Cerber Benny Benke
Gila. Sindiran Gavin membuat Luka yang hampir kuasa mengatasi dirinya, makin tajam menombakkan pandang ke arah ‘’musuh besarnya’’ yang sekarang memang benar-benar jelma tepat di depan ke dua biji matanya. Paras Luka menegang. Gavin hanya sekitar satu lengan di depannya. Dan yang lebih membuat Luka tersentak kaget, pilihan kata yang diucapkan Gavin nyaris persis dengan dialog cerpen Arok yang dibuatnya, beberapa tahun lalu. Yang salah satunya diberikan padaku. Yang almarhum Bianca juga sempat membacanya.
Pada saat ini, waitres sedang membereskan pecahan kaca. Mengetahui keberadaan orang lain di luar mereka berdua, Gavin belajar berlaku sok gentleman kepada waitres.
‘’Maaf. Saya yang menjatuhkan, dan saya akan menggantinya.’’ Waitres hanya memulas senyum. Kemudian, Gavin meneruskan pembicaraannya kepada Luka.
‘’Aku memang menjalin hubungan yang istimewa. Bahkan sangat istimewa dengan istrimu. Itu semua aku lakukan, atau kami lakukan bukan tanpa sebuah alasan. Aku bahagia bersama istrimu, dan aku rasa demikian pula dengan istrimu. Kalau kebahagian itu adalah sebuah kesalahan fatal di matamu. Maafkan aku. Buatku itu bukan sebuah kesalahan, melainkan ke-be-nar-an,’’ ujar Gavin yang mulai memberanikan diri mengganti kata ganti orang pertama Anda menjadi mu.
‘’Tidak bisakah kau mencari kebenaran dan kebahagiaan dengan perempuan lain yang belum mempunyai seorang suami!?’’ balas Luka dengan cepat, secepat syakwasangka purba dilesakkan.
‘’Aku tidak tahu. Semua terjadi dengan alami saja. Maafkan aku jika terlalu dalam mengusik kehormatanmu sebagai seorang suami. Tapi, sebagai seorang laki-laki, aku merasa tidak ada yang keliru dengan apa yang aku rasakan dengan istrimu.’’
‘’Apa yang akan kau lakukan jika pada saatnya istriku. Atau perempuan yang kau anggap dapat membahagiakanmu ini, diam-diam, sebagaimana yang telah ia lakukan padaku, suaminya sendiri, menjalin hubungan dengan laki-laki lain dibelakangmu?’’
‘’Pertanyaan itu tidak akan pernah pantas kau tujukan padaku. Seharusnya kau tanyakan pada dirimu sendiri. Karena hal yang demikian tidak akan pernah terjadi padaku.’’
‘’Kau tidak akan pernah bisa menebak apa yang akan dibawa masa depan kepadamu’’.
‘’Seharusnya kau berkaca pada dirimu sendiri, mengapa pada akhirnya istrimu memalingkan hati ke orang lain, yang kebetulan itu aku’’.
‘’Kau sedang berhadapan dengan laki-laki di atas rata-rata. Dan perempuan yang mencoba, dan telah mengkhianati hatiku ini lebih tidak terduga. Di atas itu semua, ia tidak akan pernah dapat kau baca dengan berbagai macam cara akal pintar dan sehatmu bekerja’’.
‘’Apa yang kau inginkan dari perbincangan ini. Sebuah peringatan berbentuk ancaman?’’
Luka menggelengkan kepala dengan pelan, ‘’Aku memang telah terlanjur dalam, dan sakit hati dengan istriku. Aku pun…, entahlah,’’ untuk kali keempat Luka menarik nafas panjang lagi. ‘‘Tiba-tiba atau terkadang…, sudah tidak berniat lagi mempertahankan, apalagi mengemiskan perasaan ini.
‘’Aku mungkin akan membiarkan dia pergi dengan laki-laki mana pun. Yang sekiranya ia klaim mampu membuat hidupnya lebih bermakna. Tapi, di saat yang bersamaan, aku sendiri tidak tahu mengapa ingin menumpahkan kemarahan ke arahmu?’’
‘’Maaf,’’ jawab Gavin mewakilkan kebingungannya, ‘’Di awal perbincangan, kau menghendaki aku menyudahi hubunganku dengan istrimu. Sekarang…..?’’ Gavin hanya mengangkat kedua pundaknya, tanda ketidaktahuan. ‘’Semudah itukah?’’
‘’Aku nggak ngerti. Mungkin aku sudah terlalu nggak ngerti lagi dengan apa yang telah istriku lakukan padaku. Dan payahnya, mungkin aku bahkan sudah nggak berminat lagi. Mungkin…, kehadiranku baginya, atau kehadirannya buatku, mungkin…, sama-sama telah menciptakan sebuah prahara.’’
‘’Bahkan sebelum aku ada bukan?’’
‘’Aku tidak peduli lagi….’’
‘’Kalau kau anggap kemarahanmu dapat memperbaiki keadaan. Dan dengan demikian kau menjadi lega karenanya…,aku siap menerima, dan melayaninya. Aku pun mungkin akan melakukan hal yang sama sepertimu, atau bahkan lebih gila dan tidak terkendali, manakala mengetahui perempuan yang aku sayangi telah memalingkan perasaannya ke orang lain.’’
‘’Apa yang akan kau lakukan jika itu benar-benar terjadi padamu…’’
‘’Aku tidak mempunyai keberanian untuk menjawabnya, meski sekedar mengandaikannya sekalipun’’.
‘’Jika akhirnya memang benar-benar terjadi padamu. Dengan alasan yang sangat sehat, dan paling masuk akal sekali pun?’’
‘’Yang tidak mencicipi tidak merasakan.’’
‘’Jika keadaan memaksamu untuk mencicipinya?’’
‘’Itu tidak akan pernah terjadi padaku. Karena aku memperlakukan perempuan bahkan lebih baik dari caraku memperlakukan diriku sendiri.’’
‘’Kau naïf.’’
‘’Nyatanya istrimu berbahagia denganku.’’

