Cerber Benny Benke
Seketika, dalam hitungan sepersekian detik, secara reflek Luka mengayunkan pukulan tangan kanannya ke wajah Gavin. Saking cepatnya ayunan itu, Gavin tak mempunyai kesempatan untuk menghindarinya. Bogem itu telak mendarat di rahang sebelah kirinya. Gavin terjengkang! Terpelanting dari kursi, membawa serta gelas yang ada di depannya, tumpah, pecah berserakan. Darah bercucuran dari mulut Gavin.
Gavin masih dalam keaadaan terjerembab di lantai. Tiba-tiba. Dalam hitungan seperseratus detik, kejadian tadi berputar terbalik dengan sangat super cepat ke keadaan semula. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Gavin masih duduk rapi bersemeja dengan Luka. Dalam keadaan yang masih sangat baik-baik saja, tidak kurang suatu apa pun. Segar bugar. Memang, tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka berdua. Semua kejadian terpelantingnya Gavin akibat bogem Luka hanya ada digambaran dan benakku, – andai aku mengandaikan duduk disisinya, sebagai makhluk kebanyakan tentu saja.
Mereka baik-baik saja. Masih sangat baik-baik saja. Dua orang ini, menurutku, sama-sama luar biasa.
‘’Kau ingin mengatakan kalau aku tidak cukup baik memperlakukan istriku dengan segala kemanusiaanku? Sehingga dengan demikian dia absyah berpaling dariku kepadamu, atau siapapun orang itu?’’ sela Luka.
‘’Kau sendiri yang menyimpulkan.’’
‘’Kau keliru,’’ ujar Luka sembari meraih sebungkus rokok kretek yang tergeletak di atas meja. Membukanya secara perlahan, dan menawarkan kepada Gavin. Gavin hanya menundukkan kepala tanda penolakan yang santun. Melihat Gavin menampik tawarannya, Luka memutuskan mengurungkan niatnya untuk merokok. ‘’Aku bahkan telah secara tumpah menyayanginya…., dan untuk itulah aku tidak habis mengerti mengapa hal semacam ini masih terjadi’’.
‘’Mungkin dia tidak hanya sekedar membutuhkan cinta yang tumpah. Apapun itu, ia tidak menemukan lagi sesuatu di dirimu. Ini memang menyakitkan, aku juga dapat membayangkan, dan merasakan itu. Aku turut prihatin hal ini menimpa padamu.’’
‘’Kau berbicara seperti seorang guru. Aku tidak membutuhkan simpati darimu. Jangan terlalu naïf dengan keadaan yang seolah berpihak di sisimu.’’
‘’Maafkan aku.’’
‘’Jangan juga pernah meminta maaf padaku. Tenang saja. Aku hanya berusaha menemukan segala muara persoalan yang menimpa rumah tanggaku,’’ jawab Luka dengan cepat.
‘’Dan itu melibatkan aku?’’
‘’Mungkin ya, mungkin tidak.’’
‘’Jika muara itu sudah ditemukan. Apa yang akan kau lakukan?’’
‘’Entahlah.’’
‘’Apa yang akan kau lakukan pada istrimu atau aku, kalau semua masalah itu memang bermuara dari istrimu atau aku.’’
‘’Aku belum tahu persis.’’
‘’Kau akan menghabisi riwayat istrimu? Demikian pula dengan riwayatku?’
Luka diam beberapa jenak, menatap Gavin, dan meneruskan pembicaraannya dengan suara yang datar.
‘’Aku tidak sebodoh itu. Atau paling tidak aku tidak akan berbuat senista yang pernah kalian berdua lakukan dibelakangku’’.
‘’Nista dimatamu? Tapi tidak buat istrimu dan aku.’’
‘’Ada kosakata lain yang lebih patut disandangkan kepada seorang istri yang telah berbuat curang di belakang punggung suaminya? Ada diksional lain yang lebih pantas disematkan kepada seorang lelaki yang menjalin hubungan gelap dengan istri orang lain?’’ pangkas Luka dengan intonasi agak meninggi, dan cepat.
‘’Kami saling mencintai.’’
‘’Ah, kalian seperti anak muda yang baru kenal cinta rupanya.’’
‘’Itu yang kami rasakan.’’
‘’Olala……..,’’ desah Luka sembari membuang muka, dan membebaskan nafas. Setelah jeda beberapa lama. Mata Luka kembali memandang ke arah mata Gavin. ‘’Sebenarnya aku malu membicarakan ini,’’ katanya melanjutkan.
‘’Apakah akan mengubah keadaan setelah perbincangan kita usai? Apakah keadaan akan menjadi lebih baik setelah apa yang kita bicarakan? Apakah dengan demikian istrimu akan kembali kepangkuanmu, dengan sepenuh kasihnya, setelah pembicaraan ini’’ jawab Gavin sekenanya. ‘’Dan apakah aku dengan lapang hati akan meninggalkan begitu saja segala yang pernah aku lalui dengan istrimu. Atau seolah dengan mudah pula kau melupakan begitu saja apa yang telah terjadi dengan rumah tanggamu. Sesederhana itukah?’’ imbuhnya penuh tanya.
‘’Tidak akan pernah ada yang sederhana dalam hidup ini.’’
‘’Lantas, point dari perbincangan ini?’’
‘’Akan ketemu dengan sendirinya, jika kau sudi secara jujur bercerita tentang apa yang telah kau lewatkan bersama istriku. Atau paling tidak, kita berbicara layaknya orang dewasa saja. No heart feeling.’’

