kepuasan itu termasuk adanya penggemar yang terhibur. Dia bahkan mempunyai pendengar fanatik lewat siaran kliningan di RRI Bandung. ”Penggemar saya umumnya tua-tua. Usianya 40-50 tahun. Mereka kadang datang ke sini melihat siaran langsung. Dulu, mereka mengira, saya sudah tua. Makanya ketika bertemu mereka kaget. Maklum, dulu sinden kan tua-tua, sekarang justru banyak anak muda,” ujar Nia.
Berkat tampil di RRI pula, tawaran pentas untuk hajatan di sejumlah daerah berdatangan. ”Jadi, saya cari duitnya dari pentas hajatan,” kata Nia.
Nia mengakui undangan tampil di hajatan saat ini semakin berkurang. Dulu, tahun 1997, setiap musim hajatan, dia hanya bisa istirahat rata-rata lima hari dalam sebulan karena banyak orang menanggap kliningan. ”Sekarang orang lebih senang menanggap musik dangdut atau organ tunggal. Kalaupun ada yang nanggap, paling maunya paket hemat, hanya sinden dengan musik kecapi dan suling,” kata Nia yang memilih sinden sebagai panggilan jiwa.
Pesinden memang harus menghadapi gaya hidup masyarakat yang ingin serba praktis. Pesinden Tetti Yani Mugiono (33) asal Subang, Jawa Barat, sempat tergoda untuk menyanyi pop karena bayaran yang menggiurkan. ”Saya dulu sempat nyanyi pop, tapi sekarang saya memutuskan untuk menekuni kesenian tradisi saja. Sinden itu penghasilannya manyeung, sedikit tapi ada terus,” kata Tetti Yani sembari menambahkan satu album degungnya sudah dirilis di Jerman.
Pesinden muda itu memutuskan setia merawat warisan budaya bangsanya meski kurang mendapat penghargaan layak. Itu soal panggilan...

