Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 16:36 WIB
Puisi-puisi Aliyah Purwati
| jodhi | Sabtu, 20 Maret 2010 | 11:12 WIB
|
Share:

KOMPAS/LASTI KURNIA
Pelangi setengah lingkaran yang hampir membentuk dua lingkaran pelangi (Semi-circle double rainbow), tetapi lingkaran kedua tampak tipis dan belum terbentuk sempurna, terlihat sejenak di langit Jakarta, Sabtu (29/11) sore, setelah hujan. Pelangi kedua terjadi karena refleksi ganda dari cahaya matahari.

Padamu bunga kamboja kutitip rindu

Oleh: Aliyah Purwati

Hujan rindu masih setia menghujamku
deras, tak mau berhenti sedikit pun
seperti dingin yang menggigilkan ragaku kemarin sore
tajam menusuk hingga ke tulang sumsum
aku pun terpaku dengan bibir gemetar

Pelangi yang kita lukis tempo hari
masih menyemburatkan warna indah
bersama riak gelombang
yang mulai datang menjamah
tubuhku terpelanting bersama malam
menyangga jutaan perasaan

Aku diam, semakin menyadari
bahwa kita tak mungkin lagi saling bertamu
padamu bunga kamboja,
kutitip rindu ini untuknya
bersama sajak yang tak pernah lepas dari pangkuan

Hong Kong, 22 Februari 2010

Kangen

Oleh: Aliyah Purwati

Aku masih setia menunggu sajakmu pagi ini
barangkali ada secuil rindu
dapat kuraba di situ

Sama seperti hujan gerimis tadi sore
menyisakan resah berbalut desah
dan bibir kita pun masih rapat
terbungkam

Hong Kong, 20 Februari 2010

Tentang sebuah rasa

Oleh: Aliyah Purwati

Aku mencoba menulis cinta
huruf demi huruf tlah tersusun rapi
menjadi kata hingga kalimat bermakna
ejalah, kau akan temukan sesuatu di sana

Tentang rindu yang tak lagi bisa menunggu,
cinta yang tiada purna
dan semua tentang rasa

Oh, apa yang berdesir
dalam senyum bibir manis
serta tatap indah matamu
bolehkah kau ajari aku
untuk menterjemahkan semua?
aku sungguh tak mampu

Bibirku keluh untuk sekedar berucap
adakah keraguanmu tanpa jedah
tentang sebuah rasa
yang hendak bertahta?

Jejak perempuan di negeri beton

Oleh: Aliyah Purwati

Darahnya tlah terkuras menjadi tinta
tajam laksana pedang
menerjang badai angin topan delapan
bersama riak gelombang yang setia memeluknya

Perempuan berambut panjang itu
kulitnya semakin berkerut
dengan tangan dan kaki gemetar
ia masih berdiri menyangga langit

Di usianya yang senja
ia asyik bermain kanvas
dilukisnya senyum malaikat kecilnya
bersama rindu yang membeku

Berjuta pelangi terpancar
di balik matanya yang sayu
ia mencoba sembunyi, berharap mampu menepikan diri
sepertinya enggan ia tinggalkan
musim-musim yang terjajar rapi

Guratan wajahnya semakin sendu
lalu ia berkata
"ukirlah dunia nak, dengan darahmu. Seperti aku tlah menciptakan pelangi,"
Bibirnya pun keluh sembari berbisik
"Hong Kong, aku akan segera pergi"


Hong Kong, 12 Februari 2010

Penariku

Oleh: Aliyah Purwati

Bait-bait gamelan itu terus mengalir merdu
tak mau sedikit pun menunggu
seakan mengajakku menari
menyusuri lorong-lorong jiwaku

Duhai penariku,
Tercium harum nafasmu
seperti aroma kembang setaman
lentik jemarimu menyimpan jutaan rahasia
gemulai tubuhmu menyeretku berkelana
mengarungi samudra angkasa
sabet sampurmu menterjemahkan seribu bahasa

Oh, apa yang berbisik
hingga aku larut
aku baca rona indah bola matamu
oh, aku tak kuasa
sungguh merengkuh sukma

Duhai paras ayu,
bawa aku pergi
menjelajah hutan belantara
ajari aku menyapa alam mayapada

Penariku,
dalam guratan waktu
aku slalu memujamu
di tiap tarikan nafas
maafkan, jika kutak dapat menyudahinya
karna anganku pun tak mampu melukiskan keindahan dalam dirimu


Hong Kong, 10 Februari 2010

Nyanyian jiwa

Oleh: Aliyah Purwati


Jiwa ini mengembara
menyusuri hutan rimba
menerjang ombak di lautan tanpa jera
terus melaju
karna waktu tak lagi mau menunggu

Jiwa ini menari
hingga ke dasar perut bumi
membunuh sepi, menguak misteri dan mimpi tak bertepi

Jiwa ini bernyanyi
memecah langit
mencoba menyibak tanya
adakah hidup hanya menghabiskan usia
Seperti aksara tak bermakna?

Oh...nyanyian jiwa
enyahkan keraguan tanpa jeda
nyalakan api dengan sejuta mantra
karna jiwa ini tak kan mati
hingga desah nafas terhenti

Hong Kong, 1 Februari 2010

Mencarimu

Oleh: Aliyah Purwati

Aku mencarimu di tepi sungai, dasar samudra, hingga hutan belantara
Barangkali kau ada di sana menggenggam cinta
Namun tak jua kutemukan jejakmu
Yang kutemui hanya kisi-kisi gelap, kosong

Tidakkah kau lihat, aku mengembara demikian jauh
Menjelajah padang jiwa
Namun aku tak mampu membunuh rasa
Menangguhkan segala

Oh, aku hanya berharap malam slalu tiba
Barangkali mimpi mempertemukan kita
Mengurai rindu di tiap detak nadiku
Membisikkan kalimah yang kian membuncah

Aku menunggumu di sudut kamar
Sembari mencoba menterjemahkan tanya
Adakah rindumu masih sedia kala?

saat pagi tiba aku terjaga
rupanya keretamu tlah berangkat
jauh menembus angkasa
tak mungkin kukejar karna jantungku masih berdetak kian hebat

Hong Kong, 28 Januari 2010

Pelangi

Oleh: Aliyah Purwati

Kutemukan pelangi di matamu
Dengan lengkung warna yang terbaca
Seperti kata
Menjelma mantra

Saat kedua mata kita saling menyapa
Tak satu pun kata terlepas
Kita bisu dan kaku dalam hening
Pada guratan cahaya bening

Kita sama mendekap rindu yang mengabu
Dalam bentangan waktu
Kau cairkan hati beku
Hingga malam rubuh
Pada bilah-bilah subuh

Mentari tlah jatuh
Tubuh kita masih hangat bersentuh
Dalam peluh kau rengkuh aku
Hingga menetes kata-kataku
Indah mengalir dalam sajaku