Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 16:29 WIB
Alunan Gamelan Suatu Malam
| wsn | Minggu, 21 Maret 2010 | 10:10 WIB
|
Share:

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Kelompok karawitan Prastowo Laras dari Kecamatan Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar, pada acara Klenengan Selasa Legen di Balai Soedjatmoko, Solo, Jawa Tengah, Senin (8/3) malam.

KOMPAS.com - Alunan gamelan Jawa dan Sunda pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di negeri ini. Dalam dinamika perubahan zaman, musik karawitan seperti terpinggirkan dari kehidupan masyarakat urban. Tetapi kini orang rindu mendengar kembali akar budaya bangsanya itu.

Sunyi malam di kala purnama, terdengarlah nun di sana. Sayup sampai tertiup pawana, gamelan penuh irama...”

Itu penggalan lirik lagu ”Solo di Waktu Malam” karya Maladi. Suasana Solo di waktu malam itu seperti hadir kembali ketika kelompok karawitan Prastowo Laras mengalunkan gending-gending Jawa di Balai Soedjatmoko, Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah, Senin (8/3) malam.

Saat itu berlangsung acara ”Selasa Legen”, yang digelar setiap malam Selasa Legi yang merupakan hari weton atau hari lahir budayawan Soedjatmoko (1922-1989). Balai Soedjatmoko merupakan rumah yang pernah ditinggali keluarga Soedjatmoko.

Dalam gerimis malam itu mengalun gending Lendhi Minggah Ladrang Aja Semaya Slendro Manyura dan seterusnya. Itu merupakan rangkaian komposisi yang disatukan sebagai semacam medley. Suasana sangat Jawa yang ayem, tenteram terasa hadir. Tak kurang 50 orang hadir pada acara tersebut termasuk sejumlah ekspatriat dari Amerika Serikat, Belanda, dan Jepang. Mereka duduk bersila di tikar sambil menikmati camilan berupa kacang dan pisang rebus, ditemani teh hangat.

Seni rakyat

Kelompok Prastowo Laras pimpinan Suyoto (49) yang dibentuk tahun 1996 berasal dari Desa Tlumpuh, Kebak Kramat, Sukoharjo, Jawa tengah, berjarak sekitar 6 kilometer dari pusat Kota Solo. Para pengrawit atau pemain gamelan berpenghidupan sebagai sopir truk, buruh tani, tukang batu, sampai kuli kayu gelondongan. Sebagian kecil yang lain adalah lulusan Institut Seni Indonesia (ISI), Solo.

Prastowo Laras termasuk grup yang populer di kawasan Kebak Kramat, bahkan sampai di wilayah Kabupaten Sragen. Mereka bahkan mempunyai groupies atau penggemar fanatik. ”Kami punya banyak penggemar, mulai dari petani sampai tukang bakso. Banyak penjoget yang datang ke mana saja kami main,” kata Suyoto.

Acara ”Selasa Legen” yang dimulai sejak Agustus 2009 digagas Joko Bibit Santosa, pimpinan Teater Ruang Solo. Ia melontarkan ide agar Balai Soedjatmoko memberikan wadah bagi kelompok karawitan di kampung-kampung di kota Solo maupun di desa-desa sekitar untuk berpentas.

Gagasan ini mendapat dukungan dari dalang Ki Slamet Gundono, penari Wahyu Santosa Prabowo, Pamardi, dan pengrawit Danis Sugiyanto. Mereka satu pandangan bahwa seni karawitan ”kampung” selayaknya mendapat tempat di ruang publik, di tengah budaya urban seperti di kota Solo.

Mereka menengarai, seni karawitan kampung semakin hilang dan tidak diminati oleh masyarakat. Selain terpinggirkan oleh tawaran budaya baru dalam kehidupan modern sekarang. Balai Soedjatmoko menganggap seni karawitan kampung sebagai ekspresi budaya masyarakat kebanyakan perlu diselamatkan, dilindungi, dari ancaman apa pun. Melalui musik karawitan, klenengan, warga awam kota dan juga desa bisa mengekspresikan diri lewat budaya sendiri. Di situ, kebudayaan jelas bersangkutan dengan soal jati diri.

Benteng budaya

Suasana kembali ke akar budaya serupa itu juga terasa hadir di Bandung, Jawa Barat, ketika RRI Bandung lewat Programa 4 menampilkan kliningan dari grup karawitan Sunda Lokantara Budaya. Suara pesinden Nia Yunia dan Tetti Yani yang meliuk-liuk dalam tembang ”Kembang Sorga” seperti membawa pendengar melayang ke alam Pasundan. Acara kliningan disiarkan langsung setiap Senin pukul 22.00-23.30.

Acara radio yang bisa ditangkap lewat audio streaming di internet itu mendapat respons pendengar dari luar Jabar, seperti Lampung, Bengkulu, Banjarmasin, bahkan juga di Malaysia, Singapura, Belanda, dan Jerman. Penikmat karawitan Sunda sangat loyal. ”Sekali saja kami tidak siaran, mereka bisa marah-marah,” kata Iik Setiawan, Kepala Seksi Programa 4 RRI Bandung, yang ditemui sebelum siaran dimulai.

Dalam pengamatan Setiawan, karawitan Sunda saat ini harus bersaing dengan industri musik global. ”Anak-anak muda lebih senang dengan musik Barat.” Meski begitu, kata Iik, RRI tidak akan pernah meninggalkan kesenian tradisi.

Acara kesenian Sunda mulai bergairah kembali di Programa 4 RRI Bandung sejak 2006-2007. Sebelumnya, acara tersebut sempat vakum setelah Departemen Penerangan dibubarkan. ”Kami sempat goyah sebab seniman-seniman RRI yang sepuh sudah pensiun. Hampir 10 tahun gamelan tidak dipakai di RRI karena mereka pada pensiun,” katanya.

Sebagai siasat, sebagian siaran menggunakan kaset. Namun, pada tahun 2006, RRI bangkit. Mereka merekrut 12 seniman yang sebagian besar lulusan STSI Bandung, sebagai tenaga kontrak RRI. Dari situ, acara kesenian Sunda di RRI mulai semarak lagi. ”Kami bisa melahirkan acara-acara dengan konsep siaran langsung lagi. Lahirlah sinden-sinden muda,” kata Iik.

Iga Mawarni (36), penyanyi asal Solo yang kini bermukim di Jakarta, merasa kembali ke akar budayanya ketika mendengar suara gamelan. Di benaknya terlintas suasana tenteram. ”Minum teh dan makan pisang goreng sore-sore madep ke sawah he-he-he....,” kata Iga soal lanskap yang menaungi benaknya saat menikmati gamelan.

”Pada suatu titik tertentu, kita ingin switch kembali ke diri kita yang dulu. Aku ingin mencari suasana itu,” kata Iga mengungkapkan kerinduannya pada pijakan budaya kehidupannya.

Nang ning nong gung, begitu suara gamelan yang menenteramkan hati itu lahir dari bangsa yang berbudi— bukan dari orang-orang yang memuja kekerasan dan memuliakan kebiadaban. (ASA/BSW/XAR)

 

Sumber :
Kompas Cetak