Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 12:04 WIB
Rintihan Petani di Lembah Mutis
| jodhi | Jumat, 19 Maret 2010 | 00:19 WIB
|
Share:

google.com
ilustrasi

Oleh Lorensius Molan

Arktusan Taklale (40) bersama beberapa anggota kelompok tani lainnya tampak sibuk membersihkan rumput dan gulma yang mengganggu bawang bombai mereka  dalam kawasan Cagar Alam Mutis.

Lahan yang diolah untuk  bawang bombai dan wortel serta kacang merah itu dipagari dengan kayu agar tidak dirusak oleh binatang, seperti sapi dan kuda, yang berkeliaran bebas dalam kawasan tersebut.

Hampir semua ladang petani dalam kawasan Cagar Alam Mutis itu dipagari dengan kayu agar aman dari gangguan hewan liar.

Menurut hasil penelitian WWF Nusa Tenggara pada 1996, jumlah ternak sapi dan kuda yang berkeliaran bebas dalam Cagar Alam Mutis dan kawasan Hutan Tiimau sekitar 24.000 ekor.

Jumlah ini terus berkurang hingga 23 persen atau sekitar 19.000 ekor pada 2006. Sementara kawasan Cagar Alam Mutis dan kawasan Hutan Tiimau telah berkurang sekitar 75.000 hektare dari sebelumnya sekitar 90.000 hektare pada 1974.

Menurut Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Nusa Tenggara Timur (NTT) Kemal Amas, luas kawasan Cagar Alam Mutis hanya sekitar 12.000 hektare.

"Dalam kawasan Cagar Alam Mutis itu, kami juga membolehkan masyarakat setempat untuk berladang, namun tidak merusak atau menebang pohon dalam kawasan tersebut," katanya.

Lembah nan subur di kaki Gunung Mutis dalam wilayah Kecamatan Fatumnasi itu hanya berjarak sekitar 45 km barat SoE, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan atau sekitar 155 km timur Kupang.

Namun, untuk mencapai kawasan Cagar Alam Mutis yang elok dan memesona mata itu membutuhkan waktu sekitar tiga jam perjalanan dari SoE dengan kendaraan roda empat bergardan ganda akibat buruknya badan jalan mulai dari Kapan, ibu kota Kecamatan Molo Utara.

Jalan provinsi sepanjang 45 km itu diaspal sekitar 22 tahun yang lalu ketika pemerintahan Kabupaten Timor Tengah Selatan dipimpin Bupati Piet Alexander Tallo (alm).

Dalam kawasan Cagar Alam Mutis seluas sekitar 12.000 hektare itu, para petani setempat tidak hanya menanam bawang bombai, tetapi juga bawang merah, bawang putih, wortel, kentang, jeruk keprok, kacang merah dan kemiri.

"Buruknya badan jalan inilah yang menghambat perkembangan ekonomi masyarakat sekalipun berada dalam kawasan yang subur," komentar Uria Kore, Kepala Desa Nenas, sebuah wilayah kantung  dalam kawasan Cagar Alam Mutis.

Desa Nenas yang dihuni sekitar 446 kepala keluarga atau sekitar 2.000 jiwa itu, setiap pekan mendistribusikan berton-ton wortel, daun bawang bombai, kacang merah, kentang, bawang merah dan putih ke pasar SoE dan Kupang.

"Untuk mendistribusikan komoditas tersebut ke SoE atau Kupang, kami harus menyewa truk seharga Rp 1 juta sampai Rp 2 juta, karena medan jalan sangat berat untuk dilalui kendaraan biasa," kata Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Nenas Manuel Estepania atau lebih populer disapa El Pania.

"Mereka hanya bisa merintih di lembah Mutis nan subur, karena tidak didukung fasilitas jalan yang memadai untuk memasarkan hasil pertanian mereka secara kontinu ke pasar SoE maupun Kupang," komentar Julius Malo Dauzo, mantan anggota DPRD NTT periode 2004-2009 melukiskan kisah para petani di kaki Gunung Mutis.

Menurut dia, seharusnya pemerintah daerah memberi prioritas pembangunan jalan raya pada kawasan sentra ekonomi untuk memudahkan petani dalam memasarkan hasilnya ke pasar-pasar yang ada di SoE maupun Kupang.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum NTT Andre W Koreh yang dikonfirmasi secara terpisah terkait dengan buruknya badan jalan yang menghubungkan Kapan dan Nenas dalam kawasan Cagar Alam Mutis itu mengatakan, tahun ini pemerintah akan merehabilitasi jalan provinsi yang menghubungkan ke dua wilayah tersebut.

"Dalam tahun anggaran ini ada dana untuk merehabilitasi jalan provinsi di sekitar Cagar Alam Mutis. Kami menghendaki agar semua jalan provinsi di daerah ini diperbaiki, namun anggaran kita sangat terbatas," katanya menjelaskan.

Cagar Alam Mutis tidak hanya kaya dengan hasil pertanian, tetapi juga kaya dengan bahan tambang seperti batu marmer dan batu mangan serta memiliki pesona alam yang luar biasa, namun belum dikelola menjadi sebuah objek wisata yang memikat minat wisatawan untuk berkunjung ke sana.

Udara pegunungan terasa begitu sejuk ketika matahari perlahan-lahan mulai sembunyi di balik punggung mutis menuju keperaduannya.

"Sayang...dan sayang sekali jika objek wisata alam ini tidak dikembangkan menjadi sebuah daya tarik bagi para wisatawan," komentar Frans Sarong, wartawan Kompas tatkala bersama ANTARA menelusuri jalanan yang buruk dalam kawasan Cagar Alam Mutis sampai ke Desa Nenas di kaki Gunung Mutis.

Simon Sasi yang sudah 15 tahun menjadi Kepala Desa Nenas mengharapkan pemerintah dapat membuka mata untuk menata kembali ruas jalan dari Kapan menuju Nenas yang rusak parah dan tinggal kepingan-kepingan batu yang berhamburan di atasnya.

"Ini harapan kami yang paling utama dan hakiki...Jika jalan sudah baik, lalu lintas kendaraan ke wilayah ini akan bertambah ramai dan masyarakat kami dapat memasarkan hasil pertaniannya dengan baik agar tidak lagi merintih di lembah yang subur ini," ujarnya.

Sumber :
ANT